Pesona Kuliner di Lidah Pangkalpinang

Bujang dan dayang. Pangkalpinang, Maret 2016. Menyita perhatian saya tentang dayang dengan high heels-nya. Di tanah bekas timbunan tambang timah, Kampung Bintang. Dia peranakan Tionghoa yang saya pandang melalui jendela dapur yang lebar. Jendela dapur yang cukup dekat bisa dilihat dari gang ini. Di sampingnya, beberapa wanita Melayu dan Tionghoa sedang memotong sayuran. Dan dayang itu sedang mengaduk masakannya yang harumnya menusuk hidung. Berdiri di atas high heels-nya. Bukan main! Kemudian, saya terhipnotis masuk ke dalam Rumah Makan Asui.

Ketika berada di dalam, saya tersadar dan tak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya ide di kepala yang terlintas adalah “Maaf, boleh saya ambil foto?” Wanita-wanita di dapur itu langsung melihat ke arah saya. Satu wanita Tionghoa yang usianya tampak lebih tua dari si dayang mempersilahkan  tanpa penolakan. “Kalau mau pesan, panggil saja,” lalu wanita Tionghoa itu kembali pada kesibukannya.

Dapur Rumah Makan Mr. Asui Pangkalpinang. Dokumentasi: Sari Novita
Dapur Rumah Makan Mr. Asui Pangkalpinang. Dokumentasi: Sari Novita

Pesan? Saya ke sini hanya untuk lihat-lihat, bukan untuk makan. Eh, coba saya lihat dulu menunya. Amboi, ini makanan sea food. Duit dari mana ini? Makanan sea food pasti tidak murah. Hampir seluruh tabungan, saya belikan kamera mirrorless, sisanya membeli tiket dan biaya perjalanan ke Kota Pangkalpinang ini. Ok, saya pikir dahulu bagaimana keluar dari rumah makan ini dengan sopan. Maksudnya keluar dengan  tidak terlihat oleh mereka.

Saya duduk penuh tatapan tajam ke arah mereka. Tapi, si dayang dan harumnya makanan yang dia masak memecahkan konsentrasi. Saya pun terpaku. Tersesat di atas bangunan Nai Si Puk. Entah untuk berapa lama.

Akhirnya, saya tersadar. Berkat kepulan asap dari sebuah piring lonjong. Berisi pipi rona merah dan kaki dengan high heels-nya. Tubuhnya montok dan dilumuri wangi body lotion tiram. Tubuhnya berkeringat, tapi keringat aroma tomat, merica, dan bawang putih yang kental.   Itu kamu, Dayang?

Dan kamu tidak sendiri. Siapa di sampingmu? Si Bujang, kah? Ah, kalian sudah bukan lagi bujang dan dayang. Buktinya, mutiara-mutiara kecil berwarna oranye tersebut berada di perutmu. Saya memang sulit membedakan wanita single dan wanita yang sudah menikah di zaman ini. Barangkali, saya kurang memerhatikan perubahan tubuh pada wanita.

Tak lama saya tersentak. Mengingat kamu, dayang, yang memasak dirimu sendiri bersama si mantan bujang. Bujang dan Dayang yang berasal dari perairan laut Palembang. Tak heran tubuh kalian lebih besar dibanding bujang dan dayang yang berasal dari perairan laut Bangka. Bujang dan dayang yang di kepala saya adalah sepasang kepiting. Anehnya saya malah melahap kamu, dayang. Terakhir, saya juga memakan si mantan bujang. Lebih bahayanya lagi, saya jadi jatuh cinta dan tidak dapat melupakannya sampai detik ini. Padahal, kalian telah usai. Selesai tapi tidak berakhir karena suatu hari nanti saya pasti bertemu gerombolan kepiting di Pangkalpinang yang pasti saya akan  lahap juga.

Kuliner Khas Pangkalpinang

 

Kuliner Pangkalpinang dan Bangka-Belitung memiliki sejarah tersendiri. Penduduk Propinsi Bangka-Belitung banyak berasal dari Tionghoa dan Malayu. Orang-orang Tionghoa ini didatangkan oleh Sultan untuk mengerjakan pertambangan timah. Dan orang-orang Melayu didatangkan dari Johor. Orang asli Bangka sendiri disebut Bangkanise atau orang darat/gunung. Orand darat mempunyai literature yang mengunakan “darat”, misalnya Lempah Darat, Ikan Darat, dan sebagainya. Bumbu yang digunakan pada masakannya hanya terasi, garam, dan cabai. Kar Talas, atau akar keladi, dan sayuran  timun bisa dijadikan masakan Lempah Darat.

Lempah Kuning, Pangkalpinang. Sari Novita
Lempah Kuning, Pangkalpinang. Sari Novita

Sedangkan menu Lempah Kuning atau sea food berasal dari orang-orang Tionghoa. Orang-orang Melayu terkenal dengan kue-kuenya, seperti Rintak Sagu, Gandus, Kue Talam, Kue Jongkong, dan lain-lain. Selain itu ada kudapan lain yang terkenal di propinsi ini, yaitu Martabak Bangka yang berasal dari negeri Arab. Aslinya Martabak Bangka hanya berisi wijen dan gula pasir. Justru itu yang membedakan dari martabak manis di daerah lain.

Mengenai nama Kota Pangkalpinang tentu punya cerita sendiri. Pangkalpinang pada zaman Kerajaan Sriwijaya terkenal dengan daun pinang yang pernah menjadi komoditas ekspor. Ternyata, nama kota Pangkalpinang berasal dari jumlah pohon pinang yang banyak di kota ini. By the way, daun pinang itu termasuk bagian kuliner nggak, ya?

  1. Kuliner Sea Food, Rumah Makan Mr. Asui

Rumah Makan Seafood Mr. Asui Pangkalpinang-by Sari NOvita

Di depan jalan berdiri papan RM. Mr. Asui yang besar. Rumah makan yang bukan berada di jalan raya, tapi kita harus masuk ke dalam gang kecil. Sebuah gang yang cepat akrab karena mengingatkan saya dengan Kota Lasem. Rumah makan sea food di Lasem tidak terletak di sebuah gang, tapi perpaduan nuansa etnik Tionghoa dan Jawa begitu melekat. Begitu pula dengan gang yang bernama Kampung Bintang. Jendela rumah penduduk masih berbentuk jendela zaman dulu.

Kawasan Kampung Bintang memang suatu tempat yang memiliki historis. Dibangun oleh para penambang timah yang berdarah Tionghoa dan Melayu. Bahasa yang digunakan pun dua bahasa; Hakka dan Melayu. Sampai sekarang, dua bahasa ini masih digunakan, juga di pasar-pasar tradisional. Rumah-rumah mereka disebut Rumah Kongsi – rumah pekerja tambang. Keberadaan bentuk rumah di Kampung Bintang ini masih terjaga.

Bangunan Rumah Makan Mr. Asui pun masih terlihat kokoh, meski sederhana. Dari tampak depan, kita bisa melihat situasi dapur dengan jendela yang terbuka lebar. Di situlah saya mencium aroma yang mengoda dan para wanita yang memotong sayuran maupun  memasak.

Gang Kampung Bintang Pangkalpinang. Dokumentasi foto: Sari Novita
Gang Kampung Bintang Pangkalpinang. Dokumentasi foto: Sari Novita

Masuk ke dalam Rumah Makan Asui, tidak ada yang istimewa dan bukan bangunan mewah. Setelah mendapatkan meja di lantai dua, saya iseng turun ke dapur di lantai pertama. Kembali menyaksikan tangan-tangan wanita Tionghoa dan Melayu bekerja.

Kuliner sea food memang makanan khas Propinsi  Bangka-Belitung dengan ibukota Pangkalpinang. Tidak sukar menemukan sea food di propinsi ini. Selain khas, kita pun pasti mencari kuliner khas yang paling enak di tempat wisata. Bagi saya rumah makan Mr. Asui yang berada di Kota Pangkalpinang paling tak terlupakan. Menu kepiting rasa asam manis maupun lada hitam sangat terasa dan meresap ke dalam cangkang, kaki, dan dagingnya. Sebelumnya saya juga menemukan menu kepiting di Bangka, tapi rembesannya tidak sehebat di Rumah Makan Mr. Asui.

Satu lagi menu yang saya suka dari rumah makan Mr. Asui ialah Ikan Jubung bakar. Dibakar di atas bara arang. Saat dibakar, Ikannya dibiarkan natural tanpa bumbu. Namun, rasa alaminya membuat orang jatuh cinta. Tekstur dagingnya lembut dan gurih. Meski tidak mengunakan bumbu apa pun. Kalau saya suka dengan makanan yang dimasak apa adanya. Seperti bubur ayam, saya tidak pernah mengunakan kecap maupun kuah kuning. Bagi saya cita rasanya jadi buyar. Tentu hal ini sesuai selera orang-orang.

Ikan Jebung Pangkal Pinang. Dokumentasi foto: Sari Novita
Ikan Jebung Pangkal Pinang. Dokumentasi foto: Sari Novita

Ikan Jubung bakar disajikan bersama sambal terasi Toboali dan limau kasturi. Sambal yang dicampur dengan cabai, bawang putih, dan terasi. Disantap dengan perasan limau. Suatu kombinasi menikmati ikan Jubung secara sempurna. Sambal terasi dan limau kunci atau limau kasturi juga disajikan untuk menu Ekor Ikan Tenggiri yang juga terkenal di Pangkalpinang, Bangka-Belitung. Cara memasaknya pun sama. Tanpa bumbu. Justru karena inilah, resep Rumah Makan sea food yang dimiliki Hew Men Sui, diikuti oleh rumah-rumah makan sea food lainnya di Propinsi Bangka-Belitung. Dan ukuran ekor ikan tenggiri ini tidak kecil. Beratnya bisa mencapai satu kilo. Bisa dimakan lebih dari dua orang.

Makanan sea food lainnya yang tak kalah enak ialah udang rebus. Udangnya masih segar-segar dan manis di lidah. Walau ukurannya tidak besar. Tapi saya sangat menikmatinya. Ditambah makan sayur kangkung yang dicampur udang kecil.

Untuk minuman, saya memilih  Es Kelapa Jeruk Nipis. Kombinasi kelapa dan jeruk nipis yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Rasanya enak juga. Jangan lupa menambahkan es batu. Rasanya semakin segar dan ada sensasinya – karena perpaduan kelapa dan jeruk nipis. Bayangkan minum es jeruk seraya mengunyah daging kelapa.

Es Kelapa Jeruk Nipis. RM Mr. Asui, Pangkalpinang. Dokumentasi Foto: Sari Novita
Es Kelapa Jeruk Nipis. RM Mr. Asui, Pangkalpinang. Dokumentasi Foto: Sari Novita

Hmm, jelaskan mengapa saya menempatkan Rumah Makan Sea Food Koh Asui ini di tempat pertama. Rumah makan itu membuat saya berniat untuk kembali dan kembali. Lucunya, kepiting-kepiting itu menjadi imajinasi liar saya: seorang wanita cantik dengan high heels-nya.

 

  1. Pempek 10 Ulu Palembang
Pempek 10 Ulu Pangkalpinang. Dokumentasi Foto:Sari Novita
Pempek 10 Ulu Pangkalpinang. Dokumentasi Foto:Sari Novita

Pempek memang terkenal berasal dari Palembang. Sebenarnya, berasal dari Bangka. Sebelumnya, Propinsi Bangka –  Belitung menjadi bagian dari Propinsi Sumatera Selatan. Sejak tahun 2000, Bangka-Belitung memisahkan diri menjadi proponsi dengan Ibukota Pangkalpinang. Terus terang saya baru tahu soal ini. Bila tidak dijelaskan oleh Bapak Akhmad Elvian, Kadin Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Pangkalpinang, barangkali saya masih berpegang kuat bahwa pempek berasal dari Palembang.

Menurut Bapak Elvian, pempek yang berada di Kota Palembang berasal dari ikan yang hidup di sungai. Berbeda dengan pempek yang ada di Pangkalpinang maupun Bangka yang berasal dari ikan laut, Ikan Tenggiri.

Pempek 10 Ulu Pangkalpinang. Dokumentasi Foto:  Sari Novita
Pempek 10 Ulu Pangkalpinang. Dokumentasi Foto: Sari Novita

Pempek 10 Ulu Palembang yang berlokasi di Jalan Sudirman, Kota Pangkalpinang adalah pempek terenak dan terbaik di kota ini. Rasanya lebih enak dari pempek Palembang yang biasa dibawa dari Palembang oleh relasi maupun keluarga. Padahal mereka membeli pempek tersebut dari rumah makan terkenal dan terenak di Palembang. Jadi jangan heran bila saya menyetujui ucapan Bapak Elvian.

Pempeknya masih terasa segar, gurih, dan rasa ikannya begitu pekat di lidah tapi tidak membuat enek. Pempek 10 Ulu Palembang, Jalan Jenderal Sudirman, saya rekomendasikan bila mengunjungi Kota Pangkalpinang. Sama halnya saya rekomendasikan Rumah Makan Mr. Asui bila ingin menikmati hidangan laut yang lezat dan alami.

 

  1. Kerupuk Bangka

Karena propinsi ini dikelilingi oleh laut, bahan-bahan penganan kerupuk pun mengunakan hasil laut. Propinsi Bangka-Belitung juga disebut sebagai “Kota Seribu Kerupuk”. Yang diolah dari telur kepiting, telur cumi, siput gunggung, dan hasil laut lainnya.

Getes/getas bangka. Dokumentasi Foto:  Sari Novita
Getes/getas bangka. Dokumentasi Foto: Sari Novita

Olahan laut yang saya sukai: Kerupuk Kemplang,  Getes (getas) bulat, dan Getes Panjang. Kerupuk yang enak saya temukan di Rumah Makan Pempek 10 Ulu dan pemberian dari orang-orang yang terus menjaga alam, budaya, sejarah, bahasa, dan kulinernya begitu kuat. Sebelum dan sesudah saya ke propinsi ini, saya masih tetap menyukai kerupuk olahan laut tersebut. Apalagi kalau gratis..tis.tis..Hahaha.

Kerupuk Kemplang Pangkalpinang. Dokumentasi Foto: Sari Novita
Kerupuk Kemplang Pangkalpinang. Dokumentasi Foto: Sari Novita
  1. Kopi Pangkalpinang

Siapa bilang tempat wisata ini tidak memproduksi kopi. Buktinya saya menemukan kopi di samping HO’s Cafe. Biji kopinya memang  merupakan biji pilihan terbaik yang berasal dari Lampung. Tapi produksi dan penggilingannya di lakukan di Pangkalpinang. Kopi yang saya cicipi ini namanya Kopi Kingkong. Dikenal sejak tahun 1980 dan kerap juga disebut sebagai Kopi Bangka.

Kopi Kingkong Pangkalpinang. Dokumentasi Foto: Sari Novita
Kopi Kingkong Pangkalpinang. Dokumentasi Foto: Sari Novita

Kopi Kingkong baunya harum dan rasanya nikmat. Sedikit kasar tapi teksturnya tidak menganggu ketika meneguknya. Setiap kopi memang mempunyai rasa yang berbeda. Begitu dengan Kopi Kingkong, tidak tajam, tidak asam, namun wangi dan rasanya juga bisa menenangkan. Untungnya saya sempat membeli sebungkus kopi Kingkong.

Untuk tempat ngopi yang enak di Pangkalpinang ialah Warung Kopi Tung Tau. Sayangnya saya tidak sempat mencicipi kopinya.

  1. Sarang Burung Walet

Bukan kopi saja menyediakan cafe atau warung bagi penikmatnya. Sarang burung walet juga punya cafe yang menyediakan minuman segar berbahan Sarang Burung Walet. Harganya pun berkisar limapuluh ribuan. Tidak jauh berbeda dengan harga kopi di cafe-cafe. Dan manfaatnya banyak untuk kesehatan.

Sarang Burung Walet, HO's Cafe, Pangkalpinang. Dokumentasi Foto: Sari Novita
Sarang Burung Walet, HO’s Cafe, Pangkalpinang. Dokumentasi Foto: Sari Novita

Nama cafenya, HO’s Cafe, pemiliknya sama dengan toko oleh-oleh atau tempat saya membeli kopi, Koh Candra. HO’s Cafe juga menyediakan kopi dan makanan. Sayangnya saya tidak sempat menikmatinya. Tapi bagi saya menemukan tempat ini bisa jadi rekomendasi bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Pangkalpinang. Jika saya tidak bertemu dengan pemiliknya, mungkin saya tidak akan pernah tahu, sarang burung walet yang banyak manfaatnya itu adalah air liur burung walet. Air liurnya juga yang membuat sarang-sarang burung walet.

HO's Cafe Sarang Burung Walet, Pangkalpinang. Dokumentasi Foto: Sari Novita
HO’s Cafe Sarang Burung Walet, Pangkalpinang. Dokumentasi Foto: Sari Novita

 

Selain lima kuliner di atas, masih banyak lagi kuliner khas Pangkalpinang maupun Bangka-Belitung. Contohnya Mie Koba yang kuahnya merupakan rebusan ikan tenggiri, Pantiaw (Pantio) Kuah Ikan, Otak-otak, Susu Tahu Kedelai (thaivusui) yang rasanya lezat, dan kuliner khas lainnya.

Susu Tahu Kedelai-thaivusui Pangkalpinang. Sari Novita
Susu Tahu Kedelai-thaivusui Pangkalpinang. Sari Novita

Perkara kuliner ibarat manusia yang jatuh cinta atau patah hati. Patah karena belum menemukan pujaan hati yang sesuai atau pas ataupun kuliner yang dilahap tidak sesuai dengan bayangan dan harapannya. Dan Jatuh cinta karena rasa dari kuliner tersebut membuat perangkat memori enggan melepaskannya. Persis saat jatuh cinta kepada seseorang yang membuat hati bahagia.

Jatuh cinta maupun patah hati punya cerita dan prosesnya sendiri. Serupa halnya proses menemukan kuliner yang memesona lidah. Indonesia kaya kuliner dan itu tidak pernah habis untuk dieksekusi dan dieksplor. Kuliner Pangkalpinang telah sukses membuai lidah dengan rasa yang ‘mengoyangkan’.

 

Lokasi RM Mr. Asui:

Jl. Kampung Bintang Dalam 93/12, Pangkalpinang, Bangka-Belitung.

 

Lokasi Pempek 10 Ulu Palembang

Jl. Jenderal Sudirman, Pangkalpinang, Bangka-Belitung.

Lokasi HO’s Cafe:

Jl. Achmad Rosidi Hamzah, Pangkalpinang, Bangka-Belitung.

10 Replies to “Pesona Kuliner di Lidah Pangkalpinang”

  1. Kuliner pangkal pinang yang paling aku suka mah mpek-mpek. Kalo disana mpek-mpeknya pasti rasanya masih asli banget ya Mak.. Seafood dan ikan-ikanan juga pasti masih seger-seger ya, kalo di daerah sini susah nemu ikan fresh, maklum jauh dr laut.. Huhuhu

    1. Lempah kuning enjessssss Mbak…pake nanas di kuahnya..bikin aja resto khas Pangkalpinang di Surabaya Mbak

  2. kuliner di pangkal pinang memang ueannak bgttt mbak.. aku pas ke sana puaaaas bgt mkn seafoodnya.. semua enak. segar dan ga mahal lah… itu ikan jebung sepintas memang biasa aja ya…pas nyobain dagongnya yg mnis baru deh brubah pikiran 😉 ..pokoknya klo k bangka belitung, tujuan utama kuliner deh… apalagi aku ga suka pantai :D.. mnding makan aja slama di sana 😀

    Oh iya, aku setUju klo pempek bangka lbih enak drpd palembang 😀

Leave a Reply