Lasem dalam Kemeriahan Rupa-rupa Pigura

Ketika ditanya, “Apakah perjalanan kamu di Lasem menyenangkan?” Bagaimana tidak menyenangkan, perjalanan kali ini seperti perjalanan waktu yang meloncat dari abad ke abad. Sebelum menuju Lasem, saya berwisata candi, dari Candi Borobudur, Pawon, Mendut, Plaosan, Ijo, Cetho sampai Candi Sukuh. Tahu sendiri, kan, usia candi-candi tersebut. Saat menghirup udara Lasem, berpindahlah saya pada abad yang berbeda.

Perjalanan awal September kemarin, berarti saya telah 3 kali mengunjungi Lasem. Pertama, sewaktu SD bersama Papa dan adik saya. Kedua, shooting film Ca Bau Kan, sekitar 18 tahun lalu. Meski berdestinasi sama, setiap perjalanan memiliki cerita dan kesan yang berbeda.

Delapan belas ataupun 30 tahun lalu, tidak begitu berbeda dengan Lasem sekarang. Hanya saja, dulu belum ada tempat penginapan, saat ini Lasem punya Rumah Merah, Rumah Oei, Rumah Ijo, dan Boutique Hotel Lasem. Delapan belas tahun lalu, Rumah Merah tidak luas seperti sekarang ini. Sedangkan tiga puluh tahun lalu, saya belum paham Rumah Merah, Kelenteng Cu An Kiong, Lawang Ombo, dan lainnya. Saya hanya senang bisa berziarah ke makam Sunan Bonang. Entah, apakah itu makan Sunan Bonang yang sebenarnya atau tidak. Yang terpenting bagi saya waktu itu adalah perkenalanan kisah Sunang Bonang, sang Wali yang menyebarkan agama melalui seni budaya.

Lawang Ombo, Lasem
Lawang Ombo – Image: IG @heritagepop

Destinasi pertama yang akan saya ceritakan ialah Lawang Ombo. Saya pernah ditunjukkan sebuah lubang di suatu ruang oleh seorang pria Tionghoa berkaos putih tipis dan mengenakan celana ¾ (juga berwarna putih). Dia bercerita banyak tentang lubang dan ruang-ruang lain – ada satu foto yang dia ceritakan juga. Setiap pertanyaan saya yang menggunakan Bahasa, selalu dijawab dengan bahasa Tionghoa. Itulah yang saya sayangkan dengan pertemuan tak terduga di Lowong Ombo saat itu … haha.

Lowong Ombo adalah bangunan bekas gudang candu—Lasem pernah menjadi poros candu sebelum masa 1930-an di Nusantara. Penyimpanan, perdagangan, dan penggunaan candu merupakan cerita menarik yang berkaitan dengan sejarah, budaya, dan genetik. Lowong Ombo merupakan salah satu jejak warisan yang tak terbantahkan.

Menghisap candu – Image: Historia.id

“Mengisap candu adalah warisan budaya leluhur Nusantara,” seorang ahli kejiwaan menuliskan dalam buku yang saya lupa judulnya. Dia tidak salah, sebab salah satu faktor adiksi adalah faktor genetik yang didukung faktor lingkungan dan lainnya. Kegilaan mengisap opium terjadi pada era kolonial, antara sekitar tahun 1700 – 1800-an. Sebelum itu raja-raja maupun para bangsawan telah mengonsumsi candu. Kedatangan Belanda menyebabkan terjadinya penyebaran penyalahgunaan semakin meluas – merambah pada masyarakat golongan bawah.

Petani, buruh dan semacamnya menggunakan candu seharga 0.5 sen setiap kali pakai. Cairan opium dioleskan pada kertas tembakau sehingga menghasilkan sensasi mabuk alias giting (getting high). Cara penggunaan ini berkaitan dengan ampas Kopi Lelet, yang kemudian diukir (membatik) di atas kertas rokok. Masyarakat Lasem sejak masa riuhnya candu sampai masa sekarang, menyebutnya ngelelet (berasal dari kosakata kelelet yang berarti ampas opium). Kopi Lelet, kopi khas Lasem yang digemari masyarakat lokal dan wisatawan.

NGelelet
Ngelelet – Image: Cafekopilelet.com

Tidak semua kopi bisa digunakan untuk ngelelet. Kecuali kopi yang telah digiling sebanyak 6 – 7 kali. Biji kopi Lelet bukan berasal dari perkebunan yang berada di Lasem, rata-rata didatangkan dari Lampung. Cara pengolahan biji kopilah yang membedakan cita rasa Kopi Lelet dengan kopi Nusantara lainnya.

Mengisap candu memang warisan budaya Nusantara yang buruk, aktifitas ngelelet pun diambil dari kebiasaan cara penggunaan candu. Namun, ngelelet pada kertas rokok yang kemudian menjadi ukiran batik, merupakan budaya yang positif, tentu muncul bersamaan saat batik hadir di Lasem. Sedangkan siapa atau berasal dari manakah cara penggilingan 6-7 kali yang membuat kopi Lelet bertekstur sangat halus? Bisa saja dari seorang penggemar kopi di sebelah rumah nenek moyang kamu. Karena melihat hasil penggilingan dan cita rasa yang nikmat, cara ini menyebar dan menjadi budaya masyarakat Lasem.

Kopi Lelet
Kopi Lelet Lasem, Cafe Adiksi – Image: dok. pribadi

‘Pigura’ Kopi Lelet, tentu saja terkait dengan Batik Lasem dan pengrajinnya. Batik Lasem diperkirakan muncul sekitar tahun 1479 M – saat itu candu sudah ada. Namun, sekitar tahun 1860-an penjualan candu mulai menurun sehingga masyarakat mengubah bisnis menjadi batik.

Batik Lasem identik dengan warna merah mencolok yang sangat dikenal se-Indonesia. Warna merah berasal dari warna darah ayam atau bubuk pewarna yang digunakan Na Li Ni, istri dari anak buah Cheng Ho – yang pertama kali memperkenalkan batik di Lasem.

Sari Novita
Sari Novita, penulis dan blogger kelahiran Jakarta. Memiliki latar belakang profesi di bidang Finance, Sari juga meminati dunia kepenulisan sejak 2010. Tema yang diangkatnya antara lain travel, kuliner, seni dan budaya serta isu-isu perempuan.

Popular Post