Mengembalikan Kejayaan Rempah Masa Lalu

Rempah-rempah Copyroght www.sarinovita.com

Rempah masa lalu bagaikan kepribadian yang terbelah dua,  antara tragedi dan anugerah. Semenjak Belanda datang pada tahun 1599 dan menguasai   Banda, Maluku, sekitar 15 juta penduduk dibunuh karena tidak mau bekerjasama mengelola perkebunan pala. Anugerahnya, Nusantara menjadi terkenal sebagai sumber rempah terbesar dan menjadi jalur rempah dunia. Pernah harga sekantong Lada setara dengan sekantong emas namun pula membangkitkan gairah politik serta kekuasaan baru.

Mengaitkan dengan kuliner Nusantara, ada kisah di balik hidangan yang disajikan di meja makan bahkan sejarah yang perih. Menyelusuri kedatangan pedagang dari luar Nusantara, tidak heran adanya keterkaitan budaya dan campur tangan mereka saat menguasai bumi pertiwi. Tidak saja soal hasil alam [rempah] dan budaya, tapi ekonomi, politik, migrasi, juga peperangan.

Bicara kejayaan lainnya, rempah masa lalu, sempat  diperlakukan baik dan dijadikan sebagai hadiah, upeti, pengobatan dan mantra, memperpanjang usia, wewangian, dan tentu sebagai bahan masakan. Kerajaan Cina zaman dulu mengharuskan anggota kerajaan dan rakyatnya mengunyah cengkeh sebelum menghadap Kaisar atau pejabat tinggi.

Rempah Copyright: www.sarinovita.com
Rempah. Photo: Copyright: www.sarinovita.com

Cengkeh  atau disebut Syzgium Aromaticum juga dikenal untuk menyembuhkan sakit gigi, membunuh cacing parasit di tubuh, mengobat hewan yang terinfeksi, meningkatkan asam klorida dalam lambung, aromanya dapat mengurangi rematik, arthritis, dan peradangan lain, mengurangi batuk, dan digunakan dalam tembakau. Manfaatnya yang banyak membuat jenis rempah ini diperebutkan atau primadona bagi kalangan pedagang asing karena laku keras bila dijual di negaranya.

Tidak cengkeh saja yang memiliki banyak manfaat, tapi juga rempah lainnya. Para pedagang berani memasang rempah Nusantara dengan harga tinggi. Sampai sekarang harga rempah Indonesia masih tinggi dibanding komoditas perkebunan lainnya. Cengkeh, selama 10 tahun harga jualnya bagus Rp. 160.000,-  lada tiga tahun lalu seharga Rp. 125.000,- sekarang Rp. 150.000,- per kilogram, tembakau Rp. 50.000,- per kilogram dan pala  sekitar Rp.120.000,- per kilogram.

Jika diperhatikan, sejak dulu sampai sekarang, rempah-rempah masih digunakan sebagai bahan masakan oleh penduduk Indonesia. Bisa dikatakan, petani penghasil rempah telah mandiri mengelola perkebunan dan usahanya. Petani rempah memang masih memproduksi, yang menjadi masalah adalah mereka tidak bisa memenuhi permintaan konsumen luar negeri seperti penjualan rempah masa lalu yang mendunia.

Produksi rempah untuk ekspor berkurang dan dikhawatirkan akan menjadi komoditas seperti kelapa sawit. Bagaimana bisa sedangkan kuliner Nusantara maupun beberapa negara di Asia tetap menggunakan rempah-rempah untuk masakan mereka? Dan dilihat dari segi geografis dan unsur hara pun, Indonesia mempunyai tanah yang mendukung kesuburan rempah-rempah ini.

Hal ini juga terkait indikasi geografis, dari 56 komoditas yang dibina Ditjen Perkebunan, baru 36 produk yang mempunyai indikasi geografis.

Indikasi geografis adalah suatu tanda yang menunjukan daerah asal suatu produk dengan faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam dan faktor manusia atau kombinasi kedua faktor, yang memberikan ciri dan kualitas tertentu pada produk yang dihasilkan.

Misalnya saja, kopi Arabika Kintamani Bali yang haknya dipegang Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Kintamani Bali, Lada Putih Munthok Bangka Belitung, Madu Sumbawa, Ubi Cilembu Sumedang, dan Minyak Nilam Aceh.

Jadi, bila daerah atau masyarakat yang mencantumkan nama kopi Arabika Kintamani Bali di luar wilayah ini, tidak bisa memakai pada produknya dan akan dikenakan denda. Pengunaan ini tidak terjadi sekali atau dua kali, tapi lebih dari itu.  Indikasi geografis tidak saja soal penggunaan nama, tapi juga standar kualitas – yang pasti berbeda dengan kualitas produk yang asli. Penyebutan nama dan kualitas yang tidak bagus bisa berdampak buruk bagi daerah penghasil. Konsumen akan berkurang kepercayaan dan daya belinya terhadap produk yang memiliki indikasi geografis.

Pengukuhan Pengurus Dewan Rempah Indonesia. Photo by: Teddy Rustandi

Rempah mentah maupun produk telah menjadi permasalahan bersama. Produktivitas rempah yang menurun dan hal lainnya, membuat Dewan Rempah Indonesia dan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian perlu membantu dan menciptakan solusi buat para petani. Dewan Rempah Indonesia [DRI] yang dideklarasikan pada tanggal 21 Mei 2007 berfungsi mensinergikan kepentingan pelaku agrobisnis rempah, memberi masukan kepada Pemerintah, membantu permasalahan anggotanya, menjadi sumber informasi dalam agrobisnis, dan organisasi rempah.

20 Desember 2016, Menara 165, Jakarta, dikukuhkan pengurus baru DRI sebagai wujud dari partisipasi masyarakat untuk memperkuat komoditas rempah dan mendorongnya peningkatan produktivitas. Bersama Pemerintah nantinya akan menjalankan program untuk meningkatkan produktivitas,  bisnis, spesifikasi kebutuhan, dan mencari sumber benih.

Anggaran tahun 2017 sebesar Rp 40 milyar digunakan untuk mendorong daerah sentra produksi atau membangun desa mandiri benih rempah, karena masalah utama rempah adalah sulitnya mencari benih bermutu. Spesifikasi komoditas juga akan lebih diperhatikan dengan melihat detil kebutuhannya, misal: Jahe putih, apa saja jenis dan fungsinya.

Dirjen Perkebunan, Ir. Bambang MM yang berasal dari Sulawesi Tenggara memaparkan lebih jelas peran Pemerintah.

  • Sebagai fasilitator
  • Pengembangan wilayah komoditi
  • Memperkuat lembaga petani
  • Pembinaan lembaga dan mempersiapkan benih
  • Penyelusuran identifikasi sumber benih rempah
  • Mempersiapkan desa sentra/sumber benih
  • Pendekatan dengan sistem untuk kemandirian petani
  • Sertifikasi sumber benih
Sambal Andaliman. Photo Copyright www.sarinovita.com
Sambal Andaliman yang menggunakan rempah. Photo: Sari Novita – Chef: Rahung Nasution

Bagi Santhi H Serad, Msc, pendiri Aku Cinta Masakan Indonesia [ACMI],  mengembalikan kejayaan rempah masa lalu perlu melibatkan industri: perusahaan, pelaku kreatif pembuat bumbu masak siap pakai, pendataan, dan promosi.

Pendataan dapat dilakukan dengan mendata kuliner lokal yang menampilkan rempah sebagai bumbu masakan, bahan-bahan makanan, dan cara mengolah atau memasaknya.

Promosi bisa dilakukan melalui memperkenalkan kuliner Nusantara ke lidah masyarakat dunia, contohnya mengikuti event kuliner internasional,  mendirikan restoran menu Nusantara di luar negeri, food blogger, gastronomi tur, penulis yang menerbitkan buku kuliner ke dalam bahasa asing, dan duta promosi.

Ibu Lasmi, Jamu Gendong Lestari. Phoro by: www.sarinovita.com
Ibu Lasmi, Jamu Gendong Lestari. Photo by: Sari Novita

Melalui produk rempah, Mooryati Soedibyo telah mengekspor ke 20 negara dan mengembangkan 800 produk yang mengandung rempah Nusantara. Untuk permintaan dalam negeri ada Jamu Gendong Lestari yang didirikan oleh Lasmi pada tahun 1989.  Ilmu yang ditularkan kepada anggotanya yang kini berjumlah ratusan yang memasarkan jamu gendong  dari Sumatera sampai Nusa Tenggara bahkan ke Singapura dan Timor Leste.

Apakah sejarah kejayaan rempah akan kembali seperti masa lalu? Kembalikan saja kepada manusia si perangkai peristiwa.

 

Tambahan sejarah yang banyak sekali ditemukan di Google:

Christhoper Colombus yang meyakini bahwa bumi itu bulat pernah mengira dia telah mendarat di Indonesia, nyatanya di Kepulauan Bahama. Beliau sangat ingin menapakan kakinya di Nusantara dengan alasan sumber rempah-rempah yang kaya.

3 Replies to “Mengembalikan Kejayaan Rempah Masa Lalu”

Leave a Reply