Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta: Ingin Saingi Bandara Changi?

Bandara Soekarno Hatta punya terminal baru, Terminal 3 Ultimate yang dibuat bertujuan menampung pengunjung yang terus melonjak. Di terminal kedatangan domestik saja, tidak lagi bisa berjalan lenggang apalagi saat mencari tranportasi. Pilihan transportasi online maupun tradisional memang banyak namun untuk pulang ke rumah saja butuh antri  lebih dari 1 jam. Dan, dilihat secara kondisi bangunan juga teknologi, Bandara Soekarno Hatta masih minim dibandingkan bandara internasional lainnya.

Menurut Budi Karya Sumadi (Direktur Angkasa Pura II dan sekarang Menteri Perhubungan), orang-orang yang datang sekitar 60 juta padahal bandara Soekarno Hatta hanya berkapasitas 20 juta. Penumpang dan teknologi, 2 alasan awal yang membuat Angkasa Pura membangun Terminal 3 yang baru. Untuk mendirikan terminal bandara yang menarik, unik, modern, nyaman, dan dikagumi banyak orang, memang harus ada ide-ide segar yang juga bisa dinikmati dalam waktu lama.

Bandara Terminal 3 baru (Terminal Ultimate) pun berkeinginan mengalahkan Bandara Changi, Singapore. Itu boleh-boleh saja, tapi terkadang tujuan “mengalahkan” kerap menyempitkan visi. Terminal 3 diciptakan guna mendirikan Identitas bangsa yang mengangkat “People, Culture, and Nature”. Keunggulan Indonesia ini diharapkan bisa mengalahkan bandara Changi maupun bandara internasional lainnya.

Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta - Ruang Tunggu
Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta – Ruang Tunggu

People, culture, nature, adalah konsep desain Terminal 3 (T3) berlapis pemahaman modern medium. Ketiganya bisa berinteraksi secara harmonis. Karena manusia, budaya, dan, alam adalah hal yang sangat sangat seksi bagi saya, jadi berharap ketiganya mampu saingi Changi Airport.

Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta

Sebelum melangkah pada 3 sisi yang bikin horny  itu, sedikit saya ceritakan ucapan Budi Karya Sumadi dan Rhenaldi Kasali. Selain, people, culture, dan nature, T3 juga menambah teknologi canggih. Salah satunya Baggage Handling System (BHS) berlevel 5 yang mendeteksi bahan peledak atau bom pada barang/tas/luggage penumpang/pengunjung dan kru penerbangan. Lainnya adalah Airport Security System (ASS), CCTV yang dapat mendeteksi wajah-wajah penumpang/pengunjung yang masuk daftar pencarian orang (dpo). Jadi bagi burunon yang ingin kabur ke luar negeri maupun luar daerah, bersiap-siaplah operasi plastik atau kabur lewat jalur darat atau laut. Hahaha..

Terus terang, 2 teknologi tersebut masih hal baru buat saya. Saya pun tidak tahu apakah teknologi tersebut termasuk hal baru di luar sana atau baru di Indoonesia saja.  Setidaknya menunjukan Indonesia mulai serius terhadap pencegahan bom dan kriminalitas untuk melindungi bangsa dan warga dunia.

Teknologi canggih lainnya: Fully Intelligence building Management System berkonsep eco green, rain water system, recycle water system, sistem penerangan cahaya terang dan redup yang diatur secara otomatis yang mengikuti kondisi cuaca, dan visual parking pesawat yang tidak memerlukan lagi tenaga manusia.

Ini jika bicara soal teknologi, ada hal lain yang bikin saya senang mendengar mereka berdua.

“Kita juga belajar dari bandara negara lain, apa yang kurang dari mereka dan  kita, maka kita tingkatkan,” ucap Rhenaldi Kasali.

Meningkatkan keramah tamahan kepada pengunjung/penumpang, kearifan lokal, mengangkat seni budaya sekaligus menggelar galery art, dan bekerjasama dengan banyak pihak. Dan menjadikan Terminal 3 Ultimate sebagai  transit airport bagi wisman.

Check in Counter
Check in Counter

Keramahtamahan. Saya nggak bohong ketika datang ke Terminal 3 yang 100% belum jadi, setiap bertemu dengan pegawai yang telah bekerja di sana, mereka selalu mengucapkan salam dan tersenyum. Mirip kalau kita lagi menginap  di hotel. Semoga senyuman mereka tetap mengembang saat T3 menerima pengunjung/penumpang berjumlah jutaan setiap harinya.

T3 juga bakal mempunyai lounge, jika kita ada meeting dengan tamu asing, kita bisa menjamunya di sini. Apalagi bila mereka hanya punya waktu sedikit dan harus langsung menuju destinasi berikutnya. Hmm, enak juga, ya, persis di cafe-cafe. Ini menurut saya seperti one stop service, karena bakal ada train station, galery art, food court, cafe-cafe franchise dan lokal, tempat main anak-anak, taman, rest room yang bisa buat mandi, check in automatic self, tempat parkir luas bersistem FIFO (menampung 2400 mobil dan 1200 motor), bus station, dan banyak lagi.

Terminal 3 - Playground
Terminal 3 – Playground

Tentang kereta berkaitan juga dengan jembatan yang terkoneksi antar terminal 1, 2, dan 3. Jalurnya lumayan cakep, karena masyarakat bisa dari Stasiun Kereta Manggarai, Kelapa Gading, dan  Ancol ke Bandara Soetta. Ada city check in-nya pula di Stasiun Kereta Api Dukuh Atas. Jalur ini merupakan fasilitas yang cukup memudahkan penumpang dan bisa bikin kantong irit. Apalagi kalao ada jalur dari Bintaro langsung ke bandara, setiap hari saya bisa ke bandara, nih (ngapain ya setiap hari?). Kerennya lagi kereta ini berupa “People Mover System” setiap 5 menit beroperasi dapat membawa 100-200 penumpang. Jadi, bandara nggak padat  seperti terakhir saya ke bandara dua bulan lalu.  Seandainya jalan-jalan Jakarta yang macet juga diberlakukan sistem seperti itu yang bisa diwujudkan secara cepat.

 

People, Culture, and Nature

Kemudian, soal kedai kopi, Angkasa Pura II tidak mau hanya kedai kopi luar yang mejeng di bandara. Kopi lokal bakal sejajar berdiri di antara kopi franchise. Mengetahui hal ini saya senang bukan main. Kopi Indonesia is the best! Khawatirnya saya bisa menyelusup ke bandara internasional ini hanya gegara perkara kopi dan atmosfirnya yang mana tahan sulit ditolak<– perasaan yang terlalu berlebihan.

Bicara di luar terminal, ada Tropical Garden yang bakal disulap menjadi “Identitas”. “Alam Indonesia kaya raya harus diperkenalkan ke dunia,” bukan kalimat asli dari Rhenaldi Kasali maupun Budi Karya Sumadi, tapi seperti itu maksud dari ucapannya. Yang menarik lagi dari kalimatnya,”bagaimana caranya T3 tidak menggunakan banyak cahaya buatan  tapi cahaya dari langit.”

Terminal 3 - Garden
Terminal 3 – Garden

Selain taman, bakal ada patung-patung terpampang menuju T3. Sudah jelas patung-patung dibuat dari tangan-tangan Tuhan: Seniman Indonesia. Sayangnya taman yang baru saya lihat juga belum sempurna bentuknya dan belum ada penampakan patung-patung di jalan menuju bandara. T3 memang dijadwalkan beroperasi ‘secara lengkap’ di tahun 2017 – setelah transportasi kereta siap beraktivitas. Saya sih lebih memilih tahun depan untuk menikmatinya bersama warga global daripada tahun ini.

Di taman ini, Nyoman Nuarta akan menghadirkan wajah-wajah dari zaman Soeharto dan puncaknya Soekarno – Hatta. Pemimpin pertama Indonesia diabadikan dalam suatu karya setinggi 22 meter yang memberikan emosi dan sejarah yang tak terlupakan. Tropical Garden yang akan berucap,” Ini identitas kita.”

Angkasa Pura II tidak membuang Sejarah Indonesia beserta manusia, budaya, dan alamnya. Terminal 3 yang seluas 422.804, 40 m2 berunsur desain ombak dengan gema keseimbangan antara identitas yang terkoneksi pengetahuan dan teknologi global. Silahkan memandang lama-lama, karena akan hadir arus laut antara pulau yang mewakili gerak, perjalanan, dan koneksi ke lautan dunia.

Terminal 3 Check In Counter - Ragam Corak
Terminal 3 Check In Counter – Ragam Corak

Kita bisa melihat atap T3 berwarna putih saat kaki menapak di depan. Jika kita perhatikan lekuk-lekuknya mengambarkan ombak yang sedang menari. Begitu pula  kaca-kaca besar yang luas dan berposisi sedikit miring. Saya melihat dari sisi samping, depan, dan dari atas, semua tampak menjadi luas dan terang. Juga bergelombang, seperti riak-riak besar yang mengecil dan mengubah dirinya jadi elektromagnetik yang harmonis, segar, dan energik. Itu yang saya rasakan ketika memandangnya. Mungkin saya terlalu banyak berimajinasi.

Selanjutnya, sudah pasti mata dan kaki saya mengarah ke arah yang lebih luas (ruang check in). Dan menemukan di 206   counter yang atasnya bercorak batik Toraja, Papua, Jawa, dan entah apa lagi. Identitas mulai terasa di sini. Bila menengadahkan kepala ke  langit-langit, saya melihat lagi ombak-ombak itu. Untuk melihatnya, perhatikan secara dalam, kita pasti akan melihat ceiling-ceiling bertransparan yang ternyata bernama Waving Metal Ceiling dan bertenaga/cahaya  matahari.

Di lantai 3, saya jatuh hati pada pigura-pigura berjajar dan berukuran besar bagai berdiri saling  berhadapan dengan kita.  Pigura-pigura para maestro, artis-artis dan tokoh-tokoh  fenomenal. Idris Sardi paling menawan yang memantik untuk diabadikan, lalu saya potret. Ada pula si cantik Dian Sastro, Benyamin Sueb, Jokowi, Kaka Slank, Titiek Puspa, dan lainnya. People, yes, Indonesia atau negara mana pun pasti punya orang-orang/tokoh-tokoh yang pernah atau masih meramaikan ‘pentas’ di  tanah kelahirannya. Atau para tokoh yang telah menyumbangkan prestasi alias mengharumkan nama dirinya sekaligus bangsanya. Juga orang-orang yang memiliki daya kuat memengaruhi maupun mengubah ‘atmosfir’ negaranya.

Dian Sastro dan Tuttt
Dian Sastro dan Mr. Reshuffle

Pigura-pigura tersebut memang dekat dengan masyarakat/penduduk Indonesia. Angkasa Pura II sepertinya ingin mengenalkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki pujaannya. Ketika berkunjung ke suatu tempat, kita pasti berjumpa penduduk lokal dan mereka menyambut seraya memperkenalkan diri. Kita akan tahu apa yang mereka sukai, siapa ketua adatnya, makanan yang mereka makan, lagu-lagu yang dinyanyikan, baju yang dikenakan, dan banyak lagi. Seperti itu saya menangkapnya. Usul saya tolong dipercantik tampilan figura-figura tersebut, misalkan diberi lighting, peletakan yang rapi, dan lainnya. Yang masih saya lihat barangkali belum rapi dan mungin bakal rapi. Semoga nantinya nama-nama besar tersebut dapat berdiri dengan pemberian apresiasi tampilan yang tidak ngasal ataupun apa adanya.

Saya lupa di lantai berapa, saya melihat lukisan Nasirun yang masih terbungkus. Ditambah Rhenaldi dan Budi Sumadi yang berceloteh bahwa di T3 bakal berkeliaran  karya seni Nyoman Nuarta, Eko Nugroho, Eddi Prabandono, Angki Purbandono, Nus Salomo, Tromarama, Pintor Sirait, Ichawan Noor, Awan Simatupang, Galam Zulkilfi, Indieguerillas, dan Sardono W. Kusumo.

Terminal 3 - Karya Seni Nasirun
Terminal 3 – Karya Seni Nasirun

Semua nama-nama seniman itu memiliki karya yang ciamik. Barangkali karena saya penikmat seni, jadi saya suka. Yang paling saya tunggu-tunggu adalah karya Nyoman Nuarta. Contekan mengatakan beliau akan menyajikan “ruang yang ‘berisi’ kecepatan dan ketinggian”. Kecepatan dan ketinggian memang sangat identik dengan irama  bandara. Dan karya Nyoman Nuarta bisa dinikmati melalui Lukisan sepanjang 20 meter. (Sumber: Website Angkasa Pura II). Dan…tidak hanya lukisan, tapi akan berdiri patung Garuda setinggi 18 meter yang tubuhnya dapat tahan dari ‘debu-debu kental’  ratusan tahun dan pengaruh cuaca. Ah, Nyoman Nuarta. Suatu hari nanti saya harus bertemu dengannya jika semesta baik hati.

Kultur dan kearifan lokal sebagai perangkat keunggulan kompetitif  T3 yang akan menyaingi Bandara Changi, Singapura. Untuk melengkapinya Terminal 3 baru akan menggelar seni pertunjukan, ornamen-ornamen batik dan tenun, Batik wall, sculpture wall, cinema (masih dalam proses perencanaan) dan karya-karya seni bernafas modern.

Terminal 3 - Setiap karya seni bisa dilihat judul. arti, nama seniman melalui aplikasi Calibre
Terminal 3 – Setiap karya seni bisa dilihat judul. arti, nama seniman melalui aplikasi Calibre

Mampukah Bandara Soekarno Hatta Terminal 3 menyaingi Bandara Changi? Ditinjau dari teknologi dan desain modern, saya belum berani beropini – terlalu dini. Tapi jika dilihat dari People, dan Culture saya yakin bisa menyainginya namun tergantung dari ‘polesan’ arsitektur dan interior design: sequence, balance, unity, purpose, ryhtm, scale, dan point of interest. Dari segi nature, saya tidak punya gambaran/bayangan akan seperti apa jadinya, kecuali karya Nyoman Nuarta yang bakal kece berdiri di sana. Untuk teknologi canggih apa saja di T3, silahkan temukan artikel-artikelnya yang banyak tersebar di internet.

Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta akan digunakan untuk Garuda Airline dan destinasi internasional. Terminal 3 yang sudah dibangun 3 tahun dan sampai sekarang belum rampung, semoga wujudnya seperti  yang direncanakan dan didam-idamkan. Mengalahkan atau menyaingi, saya serahkan pemahamannya maupun cita-citanya kepada masyarakat luas. Banyak jalan menuju Roma untuk menjadikan Indonesia lebih percaya diri. Menyaingi Changi? Silahkan Angkasa Pura II. Beruntung kita punya manusia, budaya, dan alam yang kaya yang memang patut dibanggakan.

Beberapa karya seni yang bakal terpampang di Terminal 3 - Diambil dari Youtube Liputan 6
Beberapa karya seni yang bakal terpampang di Terminal 3 – Diambil dari Youtube Liputan 6

/T3 KacaTerminal 3 Ultimate ; Sari Novita

P1010040

22 Replies to “Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta: Ingin Saingi Bandara Changi?”

  1. Semoga terminal 3 Ultimate ini jadi kebanggaan kita, seperti orang singapur bangga terhadap Changi. Jadi kita tidak perlu menyaingi, bangga saja dengan identitas sendiri ya Mbak Sari 🙂

  2. Setiap hari ke Bandara ini kita jualan kacang goreng boleh gak ya? Hahaha…

    Meski blm resmi tapi sudah tampak hebat ya… Semoga bisa mengangkat nama baik bangsa dan negara. Amin…

      1. Di forum SSCI, mba. Forum yang mayoritas agak militan kecewa dengan T3 yang baru ini. Jujur saja banyak forum-ers disitu yang mendiskredit blogger-blogger yang diundang oleh AP2. Tapi karena tulisa mba Sari Novita cukup berimbang jadi menurut saya sangat berimbang jadi perlu di share.

        Tapi kalau mba kurang bersedia saya bisa mengerti. hehe.

          1. Terima Kasih, mba.

            Oya, saya pernah baca dan mendengar kalau kurator seni rupa di T3 Soekarno-Hatta ini adalah pak Chris Darmawan dari Semarang Contemporary Art Gallery, apakah masih? Apakah beliau disana pada waktu itu?

            Saya soalnya cukup suka koleksi beliau. hehe.

Leave a Reply