Opera Tari Arka Suta, Padnecwara

Opera Tari Arka Suta. Copyright:www.sarinovita.com

Epos Mahabharata bukanlah naskah yang baru diperagakan bahkan televisi Nasional pernah menayangkan serialnya. Kisah ini sering diekspresikan dalam berbagai media (termasuk bentuk seni). Selalu saja ada tokoh yang menarik untuk diangkat. Banyaknya tokoh menggambarkan berbagai sifat manusia dan peristiwanya, menginsipirasi pelaku seni bereksplorasi. Melalui gerak tubuh dan tembang, Padnecwara mempersembahkan Opera Tari “ Arka Suta”  yang juga memegang peran dalam perang Bharatayudha yang epic.

Panggung dimulai dengan lakon para penari yang mengisahkan perempuan-perempuan  yang sedang bersuka cita yang diakhiri secawan anggur di tangan masing-masing. Suara pengantar yang menuturkan sekilas Arka Suta, “anak matahari yang terlahir dari kecamuk pertanyaan dan dibuang demi menjawab begitu banyak prasangka…” pada awal cerita tidak seindah pembukaan yang penuh kata-kata puitis.

Opera Tari Arka Suta - Copyright www.sarinovita.com
Awal pertunjukan “Arka Suta”

Meski begitu, kerinduan saya pada pertunjukan seni yang menyuguhkan  dialog maupun nyanyian tanpa alat bantuan suara (clip on), serasa terbayarkan. Lirik puisi sastra Jawa ditembangkan para pemain cukup dengan 3 mic dipasangkan di langit dan lantai panggung.  Kemampuan pemain mengolah suara sembari menari patut diacungkan jempol.  Suara yang keluar dari bibir mereka sangat kuat dan indah. Perjalanan Padnecwara selama 41 tahun di atas pentas memang tidak perlu lagi diragukan. Pengalaman memang ‘berbicara’…

Kemudian, ketika penari pria masuk panggung tidak juga berhasil mencuri detak perhatian saya, masih pada babak  pertama: percakapan Arka Suta atau Karna atau Karno dengan Kresna. Pada bagian selanjutnya, saya mulai terusik kehadiran penari pria dan wanita, ditambah kemunculan Kunthi yang diperankan Retno Maruti. Mereka  menari dengan formasi yang rapi dan cantik. Panggung Graha Bhakti Budaya yang luas (15m X 10m X 6m) menjadi tidak kosong dan hampa. Formasi adalah bagian penting dari suatu pertunjukan tari, biasa yang digunakan bentuk susunan huruf V, sejajar, 2 baris yang membentuk seperti jajaran genjang, 2 baris silang, dan masih banyak lagi. Formasi yang baik pasti akan enak dilihat oleh penontonnya. Apalagi tidak ada yang timpang skill saat menari sehingga semua penari tampil setara.

Opera Tari Arka Suta. Copyright www.sarinovita.com

Penari Padnecwara yang membawakan Opera Tari Arka Suta memang banyak yang terlihat tidak muda lagi namun kemampuannya tidak kalah dengan penari-penari muda. Opera Tari Arka Suta ternyata tidak semuanya anggota dari Padnecwara, misalnya saja Ali Marsudi yang memerankan tokoh Arjuna. Menurut cerita Bapak Sentot S (penata artisitik), Padnecwara baru pertama kali bekerjasama dengan Ali Marsudi yang kesehariannya bekerja sebagai PNS.

Dalam pagelaran ini, hadir Nungki Kusumastuti yang berperan sebagai Drupadi. Penampilannya memang selintas, tapi penataan panggung yang diisi kain-kain panjang berwarna merah menambah gemerlap pertunjukan. Kain-kain warna merah panjang jatuh dari atas langit dan menyentuh lantai, mengambarkan    kain sutra yang melekat di tubuh Drupadi lepas satu per satu. Adegan terlepasnya busana Drupadi memang tidak disuguhkan secara seronok tapi diekspresikan melalui penataan panggung melalui kain-kain merah yang turun satu per satu.

Opera Tari Arka Suta -copyright www.sarinovita.com
Adegan Drupadi

Penataan panggung memang tidak mewah malah sederhana tapi menurut saya cantik. Sama halnya dengan wardrobe, yang tidak mencolok warnanya. Tapi pertunjukan tidak selalu seperti itu, Padnecwara lebih menonjolkan koreografi dan formasi, yang terbukti bisa menaikan kegairahan menonton pagelaran ini. Babak kelima, yaitu fragmen perang keluarga Barata, merupakan puncak dari pertunjukan. Dari gerak tarian Jawa klasik yang dikreasikan, adegan, nembang  sampai Karawitan, semuanya bergerak ‘tinggi’ dan membuat panggung semakin hidup.

 

Saat mendengar para pemain gending yang penataan musiknya dikerjakan oleh  Blacius Subono, sempat membuat merinding. Saya serasa dilempar ke masa lalu ketika masih bocah bersama Om dan Tante saya menyaksikan orang-orang yang sedang latihan gamelan dan nembang untuk pesta pernikahan.  Setelah itu berjalannya waktu hanya selintas mendengarkan music seperti ini. Denting gending yang halus namun ramai pada babak akhir pertunjukan Arka Suta seperti oase bagi saya di tengah kerontangnya hidup. Seni dalam bentuk apa pun buat saya seperti nutrisi untuk menyeimbangkan rutinitas yang tanpa jeda.

Opera Tari Arka Suta -copyright: www.sarinovita.com

Ditambah lagi tembang-tembang yang dibawakan pada pertunjukan ini memang merupakan puisi sastra Jawa. Nanang Hape, penulis naskah Opera Tari “Arka Suta”  menjelaskan tentang Pamijen bahasa yang digunakan dalam pertunjukan wayang. Bahasa yang bukan dipakai sehari-hari, tapi perpaduan dari Jawa Kuna, kromo inggil, dan moko ke dalam satu frase dengan tujuan keindahan dan disiplin sendiri. Bahasa inilah yang ada dalam tembang-tembang pagelaran Arka Suta. Nanang Hape pun menyelesaikan naskah tersebut dalam waktu 3 bulan.

Tembang pada babak terakhir  yang dibawakan Retno Maruti (Kunthi):

Titis tatas tuntasing lelakon

Laku kekalang langlangan lunges

Katatap ing kodrat jidharing pepesthen

Pati, pati ambentusi

Naratas tistisaning wengi

Sepa-sepi warsita jinarwi

(dalam Bahasa Indonesia)

Telah usai sebuah kisah

Kisah yang kusut masai

Yang telah menjadi garis hidup

Begitu bertubi-tubi penderitaan ini

Mencari keheningan malam

Begitu hampa

 

Padnecwara, Retno Maruti, dan Arka Suta

Pada tanggal 8 Maret 2017 adalah hari ulang tahun maestro tari Jawa Klasik, Retno Maruti. Beliau terlahir dari pasangan Susiloatmadja yang berprofesi sebagai pedalang dan Siti Marsiyam. Sejak kecil Ibu Retno sudah diperkenalkan dunia yang membawanya menjadi seperti sekarang ini. Hari kelahirannya bertepatan dengan berdirinya sanggar tari Padnecwara yang telah berpindah-pindah pentas selama 41 tahun.

Opera Tari “Arka Suta” merupakan pagelaran yang ditampilkan untuk merayakan kiprah Retno Maruti bersama Padnecwara dalam seni tari Jawa Klasik selama puluhan tahun. Sang maestro kerap mengangkat kisah tokoh perwayangan ke dalam pertunjukannya. Dan Arka Suta adalah salah satu tokoh wayang Mahabharata yang menjadi lakon utama pada pertunjukan opera ini. Pada tanggal 17 Maret 2017, panggung Graha Bhakti Budaya tidak hanya mengisahkan perpecahan antara keluarga  Pandawa dan Kurawa, tapi juga percintaan Karna dengan Surtikanti sehingga cerita asmara Arjuna dan Drupadi tidak disuguhkan, cerita yang tidak utuh namun tetap menghadirkan peristiwa-peristiwa penting kisah Mahabharata.

Opera Tari Arka Suta -copyright www.sarinovita.com
Arka Suta dan Surtikanti

Pastinya pertunjukan tersebut juga bertujuan menarik perhatian kaum muda terhadap tari Jawa Klasik. Rury Nostalgia berupaya mengenalkan tari Jawa Klasik melalui koreografinya. Tidak mudah memang menarik perhatian anak muda terhadap jenis tari ini apalagi secara orisinal. Gerak tari yang dibawakan secara lemah lembut memang terkadang membosankan untuk ditonton. Bagi saya menari Jawa Klasik butuh penyerapan lebih mengenai tubuh, pikiran dan kandungan pemahaman gerak tari sekaligus musiknya. Namun bila diingat kembali, semua tarian tradisional butuh diresapi, butuh ‘kemesraan’ bila bersamanya. Dari tarian kita dapat mempelajari karakter masyarakat tempat asal tarian tersebut, budaya, untuk acara atau momen apa saja tarian itu dibawakan,  cara berpikir masyarakat sampai unsur-unsur filosofi yang dipegangnya. Di tengah krisisnya kepedulian terhadap sesama, psikologis, ekonomi, politik, dampak media sosial, dan segala yang kacau, seni budaya bisa menjadi penyembuh.

Opera Tari Arka Suta

Pun, sejarah peradaban Eropa sampai bisa menjadi sekarang ini, hal pertama yang diubah dalam tatanan Pemerintahannya adalah “membangkitkan kembali seni budaya mereka”.`Pada fase kedua kebangkitan Eropa yang disebut periode Renaisans, mereka meningkatkan perhatian pada kesusastraan klasik yang disertai berkembangnya kesenian dan kesusastraan baru, juga penemuan-penemuan baru pada ilmu pengetahuan. Era saat ini yang penuh hujan lebat kemutakhiran teknologi tapi perkembangan Negara Indonesia yang lamban dibanding Negara lain, bisa jadi disebabkan orang-orang dan Pemerintahannya mengabaikan seni budaya.

Kematian Arka Suta yang dibunuh oleh Arjuna

Leave a Reply