Menulis Skenario Film Bersama Joko Anwar

Karakter yang kuat akan terus diingat oleh penontonnya.” – Joko Anwar

Galeri Indonesia Kaya telah mengadakan workshop “Menulis Naskah Film oleh Joko Anwar” pada tanggal 16 Januari 2016. Workshop yang disambut antusias oleh peserta – melihat penuhnya ruangan dan aktifnya penonton bertanya serta membagikan ide premisnya. Workshop yang tentunya berceceran tips menulis skenario film dari si otak Copy of My Mind. Workshop yang tidak membosankan apalagi Joko Anwar kerap melemparkan lelucon. Salah satu ucapannya yang bikin penonton ngakak, “Aduh, live streaming sih, nggak enak ngomongnya.”

Namun, postingan ini bukan bercerita mengenai jalannya workshop tersebut, melainkan rangkuman tips menulis naskah film dari Joko Anwar. Sebuah rangkuman yang bakal saya pelajari demi cita-cita menjadi penulis skenario Hollywood #Loh

Seperti menulis cerpen dan novel, menulis skenario pun harus menentukan  Premis lebih dahulu. Tapi penulisan cerpen maupun novel sangat berbeda dengan penulisan skenario. Yang perlu ditekankan, kita perlu memahami perbedaan antara tema dan premis. Untuk tahu pengertian dari tema, ide, dan sinopsis, silahkan berbicara dengan Mas Google . Soal sinopsis tidak perlu menulis sampai 10 atau 20 halaman, karena itu bukan sinopsis tapi cerita pendek (cerpen) atau cerber. Sinopsis cukup satu halaman! Lanjut soal premis..

Premis merupakan satu kalimat yang mampu menjelaskan keseluruhan film. Satu kalimat yang harus jelas, segar, dan menarik. Clear, Fresh, Interesting  – 3 poin penting membuat premis. Premis yang menarik itu ketika diucapkan, orang sudah bisa membayangkannya. 

Contoh premis yang menarik (diambil dari Film Billy Elliot): “Seorang anak lelaki berusia 10 tahun yang hidup di kota pertambangan dan ingin menjadi seorang penari balet.”

Clear: Ya, kalimat itu jelas. Fresh : Ya, Interesting: Ya. Di sini terlihat kan kontra antara kota pertambangan dengan penari balet? Dan ini topik yang menarik. Masih bingung membuat premis? Lihat tabel di bawah ini, ya

Karakter dalam skenario film -by Sari Novita
Kunci membuat premis film

Jadi premis itu  berisi karakter, atribut, dan  tujuan. Tujuan Premis di film Billy Elliot, “ingin menjadi penari balet.”

Cara membuat Karakter

Berikutnya,  karakter dan plot yang keduanya sama penting dan harus seimbang. Tidak dipungkiri ada film yang lebih mengutamakan karakter dan disebut driven movie. Flm yang lebih mengutamakan plot, disebut driven plot. Yang baik, bila karakternya kuat, plotnya pun juga kuat. Contoh film yang karakter dan plotnya seimbang: Film Bring It On yang bercerita tentang cheerleader.

Sebelum membuat plot, kita harus membuat karakternya lebih dahulu. Karakter merupakan karakter utama yang menjadi premis film.

Karakter yang bagus adalah karakter yang kuat – bukan gambar yang diingat oleh penonton tapi karakter. Gambar yang bagus hanya bertahan 1 menit. Karakter yang menarik bisa membuat kita terhubung terus dengan filmnya. Karakter yang memiliki sisi humanisme.

Karakter setiap tokoh dituliskan historisnya sejak kecil hingga saat ini. Tidak berbeda dengan membuat film dokumenter, setelah alur dan foot-stage, lalu kita membuat script sampai pedalaman karakter. Jadi dalam film dokumenter pun perlu membuat karakter yang lebih jauh.

Lalu, bagaimana membuat karakter yang menarik?

Dengan karakter yang believable – yang dipercayai hidup di dunia – tidak berbeda untuk  membuat karakter dalam film fantasi. Yang jelas point of view-nya, yang mempunyai 4 isu kehidupan. Yaitu seks, politik, seni, dan agama.

Karakter adalah satu sejarah yang berisi hidup satu karakter dari lahir sampai menjadi karakter di film kita. Misal satu karakter yang bekerja di salon. Kita harus memperdalam, terlahir dari keluarga yang bagaimana karakter itu, bapaknya kerja di mana, dibesarkan dengan cara apa, islam atau lainnya, bagaimana ia berteman, sekolah jurusan apa dan di mana, kapan kali pertama ciuman, bagaimana reaksinya saat menonton film blue, dan sebagainya.

Semakin banyak detil historis yang dimasukan akan semakin lengkap dan jelas terhadap POV keempat tersebut. Semakin jelas POV akan sangat mudah bagi orang-orang yang terlibat dalam film memahami karakter tersebut dan mudah mengarahkan aktor. Dan tidak hanya tokoh utama yang ditulis historis karakternya, tapi juga semuanya, kecuali figuran yang hanya lewat sekilas saja atau crowd ya. Selanjutnya..

Bagaimana cara membuat plot?

Mau tidak mau kita harus belajar struktur. Plot yang menarik, plot yang maju terus dan tidak bertele-tele. Ada beberapa metode atau prinsip yang sering digunakan oleh penulis skenario: Three Acts, 8 Sequences, dan 15 Beats.

Three Acts dalam penulisan scenario film - by Sari Novita
Three Acts Dalam Penulisan Plot Skenario Film

 

Three acts: Struktur 3 babak yang terdiri dari babak pengenalan karakter, development, dan resolusi.

 

Misal babak pertama di film Janji Joni : Joni, pria muda, 20 tahun, dan tidak punya pacar. Turning point: ketemu perempuan muda dan ingin mengetahui namanya. Tapi perempuan itu punya syarat bila ingin tahu namanya, yaitu harus mengantar film dengan cepat. Hidupnya pun berubah karena perempuan muda itu.

Babak kedua terjadi konfrotasi (datang masalah). Motornya dicuri orang, naik taksi dan supirnya banyak bicara, harus mengantarkan orang yang akan melahirkan ke rumah sakit, dan bertemu Rachel Maryam yang mencuri dompetnya (dipertemukan karakter baru).

Babak ketiga: timbul kesadaran bahwa Joni tidak mungkin mengantar film dengan cepat. Dan Joni akhirnya memilih untuk tetap datang, meski terlambat. Resolusinya: perempuan itu menyebutkan namanya tanpa peduli terlambat atau tidak.

Joko Anwar menyarankan agar kita melatih menonton film dengan melakukan hal-hal di atas. Maksudnya, belajar dengan melatih buat premis, karakter dan membuat Three Acts setelah menonton film.  “It’s very useful!” serunya.

8 Sequences. Biasanya penulis skenario Hollywood mengunakan struktur ini. Tiap babak konfrotasi atau development terbagi lagi menjadi 4 dan tiap poinnya semakin lama semakin sulit. Hmm, tidak mudah ya nulis skenario film itu. Namun, Joko Anwar menyarankan untuk melakukannya. Karena terbukti film Indonesia hasilnya tidak bagus, akibat tidak mengerjakan PR ini.

Three Acts 1, Babak pertama (sequence 1) dibagi 2, siapa karakter utamanya, terapkan 5W1H, dan tujuan capture untuk pengenalan karakter tokoh dan membuat penonton penasaran. Dan diakhiri dengan inciting  incident, yaitu hal yang mengubah hidup karakter tersebut.

Three Acts 1, Babak kedua masih inciting incident. Jika di Film Janji Joni, sang supir taksi  bicara terus. Di tengah jalan, malah berjumpa perempuan hamil yang minta diantarkan ke rumah sakit karena sudah waktunya melahirkan.

Three Acts 2, sequence 3, meningkatkan incident. Kendala pertama yang dihadapi karakter sentral. Kendala yang membuat situasi karakter terkunci, tidak ada pilihan.

Three Acts 2, sequence 4, First culmination (puncak pertama)/midpoint. Kendala yang lebih tinggi, prinsipnya rising action dan dibangun untuk puncak yang di awal/pertama. Misal dalam film berkisah tragedi dan pahlawan cerita tersebut mati, maka puncak pertama (atau titik tengah) harus menjadi titik rendah untuk karakter kita. Tapi, bagaimana pun,  pahlawan kita menang di akhir film, maka di babak ini harus berakhir dengan kemenangan yang ditunjukkan   cara lain/berbeda.

Three Acts 2, sequence 5 (babak 5): diperkenalkan karakter baru. Di film Janji Joni, Rachel Maryam.

Three Acts 2, sequence 6: Tension. Main Culmination/End of Act Two. Membangun puncak utama – kembali ke alur cerita utama. Hambatan tertinggi, alternatif terakhir, saat di poin/titik tertinggi atau terendah dan akhir ketegangan diangkat di bagian 6 ini. Tapi muncul ketegangan baru yang berlanjut ke babak ketiga. Jika tokoh hero kita menang di midpoint dan di akhir film, maka tokoh biasanya tokoh menghadapi kekalahan terendahnya di bagian ini.

Three Acts 3, sequence 7, new tension (ketegangan baru) dan twist. Ketegangan berkurang dan menjadi sederhana. Twist dapat mengakhiri bagian ini atau muncul di awal babak 8.

Three Acts 3, sequence 8, resolution. Masalah terselesaikan. Cerita film kita pun berakhir.

Di atas baru sampai Sequences 8. Mengingat bakal kepanjangan bila menuliskan 15 Beats, maka saya berhenti menulis.

Skenario bagian terpenting dari sebuah film. Film yang bagus, pasti memiliki skenario yang juga bagus.

12439020_10208510230302984_2673596456500056852_n
Penulisan Plot Skenario Film

15 Beats

Babak yang terbagi lagi menjadi 15 bagian. Rumit? Siapa bilang menulis skenario itu mudah? Begitu juga orang-orang yang menganggap menulis cerpen, novel, bahkan artikel itu mudah. Namun inilah tantangannya, menjadikan hal rumit menjadi mudah karena terbiasa.

1. Opening Image, Gambar pertama yang muncul di film. fungsinya untuk menyusun “nada” (Set up the tone) dari film tersebut. Gambar yang memunculkan snapshot dari karakter utama dan permasalahannya. Bagian ini cukup penting untuk menarik perhatian penonton.

2. Theme Stated, kira-kira di halaman kelima, tema film sudah muncul dan sudah jelas. Contoh di film Janji Joni, di gambar kelima sudah terlihat tentang seorang pengantar film yang setia dan berdedikasi yang harus mengantar film dengan cepat. sekali lagi ini temanya, bukan premis.

3. Set-up, perluasan dari opening image. Penontoh akan ‘lebih’ mendapatkan karakter utama dari film. Set up dari halaman pertama sampai halaman sepuluh.

4. Catalyst, kira-kira berada di halaman 12. Bagian ini memunculkan karakter utama terhadap momen yang mengubah kehidupannya. Contoh di Film Janji Joni, Joni bertemu dengan seorang wanita muda yang ia sukai dan mengubah hidupnya.

5. Debate, Ketika karakter utama dihadapkan  peristiwa yang mengharuskan dirinya mengambil keputusan. Bagian yang biasanya mengambarkan keraguan atau timbulnya pertanyaan-pertanyaan dari kepala karakter utama, haruskah ia melakukannya atau tidak. Contoh di Film Janji Joni, ketika bertemu wanita hamil besar yang akan segera melahirkan. Saat itu Joni harus mengantarkan film dengan cepat. Ia pun menjadi dilema.

6. Break Into Two, karakter utama membuat pilihan dan ‘perjalanan’ pun dimulai.

7. B Story, biasa di bagian ini mengambarkan kisah cinta dari karakter utama.

8. The Promise of the Premise, saat karakter utama mengeksplorasi kisahnya dan penonton dihibur oleh premis dari film tersebut.

9. Midpoint, bagian ini tergantung dari cerita. Momen yang menceritakan hal paling indah atau yang paling buruk. Atau mengenai keinginan yang tercapai atau gagal. Namun bukan akhir dari cerita.

10. Bad Guys Close in, keraguan, cemburu, ketakutan, dan karakter yang berlawanan (misal musuh) menguasai secara fisik atau emosional karakter – yang mematahkan tujuan sang karakter.

11. All is Lost, bagian ini berlawanan dari Midpoint, bisa menjadi indah atau mengerikan.

12. Dark Night of The Soul, karakter utama merasa putus asa, patah, atau kehilangan.

13. Break Into Theree, karakter utama mendapatkan semangat,  ide atau inspirasi baru. Biasa karena soal cinta, misal karena wanita yang dicintainnya.

14. Finale, dalam bagian ini karakter utama dikaitkan dengan tema film dan B Story. Bagian babak ketiga yang menyatukan dua atau lebih karakter. Misal film Janji Joni, akhirnya mereka bersama, bersatu.

15. Final Image, gambar terakhir yang kebalikan/berlawanan dari Opening Image. Gambar terakhir yang memunculkan perubahan karakter utama tersebut.

Itulah tips membuat skenario film dari sang pemilik Copy of my Mind, Joko Anwar.

 

“Skenario adalah bagian terpenting dari sebuah film. Film yang bagus, pasti memiliki skenario yang juga bagus.”

 

 

 

 

 

 

 

 

Sari Novita
Sari Novita, penulis dan blogger kelahiran Jakarta. Memiliki latar belakang profesi di bidang Finance, Sari juga meminati dunia kepenulisan sejak 2010. Tema yang diangkatnya antara lain travel, kuliner, seni dan budaya serta isu-isu perempuan.

Popular Post