Diaspora Restaurant: Menduniakan Masakan Indonesia Melalui Kekuatan Impian dan Cinta

Pertama kalinya Wonderful Indonesia mengundang 100 diaspora chef dan restoran yang berada di luar negeri, untuk mengikuti Wonderful Indonesia Gastronomy Forum pada tanggal 22 – 23 November 2018, Aryaduta Hotel, Jakarta Pusat. Apa lagi tujuannya kalau bukan untuk menduniakan masakan Indonesia.

Kuliner Indonesia sendiri telah memberikan kontribusi terhadap pengeluaran wisatawan sekitar 30 % – 40% di bidang pariwisata. Namun makanan Indonesia masih belum mempunyai posisi yang sama dengan makanan Thailand, Vietnam, Tionghoa, dan Jepang di tingkat internasional. Padahal kuliner Indonesia punya potensi besar untuk mendunia seperti makanan Italia dan negara Asia lainnya.

Presiden Republik Indonesia, Jokowi, pernah bilang bahwa diplomasi terbaik di dunia secara sosial budaya maupun ekonomi adalah melalui kuliner. Vita Datau Messakh, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata RI, membenarkan strategi tersebut sudah dibuktikan oleh beberapa negara di Asia.

Ketika orang menikmati kuliner, mereka akan bertanya dari mana makanan tersebut dan hal ini akan mengundang rasa ingin untuk mengenal lebih jauh masakan Indonesia lainnya.

Tetapi, mempromosikan kuliner Indonesia tidah semudah menjentikan jari tangan. Bisa dikatakan para pengusaha restoran dan chef yang berada di luar negeri, masih berjalan sendiri di garis front line. Tantangan yang dihadapi di setiap negara pun berbeda, terutama soal bahan dan bumbu makanan. Kencur, daun salam, dan kemiri, biasanya sulit ditemukan di luar negeri.

Dan masalah tidak seputar bumbu-bumbu masakan saja, tapi kekhawatiran pelaku kuliner terhadap selera orang asing, terutama orang putih yang tidak menyukai rasa pedas. Ditambah perihal manajemen restoran, promosi, cara presentasi makanan yang memikat, sampai dukungan pemerintah.

Soal dukungan pemerintah sempat diungkap salah satu dari 130 co-branding partners (dibentuk oleh Kemenpar), yang mendapatkan persaingan dari produk santan asal Thailand. Sebelum produk santan masuk ke pasar internasional, produk dari Indonesia banyak digunakan oleh para diaspora restaurant. Semenjak produk santan yang dijual dengan harga 50% lebih murah daripada produk santan Indonesia, otomatis konsumen berlari ke produk Thailand, yang pemerintahnya mendukung local product.  Siapa yang salah, pemerintah atau produsen Indonesia?

Wonderful Indonesia Gastronomi: Diaspora Restaurants - Image: www.sarinovita.com
Wonderful Indonesia Gastronomi: Diaspora Restaurants

Yang juga perlu dicari solusinya, mengapa wasabi dan masakan Thailand lebih diterima di luar negeri daripada kuliner Indonesia? Kita semua tahu wasabi itu pedas, makanan Thailand juga banyak rasa pedas.

Alasan-alasan di ataslah, Kemenpar adakan Wonderful Indonesia Gastronomy Forum untuk menjembatani sekaligus mencari tahu kebutuhan diaspora restoran. Setiap harinya, forum terbagi 6 sesi: We will thrive, Spices and ingredients management, Attracting and retaining specialist talents, Business matching, Investment and export finance for Indonesian restaurateur, dan Future of Indonesian restaurant in global market place.

Pada sesi pertama, Chef Agus Hermawan, Ron Gastrobar, Belanda, Chef Widjono Purnomo, Yono’s Indonesia Fine Dining, USA, Nina Hanafi, Djakarta Bali, Peranmsic, David Tjoe, Ubud, Australia, dan Alicia, Sendok Garpu, Australia, membagikan pengalaman mereka.

Menurut keenam narasumber tersebut, menjalankan usaha kuliner bukan sekadar menyajikan makanan enak, hal pertama: kita harus cinta dengan masakan kita. Cinta pun perlu dirawat secara baik. Lalu, bagaimana caranya?

Nina Hanafi bilang pelaku kuliner harus konsisten, inovatif, mengulik makanan, dan perlu adanya marketing communication untuk membantu promosi dan penjualan. Chef Agus Hermawan mengatakan, “Makanan enak harus satu paket dengan ambience restoran, hospitality, dan story behind the food. David Tjoe menambahkan, ia kerap menekankan pada stafnya bahwa restoran milik bersama, sehingga restoran dapat berkembang.

“Kita pun sesama pelaku kuliner harus berpegangan tangan dalam mempopulerkan masakan Indonesia,” lanjut David Tjoe.

 

Tempe, by Rustono Tempeh

Pengalaman Chef Agus Hermawan dan Rustono Tempeh

Secara terpisah, berbicara di luar sesi dengan Chef Agus Hermawan, Ambassador of The Indonesian Cuisine dan Rustono “The King of Tempe”. Ada hal menarik dari pembicaraan mereka yang bisa menjadi kesimpulan dari 6 rangkaian sesi dan langkah dasar menduniakan masakan Indonesia.

Menariknya lagi, profesi awal Chef Agus Hermawan ialah akuntan, sedangkan Rustono saat memulai usahanya, dia tidak tahu sama sekali cara membuat tempe. Mulanya, mereka tidak ahli, tapi sekarang mereka menjadi ahli di bidangnya.

Chef Agus Hermawan mengaku, sebelum memasak, dia harus tahu filosofi dan karakter makanannya. Seperti halnya berkenalan dengan wanita cantik, seseorang perlu melakukan penjajakan untuk dijadikan pasangannya. Baginya mengenal bahan dan bumbu masukan itu wajib, sehingga keseimbangan rasa itu ada dan pemasak jadi mampu berinovasi. Hal tersebut merupakan langkah pertama. Cinta itu datang dari proses. Tak ada koneksi, tidak ada cinta dan proses. Tidak saja terkoneksi pada makanan, melainkan hubungan dengan para tamu restoran.

Ambience yang nyaman dan menyenangkan, ditambah bercengkerama dengan tamu-tamu restoran merupakan nilai plus. Suasana restoran harus hidup! Di Ron Gastrobar, tempatnya bekerja, semua kalangan bisa datang dan mencicipi masakan Indonesia. Sebab, selain harga yang tidak mahal, rasa masakan yang otentik, dan suasana yang fun dan tidak formil membuat pengunjung datang dan datang kembali ke restorannya. Agar masakan Indonesia kental dalam ingatan foodies di Belanda, Chef Agus memberikan nama menu makanan menggunakan Bahasa Indonesia dan menyediakan sambal bar (5 macam) yang menunya diganti setiap 2 minggu sekali dan pengunjung resto bisa memakan sepuasnya.

 

“Rawon”, cooked by Chef Agus Hermawan – Photo: IG @Vanjavanderleeden

 

Memang orang Belanda banyak yang menyukai makanan pedas, perihal ini tidak menjadi tantangan di negeri Belanda. Namun, akan menjadi tantangan buat masyarakat Chicago dan lainnya yang belum terbiasa dengan rasa pedas. Untuk pengenalan memang perlu penyesuian bumbu.

Pada menu sambal Ron Gastrobar menyediakan sambal dengan rasa tingkat kepedasan yang berbeda: sedikit pedas, pedas biasa/normal, dan sangat pedas. Pun Chef Agus akan bercerita, misalnya makanan Menado itu pedas, kalau tidak pedas itu bukan masakan Menado. Telling the story itu penting.

Serupa dengan Rustono, malah selama 5 tahun mengalami penolakan saat menjual tempe. Bagi Rustono, kekuatan impian dan story adalah penting. Uniknya, pada era serba modern dan menetap di negara maju, Rustono tidak menjual produk tempenya melalui social media, melainkan door to door dan mouth to mouth.

Sebelum usaha tempenya memiliki 900 distributor di Jepang, dia mengalami penolakan yang justru meneguhkan hati dan pikirannya. Dia tidak peduli siapa pembeli tempenya, entah itu Ibu rumah tangga, anak kost, ataupun restoran besar. Juga membeli peta dan berkata, “Suatu hari tempe saya bakal dikenal di Tokyo, Hokkaido, dan kota-kota lain di Jepang. Setelah itu tempe harus mendunia!”

Rustono Tempeh,  Amanda Katilie (baju putih) , dan Lydia (baju batik)

 

Kekuatan impian yang membawanya pada tujuan dan target jangka panjang. Sedikit demi sedikit, hasil penjualan terkumpul, kemudian dia membangun lantai 2 di gudang yang disewanya yang terletak di pegunungan. Saat itu musim dingin minus 10 derajat dan seseorang melihat Rustono berdiri di atap gudang. Orang itu bertanya, “Mengapa dia berdiri di atas atap saat orang lain sedang menghangatkan tubuh di depan pemanas?”

“Saya sedang membangun impian,” jawab Rustono.

Orang itu mengangguk-anggukan kepalanya. Esoknya, orang itu datang kembali dan melihat Rustono mengerjakan hal sama. Lalu Rustono turun dan berjabat tangan dengan orang itu yang ternyata seorang jurnalis yang ingin mem-publish-kan ceritanya.

Kisah Rustono yang sedang membangun impian dimuat satu halaman penuh oleh koran terkenal di Jepang. Setelah dipublikasikan, cerita Rustono tersebar di seluruh penjuru Jepang dan dia menjadi popoler. Otomatis pembaca penasaran dengan apa yang dijualnya, yaitu TEMPE. Dari peristiwa itu, Rustono sadar, dalam bisnis bukan produk yang dijual, tapi story-nya.

“Orang senang dengan story, bukan produk,” sekali lagi Rustono menegaskan. Story dan hubungan antar manusia adalah dua hal yang memelihara usaha tempenya, cintanya.

Chef Agus dan Rustono pun sepakat, uang bukan segalanya, menjalankan bisnis kuliner tidak bisa hanya memikirkan dari segi keuntungan bisnis saja. “Kalau sudah cinta, uang tidak masalah!”

Terus menerus memikirkan masalah juga tidak menemukan jalan keluar, solusi yang harus dipikirkan. Kemudian goals dan plans.

Sekali lagi kami bertanya, bagaimana mempopulerkan makanan Indonesia? Dari Chef Agus dan Rustono serta beberapa peserta yang hadirnya, jawabannya sama:

  1. Punya impian kuliner Indonesia bakal mendunia. Titik tidak ada koma.
  2. Terus bercerita
  3. Eksplor masakan dan memasaknya dengan bahagia

Lalu, apa yang dimaksud dengan makanan enak itu? Adalah makanan yang bikin rindu dan mengental dalam ingatan. Dan makanan enak itu satu paket dengan apa yang dikatakan Chef Agus dan Rustono.

Chef Degan (kiri) dan Chef Agus Hermawn (kanan) - www.sarinovita.com
Chef Degan (kiri) dan Chef Agus Hermawn (kanan)

Sari Novita
Sari Novita, penulis dan blogger kelahiran Jakarta. Memiliki latar belakang profesi di bidang Finance, Sari juga meminati dunia kepenulisan sejak 2010. Tema yang diangkatnya antara lain travel, kuliner, seni dan budaya serta isu-isu perempuan.

Popular Post

%d bloggers like this: