A Memory: A Swiss – Belhotel Pondok Indah

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com

Suatu tempat bisa menjadi hal yang tak terlupakan dalam perjalanan hidup kita. Entah itu tempatnya, suasananya, atau bersama siapa kita saat itu. Sebelum mengunjungi tempat itu pun, kita tidak pernah tahu, akankah ada ingatan yang menempel darinya atau tidak? Bicara ingatan, bicara Swiss – Belhotel Pondok Indah. Dan, bicara “rumah”, satu kata yang mempresentasikan kenyamanan.

Pada tahun 2010, sebanyak 1306 hotel bintang di Indonesia  menerima tamu lokal dan non-lokal per harinya sebesar 113.570 orang. Jumlah tersebut mengalami peningkatan pada tahun 2016. Sekitar 2387 hotel bintang mendapatkan tamu per harinya sebesar 174.080 orang [Data: BPS]. Peningkatan tersebut menumbuhkan persaingan ketat antara hotel-hotel di Nusantara. Dari urusan desain interior, service, faslitas,  harga sampai lokasi, mereka berupaya tampil unggul dan berbeda, untuk memberikan daya pikat bagi para tamunya.

Saya sendiri lebih melirik hotel dengan suasana yang menyenangkan, kelengkapan dan kenyamanan kamar, dan good food. Jika ketiganya ada, saya bisa berlama-lama menginap di sana seperti saat saya berada di sebuah tempat di kawasan Ubud. Hotel di Bali memang banyak didukung pemandangan indah, tata ruang artistik, makanan lezat, dan keramah tamahan staf-stafnya. Lagi pula Bali memang tempatnya orang liburan.

Bali berbeda dengan Jakarta yang selalu dihadapkan dengan kemacetan dan manusia-manusia robot. Namun di antara semua itu, ada sebuah tempat yang diam-diam merayap masuk ke dalam ingatan.  Hotel berbintang 4, Swiss – Belhotel Pondok Indah terletak di kawasan Jakarta Selatan yang hiruk pikuk. Tapi jika berada di dalamnya, seolah ketegangan hidup dan kota  terusir dengan sendirinya.

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com

 

Ada atmosfir kehangatan dan keakraban tersendiri di sini. Ketika masuk kamar ada senyawa yang sulit dijelaskan.  Awalnya menginap, saya hanya punya tujuan menyendiri dengan mengerjakan PR tulisan. Melihat kamar tipe Two Bedroom Suite yang luas, saya berpikir kembali, buat apa menikmati kamar luas hanya seorang diri? Tak lama, saya mengajak dua sahabat saya untuk menginap. Hasilnya, semalaman kita  banyak berbicara,   tentang kehidupan dan pandangan masing-masing. Lewat tengah malam, sahabat saya satunya lagi datang bersama suaminya, dan cerita makin berlanjut.

Kamar nomor 106, mempunyai 2 ruang tidur [king bedroom dan single bedroom] yang keduanya dilengkapi TV LED “40, lemari tinggi, save deposit box, writing desk, telepon, dan pemandangan luar.  Di ruang tidur, saya gunakan hanya untuk istirahat, dan saya mendapatkan nyenyak di sini.  Sebab, untuk makan atau ngobrol saya lebih baik melakukannya di ruang lain.

Di living room, ada meja bundar yang bisa digunakan untuk makan bersama, kerja, atau mengobrol seperti saya dan teman-teman sampai jelang Subuh. Ruang ini saya sebut “Ruang Percakapan”, saya selalu senang suatu konsep keluarga yang setelah bersantap, mereka bicara di meja makan. Saat ngopi pun, sendiri atau bersama orang lain, minum kopi lebih nikmat dilakukan dengan percakapan, secara langsung, melalui chat whatsapp atau social media lain, atau bicara hanya dengan pikiran sendiri. Sama halnya dalam bekerja, kita pun berbincang dengan apa yang dikerjakan saat itu. Di setiap kamar memang ada writing desk, karena rencana mendadak berubah, saya lebih memilih menikmati waktu bersama sahabat-sahabat saya.

Di samping meja ada kitchen yang dilengkapi refrigerator, snack, mineral water, kopi, dan teh. Di belakang meja bundar, ada sofa untuk menyaksikan acara-acara yang disuguhkan TV 40 LED with cable channel. Di setiap ruang, kita tidak perlu khawatir rebutan atau tidak menemukan colokan.

Penataan ruang yang “teduh” dan bersama siapa kita, bagi saya itu adalah rumah, suatu tempat berisi kenyamanan dan ingatan.

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com
King Bedroom – Two Bedroom Suite Swiss Belhotel Pondok Indah

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com

Swiss Café

Tidak sedikit, hotel-hotel yang pernah saya inap memiliki kamar nyaman dan restoran dengan makanan yang enak tapi mahal harganya sehingga untuk makan harus keluar hotel. Atau memiliki desain ruang yang unik, kamar nyaman, tapi makanannya tidak sesuai lidah orang kebanyakan.

Swiss café menawarkan menu tradisional Nusantara, Asia, dan Western yang banyak disukai tamu-tamunya. Bahkan, ada klien yang tidak menginap, membeli Bebek Goreng Rempah, Sop Buntut,  dan Nasi Goreng dan ada pula yang memesannya melalui delivery online.

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com

Swiss Café ditata bergaya modern dan kontemporer. Bagi saya Swiss Café memiliki ruang-ruang yang berbeda atmosfirnya. Kita bisa menikmati cocktails drink, wine, coffee dan minuman lain sembari duduk-duduk di Bar & Lounge. Ruang bagian pertama berbeda interior dan suasanannya dengan ruang kedua  yang menghadap kolam renang. Ruang ketiganya adalah ruang terbuka yang berhadapan langsung dengan kolam renang dan pepohonan rindang. Di ruang mana pun, kita bisa mengenakan pakaian casual dan rileks. Kalau saya suka dengan ruangan kaca yang bisa memandang luar dan di ruang terbuka yang ada kolam renangnya, saya  duduk berjam-jam di sini bersama kedua sahabat saya dan anaknya.

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com
The Bar and Lounge

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com

 

Menu-menu yang disuguhkan pun tidak mengecewakan. Swiss Café mengusung konsep menu multi culture. Di sini ada 3 menu yang saya suka: Bebek Goreng Rempah, Steak Wagyu, dan Nasi Goreng Djakarta.

Bebek Goreng Rempah menggunakan bahan-bahan tradisional. Direbus selama 3 -4 jam. Intinya, bebek yang akan dimasak harus dicuci bersih, tidak berbulu dan berkondisi baik. Untuk menghasilkan menu Bebek Goreng Rempah, ada trial-nya,  bebek dari beberapa supplier dicoba secara produk dan kesediaannya.

Sayangnya sambal yang saya santap tidak sepedas di pikiran saya. Ternyata, soal tingkat kepedasan, kita bisa memesan sesuai keinginan kita. Tahu gitu, kan pesan yang peudesss jeudesss.

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com
Bebek Goreng Rempah Swiss Cafe Swis-Belhotel POndok Indah

Menu kedua: Rib Eye Steak mengunakan daging wagyu asal Australia. Disajikan bersama mash potato, jagung yang direbus memakai susu atau bisa juga hanya menggunakan sedikit garam atau butter. Entah mengapa saya kesengsem dengan jagungnya yang direbus pakai susu ataupun garam. Saya mencoba salad yang jagungnya hanya direbus garam, kesegarannya sampai kini masih terasa.

Chef Reuben membeberkan cara memasak Wagyu Steak. Sebelum di-grill, wagyu dipadatkan terlebih dahulu dengan tangan, lalu ditabur merica, sedikit mustard, dan vegetable oil. Proses grilled hanya 3 menit karena memang mengunakan daging yang tidak tebal dan  ready–sliced.

Grill harus panas dan bersih agar tulangnya tidak lentur dan “juice”-nya tidak keluar. Sebab kalau keluar tidak ada rasanya. Sausnya dari kaldu sapi dan jamur lokal. Chef Reuben juga memberikan tip sebelum proses masak,  sebaiknya plastic daging wagyu dibuka, untuk dihilangkan anginnya. Dan tidak boleh diseka pakai kain. Satu lagi bahan masak makanan apa pun yang paling jitu ialah Ketulusan.

Rib Eye Wagyu Steak, Swiss Cafe, Swiss-Belhotel Pondok Indah

Katanya, orang yang suka memasak, dia akan rela pergi ke pasar mencari bahan-bahan dan daging segar, mengupas bawang, tidak mempermasalahkan bentuk dan letak dapur, dan memasak dengan senang hati. Jika dia tidak benar-benar suka memasak, tulus itu tidak ada. Hal ini Chef Reuben terapkan kepada timnya yang sebenarnya ia terinspirasi dari Ibu atau keluarga yang menyajikan makanan untuk keluarganya di rumah.

Tidak heran menu Nasi Goreng Djakarta dibuat seperti masakan rumah.   Hanya membaurkan  bawang merah, bawang putih atau bumbu-bumbu dasar  dan minyak goreng, Dalamnya ada potongan ayam dan udang. Disajikan dengan kerupuk kampung, telur mata sapi, acar, ayam goreng, dan sate buntel. Kalau saya kurangnya dari menu ini, kenapa sate buntelnya hanya satu? Haha. Perihal   mau disajikan dengan sambal atau tidak, saya anggap ini  hanya soal selera.

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com
Nasi Goreng Djakarta, Swiss Cafe, Swiss-Belhotel POndok Indah

Pada intinya makanan itu harus disajikan tulus. Orang datang ke resto ingin makan makanan yang enak dan kenyang. Yang perlu diperhatikan bagaimana  orang datang kembali karena hidangan cocok di lidah. Selain rasa, suasana juga bisa membuat orang kembali dan kembali. Rasa dan suasana, kedua hal inilah keunggulan Swiss Café di antara hotel-hotel yang bertebaran di Jakarta.

Bicara makanan, bicara ingatan. Begitu juga tentang suatu tempat.

 

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com
Breakfast
Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com
Breakfast

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com

Untuk breakfast, Swiss Café buka untuk umum dari pukul 06.00 sampai 22.00 WIB. Yang suka arisan, merayakan ulang tahun bisa dilakukan di sini. Acara pernikahan biasa  digelar di area kolam renang. Bisik-bisik nantinya bakal ada Sunday Brunch dan  barbeque, menu baru Nastar Cheese Cake, dan rencana aktivitas yang masih digodok.

Swiss – Belhotel Pondok Indah memiliki fasilitas 7 ruang meeting berkapasitas maksimum 144 orang, Swiss Café, The Bar and Lounge, 24 hour in room dining, laundry and dry cleaning, fitness center, spa and massage, and parking spaces.

Terdiri dari 159 kamar, 4 tipe kamar: 26 deluxe rooms, 72 superior deluxe room, 6 grand deluxe rooms, 16 one bedroom suite [apt], dan 39 two bed room suites [apt].

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com
Meeting Room, Swiss-Belhotel Pondok Indah

 

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com
Grand Deluxe Room, Swiss-Belhotel Pondok Indah

 

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com

Swiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.comSwiss-Belhotel Pondok Indah @www.sarinovita.com

One Reply to “A Memory: A Swiss – Belhotel Pondok Indah”

Leave a Reply