Lasem dalam Rupa-rupa Pigura

Ketika ditanya, “Apakah perjalanan kamu di Lasem menyenangkan?” Bagaimana tidak menyenangkan, perjalanan kali ini seperti perjalanan waktu yang meloncat dari abad ke abad. Sebelum menuju Lasem, saya berwisata candi, dari Candi Borobudur, Pawon, Mendut, Plaosan, Ijo, Cetho sampai Candi Sukuh. Tahu sendiri, kan, usia candi-candi tersebut. Saat menghirup udara Lasem, berpindahlah saya pada abad yang berbeda.

Perjalanan awal September kemarin, berarti saya telah 3 kali mengunjungi Lasem. Pertama, sewaktu SD bersama Papa dan adik saya. Kedua, shooting film Ca Bau Kan, sekitar 18 tahun lalu. Meski berdestinasi sama, setiap perjalanan memiliki cerita dan kesan yang berbeda.

Delapan belas ataupun 30 tahun lalu, tidak begitu berbeda dengan Lasem sekarang. Hanya saja, dulu belum ada tempat penginapan, saat ini Lasem punya Rumah Merah, Rumah Oei, Rumah Ijo, dan Boutique Hotel Lasem. Delapan belas tahun lalu, Rumah Merah tidak luas seperti sekarang ini. Sedangkan tiga puluh tahun lalu, saya belum paham Rumah Merah, Kelenteng Cu An Kiong, Lawang Ombo, dan lainnya. Saya hanya senang bisa berziarah ke makam Sunan Bonang.

Lawang Ombo, Lasem
Lawang Ombo – Image: IG @heritagepop

Namun masa-masa satu bulan bersama crew di Lasem delapan belas tahun lalu, masih menempel di memori. Dulu, Lawang Ombo belum menjadi destinasi wisata. Di rumah ini terdapat sarang burung walet dan ruang-ruang lowong. Waktu itu, kami tempatkan genset dan kabel-kabel peralatan shooting di Lowong Ombo. Ketika kemarin melewati Lowong Ombo, saya hanya menatapnya dalam diam.

Saya pernah ditunjukkan sebuah lubang di suatu ruang oleh seorang pria Tionghoa berkaos putih tipis dan mengenakan celana ¾ (juga berwarna putih). Dia bercerita banyak tentang lubang dan ruang-ruang lain – ada satu foto yang dia ceritakan juga. Setiap pertanyaan saya yang menggunakan Bahasa, selalu dijawab dengan bahasa Tionghoa. Itulah yang saya sayangkan dengan pertemuan tak terduga di Lowong Ombo saat itu … haha.

Lowong Ombo adalah bangunan bekas gudang candu—Lasem pernah menjadi poros candu sebelum masa 1930-an di Nusantara. Penyimpanan, perdagangan, dan penggunaan candu merupakan cerita menarik yang berkaitan dengan sejarah, budaya, dan genetik. Lowong Ombo merupakan salah satu jejak warisan yang tak terbantahkan.

Menghisap candu – Image: Historia.id

“Mengisap candu adalah warisan budaya leluhur Nusantara,” seorang ahli kejiwaan menuliskan dalam buku yang saya lupa judulnya. Dia tidak salah, sebab salah satu faktor adiksi adalah faktor genetik yang didukung faktor lingkungan. Kegilaan mengisap opium terjadi pada era kolonial, antara sekitar tahun 1700 – 1800-an. Sebelum itu raja-raja maupun para bangsawan telah mengonsumsi candu. Kedatangan Belanda menyebabkan terjadinya penyebaran penyalahgunaan semakin meluas – merambah pada masyarakat golongan bawah.

Petani, buruh dan semacamnya menggunakan candu seharga 0.5 sen setiap kali pakai. Cairan opium dioleskan pada kertas tembakau sehingga menghasilkan sensasi mabuk alias giting (getting high). Cara penggunaan ini berkaitan dengan ampas Kopi Lelet, yang kemudian diukir (membatik) di atas kertas rokok. Masyarakat Lasem sejak masa riuhnya candu sampai masa sekarang, menyebutnya ngelelet (berasal dari kosakata kelelet yang berarti ampas opium). Kopi Lelet, kopi khas Lasem yang digemari masyarakat lokal dan wisatawan.

NGelelet
Ngelelet – Image: Cafekopilelet.com

Tidak semua kopi bisa digunakan untuk ngelelet. Kecuali kopi yang telah digiling sebanyak 6 – 7 kali. Biji kopi Lelet bukan berasal dari perkebunan yang berada di Lasem, rata-rata didatangkan dari Lampung. Cara pengolahan biji kopilah yang membedakan cita rasa Kopi Lelet dengan kopi Nusantara lainnya.

Mengisap candu memang warisan budaya Nusantara yang buruk, aktifitas ngelelet pun diambil dari kebiasaan cara penggunaan candu. Namun, ngelelet pada kertas rokok yang kemudian menjadi ukiran batik, merupakan budaya yang positif, tentu muncul bersamaan saat batik hadir di Lasem. Sedangkan siapa atau berasal dari manakah cara penggilingan 6-7 kali yang membuat kopi Lelet bertekstur sangat halus? Bisa saja dari seorang penggemar kopi di sebelah rumah nenek moyang kamu. Karena melihat hasil penggilingan dan cita rasa yang nikmat, cara ini menyebar dan menjadi budaya masyarakat Lasem.

Kopi Lelet
Kopi Lelet Lasem, Cafe Adiksi – Image: dok. pribadi

‘Pigura’ Kopi Lelet, tentu saja terkait dengan Batik Lasem dan pengrajinnya. Batik Lasem diperkirakan muncul sekitar tahun 1479 M – saat itu candu sudah ada. Namun, sekitar tahun 1860-an penjualan candu mulai menurun sehingga masyarakat mengubah bisnis menjadi batik.

Batik Lasem identik dengan warna merah mencolok yang sangat dikenal se-Indonesia. Warna merah berasal dari warna darah ayam atau bubuk pewarna yang digunakan Na Li Ni, istri dari anak buah Cheng Ho – yang pertama kali memperkenalkan batik di Lasem.

Motif Gunung Ringgit Pring Es Teh, Batik Nyah Kiok, Lasem
Motif Gunung Ringgit Pring Es Teh, Batik Nyah Kiok, Lasem

Pada sisi lain dari ‘pigura’ Lasem, yakni 8 pengrajin batik di Rumah Batik Nyah Kiok. Ketenangan, ketelitian, konsentrasi, kecepatan, dan kesabaran (5K-istilah saya) memancar kuat dari tubuh mereka. Meski penuh konsentrasi dan lainnya, sikap mereka tetap santai.

Mbah Suti, Pembatik Batik Nyah Kiok Lasem
Mbah Suti, Pembatik Batik Nyah Kiok Lasem – Image: Dok. Pribadi

“Mengapa memilih membatik daripada berjualan makanan?”, dengan kompak 8 wanita pembatik itu menjawab,”bikin tenang, Mbak.”

“Kalau jualan makanan, ada modal, harus mikir belanja dan buka-tutup warung setiap hari. Membatik tidak banyak pikiran dan setiap sore langsung dapat duit.”

Tahukah berapa upah untuk membatik dari pagi pukul 07.30 sampai sore pukul 04.00? Setiap pembatik hanya menerima sebesar Rp.30.000,- per hari. Dan rata-rata mereka adalah janda. Angka tersebut memang tidak besar, tapi mereka bisa membiayai keperluan rumah tangga dan anak-anak bersekolah.

Delapan wanita pembatik Nyah Kiok Lasem telah mampu membatik sejak kecil. Bahkan ada yang telah bekerja selama 50 tahun lebih, yakni Mbah Suti. Orang tua Mbah Suti juga pembatik, pulang sekolah Mbah Suti membatik untuk membantu keuangan keluarga. Biasa, Mbah Suti meneruskan pekerjaan Ibunya yang belum selesai. Saat senggang, Mbah Suti mencuri waktu untuk belajar pelajaran sekolah. Profesi pembatik merupakan profesi turun-menurun, anak dan cucu Mbah Suti pun berprofesi sama, hanya berbeda tempat membatik.

Batik Nyah Kiok Lasem hanya punya satu pola “Ringgit Pring Sedapur” sejak kemunculannya mengisi ragam motif batik di Lasem. Berarti Mbah Suti telah membatik corak yang sama selama 50 tahun. Motif Ringgit Pring Sedapur dilestarikan oleh Nyah Kiok yang meninggal dunia pada tahun 2008, kemudian usaha batik diteruskan oleh keponakan, kemudian anaknya.

Sedangkan pring sendiri berarti dedaunan pohon bambu dan sedapur berarti halaman belakang rumah. Delapan pembatik Batik Nyah Kiok memang tidak mengerti makna dari motif Gunung Ringgit Pring Sedapur, namun keseluruhan proses pengerjaan dari mengambar sampai menjadi kain batik siap jual, dilakukan sepenuhnya oleh 8 pembatik Nyah Kiok. Biasa di tempat lain, proses pembuatan batik dilakukan oleh beberapa orang, tapi tidak di Batik Nyah Lasem, hal ini menambah keunikannya.

Melihat mereka membatik motif yang sama bertahun-tahun, mengerjakan semua sendiri, dan berbagi makanan di sela-sela mencanting, 5K versi saya bertambah menjadi 9K, penambahannya: Kesetiaan, Ketekunan, Ketulusan, dan Kebersamaan. Hebat, kan, delapan pembatik Nyah Kiok tersebut? Di antara dinamika aneka kehidupan yang meriah, saya menemukan suatu yang berbeda, yaitu kedamaian yang lebih riuh dari meriah.

Kelenteng Cu An Kiong Lasem
Kelenteng Cu An Kiong Lasem – Imagae: Dok. Pribadi

Meriah juga saya temukan di Kelenteng Cu An Kiong, Rumah Oei, dan Museum Nyah Lasem. Meriah dengan pengertian yang lain. Semua orang tahu bahwa kelenteng identik dengan ragam ornamen dan warna merah. Sama halnya dengan Kelenteng Cu An Kiong. Yang membedakan dengan kelenteng lain adalah …

Letak bangunan mengikuti beberapa mata angin yang sesuai dengan feng shui. Di depan kelenteng (barat) terdapat sungai Lasem yang dulunya merupakan tempat bersandar kapal-kapal. Sebelah utara, terdapat laut dan sebelah selatan adalah hutan jati (dahulu). Bagian timur (belakang kelenteng) berdirilah pegunungan Lasem. Sedangkan pusat kota (pada abad ke-15) berada di tenggara kelenteng – saat itu terdapat alun-alun, Mesjid, dan Kadipaten Lasem.

Sebelum kelenteng didirikan, karena pusat kota yang mulai ramai, masyarakat Tionghoa yang berada di desa-desa pinggir pantai, membuat pemukiman di sekitar wilayah kelenteng. Selanjutnya, mereka membangun kelenteng berdasarkan feng shui, bertujuan untuk menciptakan harmoni. Kelenteng Cu An Kiong telah mengalami dua kali renovasi, yaitu pada tahun 1838 dan 1900.

Kelenteng Cu An Kiong Lasem – Image: Dok. Pribadi

Di dalam kelenteng, saya berjumpa Dewa Laut, Dewa Bumi, dan Dewa Pelindung Kota yang terletak di altar utama kelenteng. Tentu saja keberadaan ketiga dewa punya hubungan dengan utara, barat, selatan, timur, dan tenggara letak kelenteng.

Ada kisah di balik Dewa Laut yang menjadi altar utama. Tatkala orang-orang Tionghoa sampai di Jawa, mereka merasa dilindungi, selamat dari kondisi laut yang kadang tenang, kadang diterpa badai yang ganas.

Dewa Bumi menandakan alam yang memberikan makanan dan minuman kepada mereka. Dewa Pelindung Kota, dipilih karena harapan terciptanya keharmonisan antar masyarakat. Memunjukkan, mereka telah memahami tata dan kelola kota, dan berpikir keberlanjutan sampai jangka waktu yang panjang.

Selain altar utama, terpampang Creation of Gods berjumlah 44 gambar di sisi kanan dan 44 di sisi kiri dinding dalam kelenteng. Creation of Gods berasal dari novel berisi 100 bab yang dibuat pada abad ke-16 (era dinasti Ming). Novel ini sangat terkenal di Tiongkok maupun masyarakat etnis Tionghoa dari negara-negara, seperti Hongkong, Taiwan, dan lainnya. Pun, Creation of Gods banyak disadur oleh penulis Tionghoa luar, termasuk penulis peranakan Tionghoa – Indonesia dengan judul Penganugerahan Malaikat, berbahasa Melayu dan Belanda.

Kelenteng Cu An Kiong Lasem – Image: Dok. Pribadi

Salah satu cerita Creation of Gods mengisahkan seorang raja bernama King Zhou yang menjadi lalim. Suatu hari ia masuk ke dalam kelenteng dan melihat sosok Dewi Nuwa, lalu jatuh cinta. Ia mengekspresikan cintanya melalui puisi erotik yang ia goreskan di dinding kelenteng. Mengetahui hal ini, Dewi Nuwa sangat marah dan mengutus siluman rubah untuk masuk ke tubuh seorang perempuan yang akan menjadi permaisuri.

Permaisuri inilah yang memicu King Zhou menyiksa dayang-dayang dengan merantai kemudian membakar mereka ke dalam lubang ular. Penyiksaan terus terjadi dan membuat rakyat bergerak untuk melawan. Melihat itu, langit mengutus pahlawan-pahlawan untuk membantu perlawanan rakyat. Kisah ini divisualisasikan, menjadi 44 gambar di sisi kanan kelenteng (jika sisi dilihat dari pintu masuk depan kelenteng).

Cerita gambar visual novel Creation of Gods, saya peroleh dari teman saya, Mas Pop, local host Lasem. Dia juga bercerita tentang motif megamendung yang selalu ada di kelenteng-kelenteng Lasem maupun di gerbang dan beranda depan rumah masyarakat Tionghoa di Lasem. Dalam Taoisme, megamendung menggambarkan awan yang berarti dunia atas.

Kelenteng Cu An Kiong Lasem
Kelenteng Cu An Kiong Lasem – Image: Dok. Pribadi

Kelenteng Cu An Kiong juga memampang nama-nama donatur beserta jumlah uang yang mereka untuk renovasi kelenteng. Setiap motif, tulisan, patung ataupun benda-benda di Kelenteng Cu An Kiong punya cerita masing-masing. Barangkali bisa satu hari atau lebih untuk mendengarkan isi kisah Kelenteng Cu An Kiong.

Lalu, saya jadi mengingat benda, angka, hewan, angin, manusia, peristiwa, dan apa saja yang dilihat, dihirup, dikunyah, didengar, dan bersama siapa suatu peristiwa terjadi, semuanya memiliki cerita masing-masing. Manusia senang dengan cerita, namun tidak semua bisa memelihara cerita dengan baik. Sebab suatu cerita akan menjadi kenangan.

Kosakata kenangan terasa kuat dimiliki kota Lasem. Lihat saja rumah-rumah di Lasem yang masih membiarkan arsitektur tempo dulu, bahkan barang-barang peninggalan keluarga yang sudah almarhum secara turun-menurun. Ada yang menyimpannya dengan bersih, dan ada pula dengan debu yang tebal, malah sampai berwarna hitam.

Rumah Ibu Frida Lasem – IMage: Dok. Pribadi

Foto-foto keluarga yang telah tiada tetap terpampang di rumah-rumah warga Tionghoa Lasem, namun tidak semua mampu merawat benda-benda dan kebersihan rumah dengan baik. Sempat terlintas, menyebut mereka dengan istilah penyimpan kenangan, tapi bukan pemelihara kenangan. Lagi pula, buat apa memelihara kenangan, jika itu merupakan kenangan yang perih, bagaimana jika itu kenangan indah?

Namun, bila diamati kembali, apakah benar mereka hanya penyimpan kenangan yang baik saja? Foto-foto keluarga dibiarkan di dinding rumah agar anggota keluarga yang masih hidup bisa merasakan kehadiran, mengingat mereka. Dan pada waktu tertentu, mereka bersujud di depan altar yang ada di rumah, untuk mendoakan leluhur dan keluarga yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia.

Budaya tersebut masih dilakukan masyarakat Tionghoa kebanyakan. Bagaimana dengan saya yang beragama Islam? Banyak ayat dalam Al Qur’an yang bertutur agar selalu mendoakan leluhur. Tapi, untuk mendoakan leluhur saja, saya baru sadar ketika ada yang mengingatkan. Sementara tidak banyak orang yang mengingatkan tentang leluhur kepada saya.

Rumah Oei Lasem
Foto Keluarga di Rumah Oei, Lasem – Image: Dok. Pribadi

Satu hal lain yang mengusik benak, banyak anggota keluarga yang muda di Lasem, justru pindah ke kota-kota besar. Pula, tidak sedikit orang-orang tua yang tinggal sendiri, paling hanya ditemani assisten rumah tangga yang setia. Bahkan ada yang tidak punya anak, tinggal di rumah sendiri, dan hanya ditemani ipar (yang pasangannya telah tiada). Ada juga rumah besar yang hanya ditempati oleh assiten rumah tangga dan penjaga, tanpa tuan rumahnya.

Dan yang miris, yakni Rumah Tegel LZ, didirikan oleh seorang kapitan bernama Lie Thiam Kwie, tahun 1910. Dahulu, hampir semua lantai di rumah-rumah Lasem dibuat dari Pabrik Tegel LZ. Produksi Pabrik Tegel LZ (mengunakan mesin Leipzig, Jerman), menyebar sampai ke kota Rembang, Semarang, Juwana, Kudus, Surabaya, dan kota lain.

Rumah Tegel Lie Thiam Kwie, Lasem – Image: dok. pribadi

Pabrik Tegel LZ terletak di belakang rumah Lie Thiam Kwie yang saya perkirakan seluas 1000 meter lebih. Arsitektur dan ornamen rumah cukup lekat dengan gaya Eropa. Benda-benda masih terawat, ada pula yang dibiarkan berdebu tebal. Kumpulan contoh-contoh tegel masih terpancang rapi. Walakin, membuka pintu pabrik tegel, mata saya terbelalak melihat mesin-mesin tua yang keren. Sayang, dari delapan mesin, cuma satu yang masih berfungsi – untuk mencetak motif saja, tidak lagi bisa beragam seperti dahulu – tidak ada pula pekerja-pekerja yang membuat tegel. Hampir semua ditelan masa. Pabrik Tegel LZ akan berfungsi kembali jika ada investor yang membangkitkan kembali produktivitasnya.

Menjadi tua atau kuno, bukan berarti harus dibiarkan ‘sendiri’. Zaman selalu berganti. Manusia yang hidup akan mati. Orang bisa saja lupa ingatan, tapi kenangan tidak pernah benar-benar mati. Sebab kenangan adalah sejarah.

Pabrik Tegel LZ, Lasem
Pabrik Tegel LZ, Lasem – Image: Dok. Pribadi

Untuk melawan lupa, suatu cerita butuh nafas, lantas diperpanjang pada nafas-nafas berikutnya. Rumah Merah bisa jadi contoh penyimpan dan pemelihara kenangan yang baik. Namun, melihat renovasi dan perluasan yang dilakukan Si Pemilik Rumah yang baru, saya mengistilahkan Rumah Merah sebagai Si Inovasi Kenangan.

Sayang, saya tidak merasakan ‘kenangan’ yang kuat di Rumah Merah. Meski di belakang rumah terdapat dua kamar berisi ranjang antik, pakaian dan perlengkapan masak pemilik rumah yang sebelumnya. Pada bagian tengah rumah, ada lorong yang menampilkan berbagai batik tiga negeri yang terkenal di Lasem. Pun, rumah utama masih bangunan asli.

Saya masih saja merasa ganjil dengan Rumah Merah. Malah saya menambahkan kata-kata untuk Rumah Merah: Si Inovasi Kenangan yang sebentar lagi bisa menghancurkan kenangannya sendiri.

Yang bikin hati saya senang adalah tiket masuk seharga Rp.20,000,- yang ternyata bisa dibelikan apa saja di mini toko Rumah Merah. Dua puluh ribu, saya dan Mas Pop bisa mendapatkan 2 minuman dan 2 es krim. Jikalau di Jakarta atau tempat lain, apa yang kita ambil bisa mencapai dua puluh ribu lebih.

Museum Nyah Lasem
Museum Nyah Lasem – Image: Dok. Pribadi

Berbeda saat melihat pigura Museum Nyah Lasem. Bangunan museum ini cukup luas, sebelah kiri ada guest house, belakang terdapat ruang-ruang yang tak terpakai, dan sebelah kanan berdirilah Museum Nyah Lasem. A. Soesantio, pria kelahiran tahun 1941, senang mengoleksi barang-barang yang memiliki cerita bernilai historis. Tidak heran, ia mewujudkan impiannya di atas bangunan warisan keluarga dengan mendirikan Museum Nyah Lasem. Koleksi Museum Nyah Lasem tidak saja benda-benda peninggalan dari keluarga dan pribadi, tapi juga dari pemberian keluarga bus Indonesia, pabrik tegel di Lasem dan yang ia minta kepada kerabat.

Sangat menarik melihat koleksi-koleksi beliau, dari alat perhitungan zaman dulu, kain batik kuno, cap motif batik, peralatan membatik, gamelan, peralatan masak, mesin jahit, timbangan, surat-surat korespondensi zaman Jepang, majalah, foto-foto, tiket bus, sampai batu-batu bongkaran.

Museum Nyah Lasem – Image: Dok. Pribadi

Belum lagi, ada pintu zaman dulu dan ruang penyimpanan yang berada di atas ruang kamar Museum Nyah Lasem. Kedua ciri khas ini saya juga lihat di rumah Nyah Kiok, rumah Ibu Frida, rumah Opa, dan Rumah Merah.

Terus terang saya sangat terkesan dengan Museum Nyah Lasem. Untuk menjadi cantik, ia tidak perlu alis sulam, perona bibir warna-warni, operasi hidung, bahkan mengubah kulitnya dengan muncratan cat teknologi masa kini. Bangunan dan benda-benda, semua dibiarkan apa adanya. Justru inilah daya pikat kecantikan Museum Nyah Lasem. Jika ingin tahu mengapa dinamakan Nyah Lasem, datang saja ke Lasem!

Museum Nyah Lasem - Image: sarinovita.com
Museum Nyah Lasem – Image” Dok. Pribadi

Pada hari terakhir, saya mengunjungi perahu kuno, pantai Karang Jahe, dan tambak garam di Rembang. “Wow,” langsung keluar dari mulut saat pertama kali melihat Perahu Nusantara itu.

Situs Perahu Kuno Punjulharjo ditemukan oleh warga Desa Punjulharjo, Rembang, yang sedang menggali tanah untuk tambak garam, pada bulan Juli 2008. Berdasarkan penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta, perahu kuno tersebut berasal dari abad ke-7 – 8 dan perahu kuno paling lengkap yang ditemukan se-Asia Tenggara.

Perahu Kuno< Perahu Nusantara, Rembang – Image: Dok. Pribadi

Disebut juga perahu Nusantara sebab badan perahu mengunakan kayu ulin dan nyatoh, kayu asli dari Indonesia (Nusantara). Selain perahu ditemukan juga arca (batu), tongkat komando, tembikar, kapak, dan benda-benda kuno lain. Pengunjung bisa membaca lebih detil tentang penemuan dan konservasi kelanjutan Perahu Nusantara di papan-papan yang terletak di samping atas perahu kuno.

Tidak jauh dari situ, tambak garam beserta gudang garam dan penambak, muncul bersama dengan senja. Bagi saya, senja saat itu senja paling lama yang saya rasakan. Dari tambak garam, saya dan Mas Pop bergerak menuju Pantai Karang Jahe. Di perjalanan, senja timbul begitu besar, oranye dan cantik. Sampai di Pantai Karang Jahe, senja masih memukau. Lalu tenggelam tanpa malu-malu.

Tambak Garam Rembang - IMage: sarinovita.com
Tambak Garam Rembang – Image: Dok. Pribadi

Perjalanan di Lasem ditutup pigura Rembang yang sekejap, namun bertahan indah dalam ingatan. Maka ketika seseorang bertanya lagi, “Apakah perjalanan kamu di Lasem menyenangkan?” Saya jawab untuk kesekian kali, “Sangat menyenangkan.”

Lasem dipenuhi kenangan setiap sudut, jalan, bangunan, benda, aroma, debu, warung makanan, percakapan dan manusianya. Kenangan, ada yang terpelihara secara baik, ada pula yang terbengkalai. Sama halnya dengan ingatan, beberapa beku di lemari es, beberapa lainnya sesegar biji kopi berwarnah merah.

Suatu hari nanti, ingatan itu akan kembali, timbul secara mencengangkan atau tak terduga.

Di Depan Rumah Nyah Kiok, Lasem

 

Catatan Perjalanan Lasem bersama Pop

Catatan perjalanan ini juga mengambil sumber dari:

Mengenai arti motif Gunung Ringgit Pring bisa dibaca https://nationalgeographic.grid.id/read/131666622/nyah-kiok-dan-tujuh-bidadari-lasem-kisah-batik-tiga-negeri-pantura?page=2

https://radarkudus.jawapos.com/read/2019/08/27/152676/wujud-balas-jasa-ortu-jadi-jujukan-pegiat-sejarah

https://nationalgeographic.grid.id/read/13307063/peringatan-hari-museum-nasional-2016-di-nyah-lasem?page=all

https://kesengsemlasem.com/museum-nyah-lasem

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/kondisi-perahu-kuno-yang-ratusan-tahun-terpendam-di-pantai-rembang/

 

Sari Novita
Sari Novita, penulis dan blogger kelahiran Jakarta. Memiliki latar belakang profesi di bidang Finance, Sari juga meminati dunia kepenulisan sejak 2010. Tema yang diangkatnya antara lain travel, kuliner, seni dan budaya serta isu-isu perempuan.

Popular Post