Menggaungkan Halal Lifestyle

Gaya  hidup halal tidak lagi menjadi benda asing yang jatuh dari langit ke bumi. Denggungannya menjalar ke berbagai belahan dunia bahkan ke negara-negara mayoritas non-muslim. Masyarakat umum banyak mengatakan ini adalah sebuah tren, namun ada yang beranggapan bila ini akibatnya tidak bagus karena bisa tergilas. Ada pula yang berpendapat bahwa ini adalah hal baik. Kemudian, orang bertanya-tanya apa sebenarnya gaya hidup halal itu.

Gaya hidup halal tidak sekadar menyantap makanan halal ataupun berhijab, tapi lebih luas dari itu. Dunia perbankan, investasi, musik, wisata, farmasi, kosmetik, fashion, bahkan majalah dan teknologi adalah aspek  gaya hidup halal. Dan di hari kamis, 28 April 2016, Grand Sahid Jakarta, Majalah Halal Lifestyle diluncurkan oleh Bapak Sapta Nirwandar, Pemimpin Umum Majalah Gaya Hidup Halal.

Tujuan peluncuran majalah Halal Lifestyle untuk mengedukasi, memberikan informasi dan peluang bagi pebisnis. Sekaligus mendorong sensitivitas masyarakat. Bapak Sapta sadar bahwa masyarakat Indonesia masih minim informasi dan edukasi perihal gaya hidup halal. Padahal halal lifestyle merupakan potensi besar di negeri ini dan Indonesia tidak boleh ketinggalan dari negara-negara lain, khususnya  negara non-muslim. Roma, Thailand, Singapore, Korea, Jepang merupakan negara non-muslim yang telah menerapkan konsep halal wisata dan kuliner.

Halal LIfestyle Magazine - Gaya Hidup ; Sari Novita

Wisata dan kuliner, 2 bidang yang masuk bagian dari industri halal, yang mempunyai pengertian: brand yang identik dengan kebaikan. Dan apa pun yang masuk bagian dari pariwisata menjadi  brand – sebagai salah satu industri halal. Halal Lifestyle Magazine menggaungkan gaya hidup halal tidak hanya melalui majalah, tapi juga website dan aplikasi. Media cetak memang sedang tersungkur, tapi Bapak Sapta optimis, “Bila penyajiannya bagus, orang pasti beli!” Penambahan website dan aplikasi halal dihadirkan sebagai kebutuhan masyarakat yang erat dengan digital.

Aplikasi halal sendiri mengambil contoh dari Thailand yang memiliki aplikasi halal untuk memudahkan wisatawan muslim. Hotel, Mesjid, Kuliner, dan Hiburan tersedia di aplikasi berikut lokasi dan label halal-nya. Penduduk Thailand yang memeluk agama Islam sebesar 5% dari jumlah total penduduk. Sedangkan Indonesia yang mayoritas Muslim justru belum memiliki aplikasi seperti ini. Karena itulah, Insya Allah 2 atau 3 bulan ke depan, aplikasi Halal akan diluncurkan sebagai fasilitas wisata mancanegara muslim dan masyarakat Indonesia. Juga untuk wisatawan non-muslim yang mencari kuliner sehat atau vegetarian.

Halal LIfestyle Magazine ,Sapta Winandar http://sarinovita.com/wp-content/uploads/2016/04/Halal-LIfestyle-Magazine-Pemred-Sapta-Winandar-Sari-Novita.jpg
Halal LIfestyle Magazine, Bapak Sapta Winandar. Foto: M.Sobari

Tren Halal Lifestyle, Islam Moderat, dan Islamisasi.

Hadir dalam acara peluncuran majalah Halal Lifestyle, Bapak DR.(HC) KH. Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI, turut mengutarakan opininya perihal gaya hidup halal. Menurutnya kita harus melakukan kewajiban bersertifikasi halal sesuai Undang-undang, bukan saja pangan, tapi juga pada barang penggunaan dan melakukan pengawasan yang tepat dan akurat. Hal ini dijalankan supaya tidak ada lagi yang tidak bersertifikat halal (untuk produk halal) dan ilegal menggunakan logo halal.

Indonesia harus menghasilkan produk yang kompetetif seperti negara Korea yang telah mempunyai produk halal. Dari MUI sendiri telah siap melakukan pengontrolan terhadap hal ini. Upaya yang dilakukan MUI juga menggandeng Pemerintah untuk sertifikasi UKM sehingga biaya operasional tidak ditanggung industri tapi pemerintah. Ke depannya MUI akan mencari sponsor agar turut membiayai.

Halal LIfestyle-Food-Sari Novita

Terkait tren halal, beliau mempunyai harapan untuk masyarakat Islam di Indonesia. “Industri halal akan meningkat. Berharap ini bukan tren. Jika kita tidak siap, maka kita akan ketinggalan.”

Tren hanya akan menggilas. Kita jangan terus tidur,” lanjutnya, yang juga sebagai Penasehat Kehormatan majalah Halal Lifestyle.

Sedikit berbeda dengan pendapat Bapak Sapta yang mengatakan tren itu bukan suatu yang jelek. Itu kecenderungan. Orang sekarang tidak hanya ingin hidup short term, tapi long term, aman dan nyaman. Masyarakat Indonesia sudah banyak menggunakan hijab dan itu telah menjadi tren. Dulu orang masih sungkan atau kerap dianggap orangtua bila berhijab. Seperti juga pakaian Batik, dulu orang bilang pakai batik itu kuno, sekarang orang malah bangga dan menjadikan pakaian ke undangan dan seragam kantor setiap hari jumat.

Menurut saya itu akan berjalan terus. Kebutuhan yang ingin hidup nyaman semakin tinggi dan jumlahnya besar. Kalau kita tidak siap, kita hanya akan menjadi konsumen,” ujar Bapak Sapta, mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Bapak Sapta juga mengungkapkan bahwa selama ini Indonesia masih menjadi konsumen. Hal ini perlu digaungkan agar bisa mencukupi kebutuhan kita sendiri dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

Majalah Halal Lifestyle
Majalah Halal Lifestyle

Halal lifestye merupakan kesempatan besar bagi Indonesia karena jumlah traveler muslim dunia sebesar 300 juta. Wisatawan muslim asing yang berkunjung ke Indonesia berjumlah 2 juta. Jika dari 1 juta dari mereka spending 1000, kita sudah mendapatkan 2 milyar dollar. Thailand sudah mendapatkan pemasukan sebesar 6 juta dari traveler muslim yang berkunjung ke negaranya.

Gaya hidup halal tidak perlu dikhawatirkan, tidak perlu bingung maupun ketakutan. Masih banyak dari masyarakat  berpikir konsep halal itu akan menutup bisnis mereka. Bukan untuk mengislamisasi tapi memberikan pilihan bagi masyarakat. Makanan halal tersedia, hotel yang ada Mesjid-nya pun tersedia, makanan non-halal dan hotel yang tidak mempunyai fasilitas Mesjid juga ada. Masyarakat diberikan kesempatan untuk memilih.

Halal Lifestyle-Kopi Aceh-Sari Novita

Pilihan itu memang kosakata tepat buat umat manusia yang memilih antara apa yang terbaik dan yang tidak terbaik untuk mereka. Industri halal memang menghubungkan apa yang ada di dalamnya dengan kebaikan. Gaya hidup halal bagi penganut Islam Moderat. Barangkali seperti itu kesimpulan yang bisa diambil.

Bapak Kyai Haji Ma’ruf kerap menyebutkan   Islam Moderat saat acara peluncuran. Dan menekankan hal yang sama dengan Bapak Sapta bahwa mengemakan gaya hidup halal bukan berarti mengislamisasi negara Indonesia. Yang perlu dilihat adalah peluang karena Indonesia punya potensi besar bermain di industri halal.

Memisahkan Halal dan Tidak Halal

Halalan Thayyiban. Pada makanan daging, bisa saja halal saat pengelolaannya, tapi tidak saat pemotongan. Atau halal pada pengelolaan/pemeliharaan dan pemotongan, tapi belum tentu halal saat proses memasaknya. Jika halam dan haram dicampur (pada makanan), maka yang dimenangkan adalah haram.

Berbeda halnya dengan situasi di pasar modal, modal halal dan modal haram, yang dimenangkan adalah modal haram. Sebabnya, modal itu tidak mudah diselusuri, memakan waktu dan lain-lain. Ini merupakan bahaya yang tidak bisa dihindari. Dan hanya salah satu dari bahaya yang dimaksud terkait halal.

Tempat pencucian alat memasak pun harus dipisahkan. Tidak sedikit restoran atau hotel mengunakan alat memasak yang sama untuk sajian halal dan non-halal. Produk yang menggunakan minyak babi pun banyak. Dalam hal ini Pemerintah akan menerapkan pemisahan halal dan non-halal, malah Pemerintah juga akan membuat pelabuhan yang memisahkan antara pria dan wanita – seperti yang ada di Malaysia. Tidak ketinggalan pada  rumah sakit. Pengembangan konsep halal bakal hadir di rumah sakit-rumah sakit yang ingin mengusung konsep ini.

Halal Lifestyle Aplikas. Sari Novita

Kehadiran majalah Halal Lifestyle menurut saya bisa menjadi corong perkembangan halal yang sudah mendunia ini. Seperti yang dijelaskan Bapak Sapta Nirwandar: edukasi, informasi, dan mendukung pebisnis industri. Majalah Halal Lifestyle ibarat sebuah jendela bagi masyarakat yang tidak hanya memeluk agama Islam, tapi juga pemeluk agama lain yang menerapkan konsep makanan/hidup sehat. Jendela langit Nusantara yang juga membuka tempat wisata berkonsep halal yang tidak hanya berada di Propinsi NTB, Sumbar, tapi daerah-daerah lain. Jendela langit yang membuka tabir cahaya kepada Nusantara dalam menjalankan kehidupan yang lebih baik. Yang lebih memesona, harmonis, tenteram, makmur, dan bahagia.

Note:

  • Pengertian Islam Moderat (Al-Islam Al-Wasath) yang saya contek dari Surat Al-Baqarah, ayat 143:

“Dan demikianlah Aku jadikan kalian umat yang “wasat” (adil, tengah-tengah, terbaik) agar kalian menjadi saksi bagi semua manusia, dan agar Rasul (Muhammad)  menjadi saksi (syahid) juga atas kalian.”

Pengertian yang bisa saja berbeda dengan kebanyakan orang.

Halal Lifestyle Magazine: Dokumentasi Sari Novita
Halal Lifestyle Magazine: Dokumentasi Sari Novita: http://wp.me/p6zQ23-1Vz

18 Replies to “Menggaungkan Halal Lifestyle”

  1. Tertarik sama pemindai halal berbasis aplikasi…
    mengenai sesuatu yang serbahalal saat ini, jadi ingat tisu di rumah pun sekarang udah halal 🙂

    btw, acaranya kayaknya menarik nih bu, tambah wawasan baru semua yang serba halal gitu, kan biasanya kita tahu cuma makanan aja…

  2. Mayoritas org Indonesia muslim tp kadang sy masih was was kalo mau makan diluar rumah mba, apalagi kalo nonton reportase investasi jd makin was 2 aja. Yang daging sapi palsu alias babi, daging gelonggong, makanan pake borak, dsb. Smo ga peluncuran mjlh ini membuat masyarakat makin teredukasi y

Leave a Reply