Lasem dalam Kemeriahan Rupa-rupa Pigura

0
108
Museum Nyah Lasem
Museum Nyah Lasem – Image: Dok. Pribadi

Berbeda saat melihat pigura Museum Nyah Lasem. Bangunan museum ini cukup luas, sebelah kiri ada guest house, belakang terdapat ruang-ruang yang tak terpakai, dan sebelah kanan berdirilah Museum Nyah Lasem. A. Soesantio, pria kelahiran tahun 1941, senang mengoleksi barang-barang yang memiliki cerita bernilai historis. Tidak heran, ia mewujudkan impiannya di atas bangunan warisan keluarga dengan mendirikan Museum Nyah Lasem. Koleksi Museum Nyah Lasem tidak saja benda-benda peninggalan dari keluarga dan pribadi, tapi juga dari pemberian keluarga bus Indonesia, pabrik tegel di Lasem dan barang-barang yang ia minta kepada kerabat.

Sangat menarik melihat koleksi-koleksi beliau, dari alat perhitungan zaman dulu, kain batik kuno, cap motif batik, peralatan membatik, gamelan, peralatan masak, mesin jahit, timbangan, surat-surat korespondensi zaman Jepang, majalah, foto-foto, tiket bus, sampai batu-batu bongkaran.

Museum Nyah Lasem – Image: Dok. Pribadi

Belum lagi, ada pintu khas zaman dulu dan ruang penyimpanan yang berada di atas ruang kamar Museum Nyah Lasem. Kedua ciri khas ini saya juga lihat di rumah Nyah Kiok, rumah Ibu Frida, rumah Opa, dan Rumah Merah.

Terus terang saya sangat terkesan dengan Museum Nyah Lasem. Untuk menjadi cantik, ia tidak perlu alis sulam, perona bibir warna-warni, operasi hidung, bahkan mengubah kulitnya dengan muncratan cat teknologi masa kini. Bangunan dan benda-benda, semua dibiarkan apa adanya. Justru inilah daya pikat kecantikan Museum Nyah Lasem. Jika ingin tahu mengapa dinamakan Nyah Lasem, datang saja ke Lasem. Pasti wawasan kamu bertambah meriah!

Museum Nyah Lasem - Image: sarinovita.com
Museum Nyah Lasem – Image” Dok. Pribadi

Pada hari terakhir, saya mengunjungi perahu kuno, pantai Karang Jahe, dan tambak garam di Rembang. “Wow,” langsung keluar dari mulut saat pertama kali melihat Perahu Nusantara itu.

Situs Perahu Kuno Punjulharjo ditemukan oleh warga Desa Punjulharjo, Rembang, yang sedang menggali tanah untuk tambak garam, pada bulan Juli 2008. Berdasarkan penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta, perahu kuno tersebut berasal dari sekitar abad ke-7 – 8 dan perahu kuno paling lengkap yang ditemukan se-Asia Tenggara.

Perahu Kuno< Perahu Nusantara, Rembang – Image: Dok. Pribadi

Disebut juga perahu Nusantara sebab badan perahu mengunakan kayu ulin dan nyatoh, kayu yang hanya tumbuh di Indonesia (Nusantara). Selain perahu ditemukan juga arca (batu), tongkat komando, tembikar, kapak, dan benda-benda kuno lain. Pengunjung bisa membaca lebih detil tentang penemuan dan konservasi kelanjutan Perahu Nusantara di papan-papan yang terletak di samping atas perahu kuno.

Tidak jauh dari situ, tambak garam beserta gudang garam dan penambak, muncul bersama dengan senja. Bagi saya, senja saat itu senja paling lama yang saya rasakan. Dari tambak garam, saya dan Mas Pop bergerak menuju Pantai Karang Jahe. Di perjalanan, senja timbul begitu besar, oranye dan cantik bahagia. Sampai di Pantai Karang Jahe, senja masih memukau. Kemudian tenggelam tanpa malu-malu.

Tambak Garam Rembang - IMage: sarinovita.com
Tambak Garam Rembang – Image: Dok. Pribadi

Perjalanan di Lasem ditutup pigura Rembang yang sekejap, namun bertahan indah dalam ingatan. Maka ketika seseorang bertanya lagi, “Apakah perjalanan kamu di Lasem menyenangkan?” Saya jawab untuk kesekian kali, “Sangat menyenangkan.”

Lasem dipenuhi kenangan setiap sudut, jalan, bangunan, benda, aroma, debu, warung makanan, percakapan dan manusianya. Kenangan, ada yang terpelihara secara baik, ada pula yang terbengkalai. Sama halnya dengan ingatan, beberapa beku di lemari es, beberapa lainnya masih  sesegar biji kopi berwarnah merah.

Suatu hari nanti, ingatan itu akan kembal, timbul untuk memeriahkan hidup secara  tak terduga.

Di Depan Rumah Nyah Kiok, Lasem

 

Catatan perjalanan ini juga mengambil sumber dari:

Mengenai arti motif Gunung Ringgit Pring bisa dibaca https://nationalgeographic.grid.id/read/131666622/nyah-kiok-dan-tujuh-bidadari-lasem-kisah-batik-tiga-negeri-pantura?page=2