Satu Hari Bersama Adaro

Apa yang terjadi hari ini belum tentu sama dengan hari kemarin, esok, atau hari-hari lainnya, begitu pula sebaliknya. Ribuan hari yang terkumpul, ada saja terjadi momen-momen yang meledak, pilu, hambar, mencengangkan, gembira, tidak beruntung, sunyi, mengesankan, bencana, dan silahkan sebut peristiwa apa saja lainnya. Kemarin yang saya tuliskan pada hari ini merupakan salah satunya, satu hari dengan atmosfir yang berbeda –dibandingkan satu tahun saya yang penuh terka-menerka.

9 Juni 2017, Ballroom Kuningan City, Jakarta, PT. Adaro Energy, Tbk menggelar buka puasa bersama [#BukberAdaro] 1000 anak yatim. Pada tahun ini, Adaro telah mengadakan acara Bukber untuk yang ketujuh kalinya. Sepertinya Adaro kerap mengajak anak yatim [panti asuhan] yang berada pada satu kota atau propinsi. Kemarin giliran panti asuhan yang ada di Jabotabek diundang untuk buka bersama.

#Bukberadaro. Copyright: www.sarinovita.com

Terus terang, biasa saya selalu malas diundang acara buka bersama, kecuali oleh keluarga dekat. Ketika Mbok Venus mengajak saya dan mendengar nama korporasi  yang berkutat dengan dunia pertambangan, pikiran saya terusik. Saya ingin tahu bagaimana mereka mendesain acara buka bersama pada bulan Ramadhan. Apakah sama saja dengan lainnya yang kadang mengelompokan diri kaum borjuis yang enggan menyapa tingkat sosial di bawah mereka.  Atau sekadar bersama, tapi  mereka tidak pernah benar-benar bersama.

#BukberAdaro dikemas secara sederhana namun hadir “kebersamaan” yang bisa memberikan kesan berbeda. Saat saya datang, Boy Thohir, Presiden DIrektur PT. Adaro, Tbk sudah berdiri di depan tamu, menerima para tamu. Sebagian besar, tentu anak yatim, puluhan staf, rombongan ibu-ibu, dan tamu undangan, termasuk Sandiaga Uno. Di antara wajah-wajah staf, saya melihat puluhan anak muda berkepala botak. Ternyata mereka belum menjadi staf – masih sekolah tingkat SMK – dan sedang menjalani magang di salah satu anak perusahaan PT. Adaro, Tbk di Jawa Timur. Saya jadi menyimpulkan sesuatu bahwa para petinggi Adaro memang ingin berbagi kebahagiaan dengan siapapun. Termasuk melibatkan persona-persona muda yang kompeten.

#Bukberadaro. Copyright: www.sarinovita.com
Sandiaga Uno
#Bukberadaro. Copyright: www.sarinovita.com
Megi Irawan

Agenda #BukberAdaro diawali semua yang hadir duduk mengikuti shaf sholat, perempuan di shaf perempuan, pria di shaf pria. Dilanjutkan taushiyah yang dibawakan Ustadz cilik,  Megi Irawan. Ia bercerita, zaman dulu ajaran agama Islam disampaikan melalui  nyanyian, sebab lebih mengena. Sekarang anak-anak menyukai lagu-lagu kekinian yang liriknya kerap mengandung cecintaan. Padahal anak-anak merupakan potensi besar untuk bangsa pada masa depan. Jika sejak kecil pola pikir dan pandangan mereka bermuatan hal remeh, tidak positif, lingkungan yang tidak “ramah”, trauma, gaya hidup berdampak negatif,  dan lainnya yang dapat merusak moral, apa jadinya masa depan dan Nusantara ini pada waktu yang akan datang?

Dengan gaya kocak, Megi berani bicara di depan orang-orang yang usianya jauh lebih dewasa. Anak-anak yatim pun mendengarkannya, meski tidak dapat dipastikan, apakah pesan dari Ustadz cilik itu tersampaikan atau tidak? Setidaknya, Megi telah menyampaikan kekhawatirannya pada kondisi saat ini. Dan mengajak anak-anak yatim beserta orang dewasa untuk tidak luput mendengarkan lagu-lagu religi yang tersirat ajaran kebajikan.

Selesai taushiyah, tibalah waktunya berbuka. Pembagian snack buka puasa dilakukan 2 menit sebelum Adzan Magrib. Beberapa orang menyebar untuk membagikan snack, sehingga tidak ada yang rebutan atau tidak kebagian. Dari anak yatim sampai petinggi dan tamu undangan khusus, menikmati menu berbuka yang sama, tidak ada yang berbeda. Tidak ada pula meja hidangan prasmanan yang dikhususkan. Semua makan duduk di atas karpet.

#Bukberadaro. Copyright: www.sarinovita.com

Seperti biasa, Sholat Magrib dilakukan berjamaah. Yang tidak sholat – biasanya kaum wanita, menyingkir – duduk di tepi ruang. Acara dilanjutkan dengan mendengarkan kelompok music yang membawakan lagu religi. Turut meramaikan suasana, Bapak Palgunadi, Komisari PT. Adaro, Tbk, yang juga menyanyikan lagu religi. Hanya saja saya tidak tahu persis judul lagu yang dinyanyikannya. Haha. Lagu-lagu religi yang melekat di kepala saya, hanyalah nyanyian yang dibawakan oleh Bimbo, seperti “Anak Bertanya pada Bapaknya”, dan “Bermata tapi Tak Melihat”. Mungkin saja Bapak Palgunadi membawakan salah satu lagu Bimbo, tapi saya tidak begitu mendengarkan suaranya, sebab terlalu sibuk foto selfie bersama anak-anak. Entah, ada sesuatu di dalam diri saya yang tergelitik selama ini bila berhadapan dengan anak-anak.

Kemudian, Boy Thohir dan Sandiaga Uno sempat memberikan kata pengantar.

Dengan puasa, kita dilatih dispilin, bisa hidup lebih sederhana dan bersyukur…  ~ Boy Thohir.

#Bukberadaro. Copyright: www.sarinovita.com
Boy Thohir

Sebagai orang yang tidak harus setiap hari datang ke kantor, kosakata “disiplin” bagaikan tembok kokoh dan besar yang harus ditembus. Sebab, melawan godaan yang tidak tertahankan itu bukanlah hal mudah. Saya sendiri punya pemahaman bahwa disiplin bukan sekadar mampu mengatur jadwal agar menjalankan hidup lebih efektif. Namun, membunuh ketidakpercayaan diri, harus saya hadirkan di kepala saya setiap harinya. Saya berupaya mendisiplinkan pola pikiran untuk tetap “hidup” agar hal tersebut bisa tumbuh merekah dalam diri saya. Setiap orang memang punya problema terhadap kedisplinan, sama halnya dengan kata “sederhana”.

Jika sederhana berarti tidak hidup bermewah-mewah atau boros, semua orang tahu hal itu. Tapi saya tidak tahu pengertian sederhana pada sebagian orang yang gemar mengumbar kosakata tersebut di status sosial medianya.

Sedangkan diksi “bersyukur”, jujur, saya  masih dalam pencapaian ke arah sana.

—***—

Satu hari bersama Adaro yang paling meninggalkan kesan di kepala ialah kemunculan grup penyanyi JKT48. Jujur [lagi] saya tidak suka lagu-lagu dan penampilan mereka, tapi karena mereka saya bisa tertawa riang bersama anak-anak yatim dan para staf.

#Bukberadaro. Copyright: www.sarinovita.com

Saya senang melihat banyak anak-anak yang digendong oleh pendamping atau Ibunya agar dapat menyaksikan JKT48. Hal itu menambah keriuhan, setelah semua yang hadir berdiri dan mengerumuni grup yang semuanya gadis itu. Ditambah teriakan dan lontaran jenaka anak muda yang magang dan para staf yang bikin ngakak.

JKT48. copyright: www.sarinovita.com
JKT48

Ketika JKT48 memperkenalkan masing-masing personilnya, mereka selalu mengucapkan, “hai, selamat malam, saya Shania, …yeayyyy.”

“Yeaayyyy…” tidak pernah lupa mereka ucapkan sehabis memperkenalkan diri. Para staf lokal dan non-lokal malah mengikuti gaya bicara mereka. Ada staf bule yang sorakan yeyyy-nya bersemangat, dia juga melebur dengan orang-orang yang mungkin belum dikenalnya. Maklum, jumlah karyawan PT. Adaro, Tbk, sekitar 10.000-an orang. Dia sibuk menerima foto bersama, goyang-goyang, dan tertawa.

Malah, gerombolan  anak muda yang magang pas melihat background besar bergambar personil JKT48, mereka langsung berfoto dengan gaya konyol.

Hal-hal seperti itu merupakan momen yang belum tentu terjadi lagi pada hari nanti. Ketidaksukaan pada sesuatu atau orang atau kelompok bisa diubah dengan hal-hal yang secara tidak sadar malah membuat gembira.

Dari semua kegiatan #BukberAdaro, saya menarik poin maksud dan tujuan Boy Thohir mengelar acara, yaitu “berbagi”.

Manusia terlalu sibuk meraih, mengejar, dan mendapatkan apa yang diinginkan, sampai lengah bahwa “melepaskan” apa yang “dimilikinya” justru mendekatkan pada keinginannya.

Terima Kasih telah membuat saya merenung.

One Reply to “Satu Hari Bersama Adaro”

Leave a Reply