Film I am Hope: Mia, Maia, dan Bracelet of Hope

Kemarin, 9 Febuari 2016, Film I am Hope telah melaksanakan Press Conference dan Gala Premiere di Epicentrum Kuningan. Saat Press Conference, Wulan Guritno, Janna Soekasah, perwakilan Wardah, dan Alkimia Production, lebih berbicara tentang Gerakan Gelang Harapan atau Bracelet of Hope daripada filmnya. Gerakan yang inspiratif, tapi entah kenapa terdengar membosankan didengar saat press conference kemarin. Itu menurut saya pribadi.

Pastinya saya menangkap konsep Gerakan Gelang Harapan yang bagus. Gerakan gelang harapan ini bertujuan meng-grab masyarakat seluas-luasnya. Ada musik (konser), film, buku, komunitas, dan relawan yang bisa menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin mendukung  dan memberikan harapan kepada penderita kanker. Sehingga, masyarakat bisa mendukung program ini melalui minat yang mereka sukai.

Film I am Hope bakal tayang 18 Febuari 2016. Buku I am Hope pun telah siap dibaca. Konser musik sudah dilakukan sebelum Gala Premier. Komunitas masih terbuka buat yang ingin terlibat. Gelang Harapan atau bahasa bule-nya Bracelet of Hope masih terus diproduksi dan menunggu tangan-tangan yang menjemputnya. Barangkali, nanti akan ada pertunjukan teater I am Hope. Atau festival seni dan workshop yang bisa mengajak masyarakat lebih luas lagi.

Kanker memang bukan persoalan sepele. Dari gerakan Gelang Harapan, saya melihat animo yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bisa dikatakan sekarang ini jumlah pendukung kepada penderita kanker mulai menunjukan kepedulian dengan berbagai bentuk kegiatan. Barangkali, gegara Bracelet of Hope, kepedulian masyarakat tumbuh. Gerakan ini pun punya cara marketing yang bisa mudah disentuh orang banyak, seperti konsep yang telah ditulis di atas.

Tidak heran, Wardah, Hard Rock Radio, dan sekitar 10-an produk meramaikan, tentu juga membantu berlangsungnya acara gala premier I am Hope.

Film I am Hope

Bicara tentang film, saya bingung menulisnya. Di pertengahan film, saya sudah bertanya-tanya kapan selesai film ini? lagi-lagi ini hanya pendapat saya pribadi. Jadi abaikan. Kenapa harus mengabaikan? Sebabnya, kita bisa mengurungkan niat membantu atau mendukung penderita kanker, bila tahu dari orang lain bahwa suatu  tidak sesuai dengan isi kepala.

Mari melompat ke pembahasan lain.

Film I am Hope bercerita tentang Mia yang didiagnosa kanker paru-paru stadium 3 di saat keinginan pertunjukan teater begitu mengebu. Konflik terjadi ketika Mia harus fokus menjalankan terapi dan sang ayah, Raja yang kurang merelakan Mia terjun menggapai mimpinya. Hal itu dikarenakan istri Raja atau Ibunya Mia meninggal dunia akibat kanker.

Ibu yang melingkari tangan Mia dari sejak kecil dengan sebuah gelang yang kerap dicium oleh Mia. Gelang yang membawa memori Mia bersama Ibunya (diperankan oleh Feby Febiola). Gelang yang terkadang membuat Mia menangis dan terkadang pula membuatnya semangat.

Antara Kanker, Ayah, Gelang dan Maia, Mia tetap terus ingin dan berusaha mewujudkan impiannya. Walau di awal, Mia sempat tidak lagi berkeinginan apa-apa. Beruntungnya ada Maia yang selalu hadir di saat Mia membutuhkan. Nah, di bagian Maia (diperankan oleh Alessandra Usman) ini yang saya suka.

Masih ingat waktu kita punya teman khayalan saat kecil? Sosok Maia ini mengingatkan saya tentang teman khayalan. Tapi di film I am Hope, Maia bukan teman khayalan, melainkan sebuah harapan yang dibangun oleh Mia. Maia tidak real tapi Maia membuat Mia hidup lebih dari yang diperkirakan oleh dokter.

Saya pun setuju dengan ucapan Wulan Guritno, pada kanker, semua orang terlibat dan semua orang berjuang. Tidak berbeda dengan kesehatan mental, adiksi, dan penyakit lainnya. Tidak hanya orang yang menderita penyakit tersebut, tapi orang-orang sekitarnya juga turut berjuang.

Dukungan dari perjuangan orang-orang terdekat atau orang-orang sekitar sangat dibutuhkan dan dampaknya besar sekali bagi penderita.

Di film I am Hope memperlihatkan Raja (diperankan Tio Pakusadewo) dan David, pacar Mia (diperankan oleh Fachri Albar) yang sama-sama berjuang untuk kesembuhan dan kebahagiaan Mia (diperankan Tatjana Saphira). Raja berusaha mengalahkan ‘mimpi buruk’nya dan David berupaya menghalau dilema antara ayah Mia dan mimpi Mia.

Maia pun berjuang dengan membuka pikiran Mia.

“Kalau kamu merasa sebentar lagi mati, jangan buang kesempatan itu,” begitu kira-kira ucapan tegas Maia dalam film I am Hope.

Bukan soal impian Mia mengenai pertunjukan teater saja, tapi juga ketika Mia tertarik dengan David. Maia memaksa Mia untuk memberanikan diri mendekati David agar bisa berkenalan. Karena kesempatan akan hilang bila dilewatkan begitu saja. Kesempatan dalam hal apa pun. Apalagi tentang impian, jodoh, dan masa depan.

Di film ini saya suka Mia yang mendatangkan Maia dan menjadikannya sebagai semangat dari roh sebuah harapan. Maia yang selalu hadir di tengah kesedihan dan kebahagiaan Mia. Barangkali, apa yang dilakukan Mia perlu dicontoh untuk semua orang yang berupaya terus mempertahankan harapannya. Sepertinya sangat berdampak positif secara psikologis.

Terhadap orang-orang yang tanpa penyakit pun, ‘Maia’ bisa menjadi teman bicara dalam menentukan keputusan atau bila berada dalam pikiran yang negatif. Maia bisa  mengubah hal negatif menjadi hal positif. Maia yang hidup, Maia yang ceria, Maia-Maia yang ada melebihi kondisi terlemah kita. Posisi Maia harus lebih tinggi agar tidak sama-sama tenggelam. Posisi Maia yang bisa mengangkat kita untuk lebih ‘hidup’.

Pastinya lagi, film ini menyebarkan harapan bagi penderita kanker. Jangan pernah hilangkan harapan atau impian dalam keadaan apa pun. Karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di depan. Karena kita tidak pernah tahu keajaiban Tuhan. Karena kita tidak pernah tahu kapan waktunya untuk ‘berpulang’ ke Tuhan.

Harapan bisa membuat manusia hidup sehidupnya, berkali-kali lipat, berjuta-juta api, dan berkilo-kilo serta berton-ton semesta yang meniupkan ‘nafas’.

Jika kita peduli terhadap kanker, mengapa kita tidak salurkan saja melalui film, buku, gelang, komunitas, dan relawan GelangHarapan. Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan menuju kebaikan dan berbagi harapan. Film I am Hope, ada Mia, Maia, dan Gelang Harapan yang menghidupkan nyawa bagi penderita kanker.

Press Conference I am Hope Movie, by Sari Novita
Press Conference Film I am Hope, Epicentrum Kuningan

 

Radio Hard Rock Saat Gala Premier Film I am Hope, by Sari Novita
Radio Hard Rock 87.6 FM Saat Gala Premier Film I am Hope
Tenda-tenda di Red Carpet Film I am Hope
Tenda-tenda di Gala Premier Film I am Hope
Di Tenda Gelang Harapan atau Bracelet of Hope
Di Tenda Gelang Harapan/Bracelet of Hope

4 Replies to “Film I am Hope: Mia, Maia, dan Bracelet of Hope”

Leave a Reply