Lasem dalam Kemeriahan Rupa-rupa Pigura

Rumah Ibu Frida Lasem – IMage: Dok. Pribadi

Foto-foto keluarga yang telah tiada tetap terpampang di rumah-rumah warga Tionghoa Lasem, namun tidak semua mampu merawat benda-benda dan kebersihan rumah dengan baik. Sempat terlintas, menyebut mereka dengan istilah penyimpan kenangan, tapi bukan pemelihara kenangan. Lagi pula, buat apa memelihara kenangan, jika itu merupakan kenangan yang perih, bagaimana jika itu kenangan indah?

Namun, bila diamati kembali, apakah benar mereka hanya penyimpan kenangan yang baik saja? Foto-foto keluarga dibiarkan di dinding rumah agar anggota keluarga yang masih hidup bisa merasakan kehadiran dan mengingat mereka. Dan pada waktu tertentu, mereka bersujud di depan altar yang ada di rumah, untuk mendoakan leluhur dan keluarga yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia.

Budaya tersebut masih dilakukan masyarakat Tionghoa kebanyakan. Bagaimana dengan saya yang beragama Islam? Banyak ayat dalam Al Qur’an yang bertutur agar selalu mendoakan leluhur. Tapi, untuk mendoakan leluhur saja, saya baru sadar ketika ada yang mengingatkan. Sementara tidak banyak orang yang mengingatkan tentang leluhur kepada saya.

Rumah Oei Lasem
Foto Keluarga di Rumah Oei, Lasem – Image: Dok. Pribadi

Satu hal lain yang mengusik benak, banyak anggota keluarga yang muda di Lasem, justru pindah ke kota-kota besar. Pula, tidak sedikit orang-orang tua yang tinggal sendiri, paling hanya ditemani assisten rumah tangga yang setia. Bahkan ada yang tidak punya anak, tinggal di rumah sendiri, dan hanya ditemani ipar (yang pasangannya telah tiada). Ada juga rumah besar yang hanya ditempati oleh assiten rumah tangga dan penjaga, tanpa tuan rumahnya.

Dan yang miris, yakni Rumah Tegel LZ, didirikan oleh seorang kapitan bernama Lie Thiam Kwie, tahun 1910. Dahulu, hampir semua lantai di rumah-rumah Lasem dibuat dari Pabrik Tegel LZ. Produksi Pabrik Tegel LZ (mengunakan mesin Leipzig, Jerman), menyebar sampai ke kota Rembang, Semarang, Juwana, Kudus, Surabaya, dan kota lain.

Rumah Tegel Lie Thiam Kwie, Lasem – Image: dok. pribadi

Pabrik Tegel LZ terletak di belakang rumah Lie Thiam Kwie yang saya perkirakan seluas 1000 meter lebih. Arsitektur dan ornamen rumah cukup lekat dengan gaya Eropa. Benda-benda masih terawat, ada pula yang dibiarkan berdebu tebal. Kumpulan contoh-contoh tegel masih terpancang rapi. Walakin, membuka pintu pabrik tegel, mata saya terbelalak melihat mesin-mesin tua yang keren. Sayang, dari delapan mesin, cuma satu yang masih berfungsi – untuk mencetak motif saja, tidak lagi bisa beragam seperti dahulu – tidak ada pula pekerja-pekerja yang membuat tegel. Hampir semua ditelan masa. Pabrik Tegel LZ akan berfungsi kembali jika ada investor yang membangkitkan kembali produktivitasnya.

Menjadi tua atau kuno, bukan berarti harus dibiarkan ‘sendiri’. Zaman selalu berganti. Manusia yang hidup akan mati. Orang bisa saja lupa ingatan, tapi kenangan tidak pernah benar-benar mati. Sebab kenangan adalah sejarah hidup.

Pabrik Tegel LZ, Lasem
Pabrik Tegel LZ, Lasem – Image: Dok. Pribadi

Untuk melawan lupa, suatu cerita butuh nafas, lantas diperpanjang pada nafas-nafas berikutnya. Rumah Merah bisa jadi contoh penyimpan dan pemelihara kenangan yang baik. Namun, melihat renovasi dan perluasan yang dilakukan Si Pemilik Rumah yang baru, saya mengistilahkan Rumah Merah sebagai Si Inovasi Kenangan.

Sayang, saya tidak merasakan ‘kenangan’ yang kuat ataupun kemeriahan di Rumah Merah. Meski di belakang rumah terdapat dua kamar berisi ranjang antik, pakaian dan perlengkapan masak pemilik rumah yang sebelumnya. Pada bagian tengah rumah, ada lorong yang menampilkan berbagai batik tiga negeri yang terkenal di Lasem. Pun, rumah utama masih bangunan asli.

Saya masih saja merasa ganjil dengan Rumah Merah. Malah saya menambahkan kata-kata untuk Rumah Merah: Si Inovasi Kenangan yang sebentar lagi bisa menghancurkan kenangannya sendiri.

Yang bikin hati saya senang adalah tiket masuk seharga Rp.20,000,- yang ternyata bisa dibelikan apa saja di mini toko Rumah Merah. Dua puluh ribu, saya dan Mas Pop bisa mendapatkan 2 minuman dan 2 es krim. Jikalau di Jakarta atau tempat lain, apa yang kita ambil bisa mencapai dua puluh ribu lebih!

Sari Novita
Sari Novita, penulis dan blogger kelahiran Jakarta. Memiliki latar belakang profesi di bidang Finance, Sari juga meminati dunia kepenulisan sejak 2010. Tema yang diangkatnya antara lain travel, kuliner, seni dan budaya serta isu-isu perempuan.

Popular Post