Cita Rasa Japan Food Festival

31 october 2016, Mall Kota Kasablanka. Apakah kamu pernah mendengar Test Kitchen selama ini? Test Kitchen, salah satu rangkaian program Japan Food Festival 2016 yang digelar oleh Japan External Trade Organization (JETRO) pertama kalinya di Indonesia. Test Kicthen masih terdengar asing di telinga saya. Rasa penasaran semakin bertambah karena kuliner yang disajikan oleh pengusaha asli Jepang memiliki outlet yang banyak di negaranya.

Tidak banyak perusahaan industri jasa makanan yang ikut serta pada festival ini. Dari 5  perusahaan yang mempromosikan menu spesialnya, hampir semuanya punya rasa yang melekat di lidah dan di benak saya.

Pertama yang membuat saya ingin terus-terusan tambah adalah Sushi Kaz. Dilihat dari tampilannya, menu sushi Sushi Kaz tidak jauh berbeda dengan sushi lainnya. Tapi sushi ini punya rasa yang menonjol di lidah. Di Indonesia betebaran restoran Jepang, namun tidak semua memiliki rasa yang melekat di benak. Makanan yang meninggalkan kesan bisa membentuk ingatan di kepala. Bagi saya itu yang membuat orang kembali dan datang lagi ke suatu tempat untuk melahapnya kesekian kali.

Sushi Kaz. Foto: www.sarinovita.com
Sushi Kaz. Foto: www.sarinovita.com

Suatu hidangan  yang punya rasa lezat dan kontur yang pas di mulut tidak dimasak begitu saja. Selalu ada proses dan rahasia di baliknya. Resep-resep tradisional atau keluarga yang turun-menurun termasuk bagian penyatuan sebuah hidangan menjadi kegemaran orang banyak. Ditambah kisi-kisi memasak yang berhubungan dengan tingkat kematangan , ukuran, dan  waktu.

Sushi Kaz punya cara unik agar sushi-nya lebih berbeda dalam soal rasa. Sebelum berada di depan mata pelanggannya, hampir semua menunya melalui proses pembakaran. Menggunakan stainless stell torch gun atau api pistol, rasa sushi lebih gurih dan crunchy. Daging yang disajikan pun Australian Beef, kalau di Jepan mereka gunakan beef dari negerinya.

Sashimi. Copyright Sari Novita

Kuliner kedua ialah Rich Chicken Soup Ramen dari Menya Takeichi. Proses  slow cook memiliki cita rasa khas tersendiri. Seperti proses memasak sup yang dilakukan Menya Takeichi. Ceker ayam, tulang paha, dan kepala leher ayam dimasukan ke dalam satu panci dan dimasak selama 5 sampai 7 jam. Sehingga menghasilkan kekentalan di level (tingkat) 10 dan tidak lagi dicampur apa pun. Rasanya tidak perlu dipertanyakan lagi. Kekentalan sup tidak membuat enek,  malah bikin sisa satu sendok di mangkok, sayang dilahap. Menya Takeichi sudah 4 tahun menjalankan usaha dan mempunyai 50 outlet di Jepang. Menu Rich Chicken Soup Ramen adalah menu andalan yang dibawa Yousuke Hara (owner) untuk Test Kitchen di Jakarta.

Mi-nya dibuat sendiri mengunakan bahan-bahan yang di Indonesia. Sebab, Test Kitchen ini bertujuan agar jasa kuliner di Jepang memilki minat untuk ekspansi usahanya di Indonesia. Bahan makanan, peralatan masak, harga bahan dan makanan, staf lokal, dan preferensi dari konsumen Indonesia menjadi subjek pertimbangan. Apakah kuliner yang menggunakan bahan asal dari Indonesia, cita rasa dan kualitas masakan tradisional mereka masih terjaga? Ini hanya satu pertanyaan yang sangat diperhatikan bagi perusahaan kuliner yang ingin ekspansi di Indonesia.

Rich CHicken Soup Ramen. Foto: www.sarinovita.com
Rich CHicken Soup Ramen. Foto: www.sarinovita.com
Kekentalan Kaldu Sup Ayam
Kekentalan Kaldu Sup Ayam

Menu ketiga yang saya rekomendasikan: Nagasaki Champon (mi campur Jepang), Ringer Hut. Serupa dengan ramen, hanya saja banyak memadukan sayur-sayuran. Proses masaknya pun cukup menarik. Kuahnya tetap menggunakan kaldu ayam. Biasa di Jepang, mereka gunakan kaldu Babi, tidak berbeda dengan menu Rich Chicken Soup Ramen. Karena masyarakat Indonesia mayoritas muslim, mereka menyesuaikan bahan makanan dengan menyuguhkan makanan halal.

Nagasaki Champon adalah makanan tradisional masyarakat Nagasaki, Jepang. Dimasak menggunakan 4 kompor. Dari kompor pertama ke berikutnya dipanaskan selama 30 detik. Hingga di mana pun, kapan pun, dan siapa pun yang memasak, rasa dan kualitas hidangan tetap sama. Untuk sayuran diproses menggunakan mesin sendiri, yang mereka sebut Mesin EPS dan mesin ini hanya mereka yang punya di dunia. Kalau kamu vegetarian, pasti suka menu ini.

Nagasaki Champon. Foto: www.sarinovita.com
Nagasaki Champon. Foto: www.sarinovita.com

Saya tidak menceritakan bahan-bahan ketiga kuliner tersebut. Alasannya, dengan melihatnya saja, kita sudah tahu bahan-bahannya. Proses masak dari ketiga kuliner itu bisa saja dianggap biasa, namun karena proses itulah, mereka   memberikan cita dan sensasi original, seolah-olah kita sedang berada di negeri Sakura menikmati kuliner tersebut.

Sajian lainnya di Japan Food Festival, ada menu Taiyaki dan ragam kue tradisional Jepang. Ada juga Es Cendol yang bisa dinikmati jika ingin mengecap rasa Nusantara.

Selain makanan, festival ini juga menampilkan pemutaran film dan pertunjukan musisi dari Jepang. Dan akan berakhir sampai 13 November 2016, di area Food Society, Mal Kota Kasablanka.

Owner memotong kue khas tradisional Jepang
Owner memotong kue khas tradisional Jepang

Japan Food Fest 2016

Partisipan Industri Kuliner Japan Food Festival
Partisipan Industri Kuliner Japan Food Festival
Japan Food Fest 2016
Japan Food Fest 2016

4 Replies to “Cita Rasa Japan Food Festival”

Leave a Reply