Jalan Meningkatkan Kualitas Hidup

“Jika aku mati nanti, aku ingin mewarisi generasiku tanah  yang tumbuh tanaman hijau dan subur, air sebening mata mereka saat dilahirkan, pandangan hati dan pikiran seperti pelangi, suara alam yang membangunkan pagi, dan pengetahuan yang menuntunnya. Agar mereka mempunyai kualitas dan menjadi generasi yang lebih baik.”

Tanah lapang dan penghijauan semakin hari jarang terlihat. Air jernih mungkin masih bisa ditemukan di desa-desa, tapi tidak di kota-kota. Kepenatan hidup dan pekerjaan menjadikan orang luput pada alam dan lingkungan sekitar. Pemakaian energi yang manusia gunakan setiap hari bisa menipiskan sumber daya energi yang dimiliki bumi ini. Bukan itu saja, tapi jika bicara soal lingkungan hidup akan bersinggungan ke mana-mana. Misal: sampah, plastik, minyak bumi, listrik, polusi, dan banyak lagi.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Desember 2015, Arion-Swiss Belhotel, Kemang, mengundang mahasiswa, media, blogger, dan pihak terkait dalam “Workshop Menyonsong Generasi Muda Indonesia yang Sehat dan Berkualitas“. Tema workshop yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk generasi muda saja, melainkan masyarakat segala usia. Dengan workshop ini diharapkan kita dapat mewariskan generasi yang mempunyai kualitas hidup lebih baik di masa depan. Kualitas hidup yang dimulai dari diri sendiri.

Ada 2 sesi pada workshop ini yang sama pentingnya untuk mencapai tujuan tersebut. Namun saya hanya merangkum dari tiap sesinya dalam postingan ini.

Dr. Riza Suarga, Ketua Tim Teknis SPM Pasar Rakyat, mengajak semua yang hadir untuk merefleksikan ke diri agar punya standar hidup. Dimulai dari hal kecil: buang sampah di tempatnya, hidup teratur, dan hemat listrik. Standar hidup terhadap lingkungan hidup yang bersinggungan erat dengan masa depan diri selanjutnya. Kebaikan itu menular, begitu pula perilaku positif. Dimulai dari 1 orang, dan yang  lain akan mengikuti.

Namun, tidak cukup di situ. Diperlukan keberlanjutan dengan menjalankannya secara konsisten. Dr. Riza menekankan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Reduce: menggunakan kembali sampah yang masih bisa digunakan. Reduce: mengurangi segala sesuatu yang mengakitbatkan sampah. Recylce: mengolah kembali sampah menjadi barang yang bermanfaat. 3R bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja dan tanpa mengeluarkan biaya. Yang dibutuhkan hanya kepedulian dan kemauan untuk mengubah gaya hidup.

Gaya hidup? Iya, nyambung dunk dengan gaya hidup kita. Misalnya saat kita belanja, pasti pakai plastik, kan? Dan belanja plus kantong plastiknya sudah masuk ke gaya hidup kita. Dr. Riza Suarga menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan diet kantong plastik, jika bisa meninggalkannya.

Dampak Negatif Plastik Pada Kualitas Hidup
Dampak Negatif Plastik Pada Kualitas Hidup

Yang kita bisa lakukan: gunakan kantong plastik yang biodegrable, penggunaan wadah seperti jerigen untuk produk cair (minyak goreng, kecap, dan lain-lain), pemilahan sampah kertas, plastik,  dan lainnya untuk didaur ulang.

Menyediakan taman di rumah atau di tempat umum dan menanam pohon, mungkin di antara kita banyak yang masih melakukannya. Masalahnya, taman dan pohon penghijauan makin jarang terlihat di kota-kota yang juga membutuhkan ‘pernafasan’ yang segar.

Menurut Dr. Riza Suarga tantangan besar sekarang ini adalah memasyarakatkan standarisasi di kalangan UMKM dan konsumen. Pada sesi ini beliau memang membawa tentang Standar Pelayanan Masyarakat terhadap pasar rakyat. Tidak hanya perusahaan saja yang punya SOP, tapi pasar juga harus punya. Dan secara diri sendiri, kita pun perlu memiliki standar hidup – seperti yang telah disebutkan di atas. Saat ini sudah ada 3 pasar yang memiliki SNI, tapi belum ada role model untuk dijadikan sebagai kisah sukses (success story). Masyarakat bisa melihat Pasar Modern di Bintaro dan BSD sebagai pasar rakyat yang telah memiliki SOP dan bagus.

Sustainable Consumption
Konsumsi Berkelanjutan

Selanjutnya, sesi wisata alam yang tidak kalah menariknya dibahas dan perlu diterapkan oleh kita. Tidak sedikit dari kita suka memberikan makanan kepada hewan-hewan di kebun binatang. Sebenarnya tindakan itu tidak diperbolehkan. Alasannya, untuk efisien penggunaan sumber daya dan menjaga kesehatan hewan-hewan. Sama halnya dengan memetik tanaman di tempat wisata alam, ini jelas merusak lingkungan. Apalagi sikap ramah lingkungan perlu ditumbuhkan dari sejak kecil atau saat ini juga bagi yang dewasa. Ramah lingkungan sebaiknya tidak hanya menuntut kita, tapi Pemerintah atau pihak pengelola wisata wajib menyediakan tempat sampah.

Saya melihat sendiri wisata Alam Di Tahura, Bandung yang tidak menyediakan tempat sampah sepanjang menuju Curug Omas. Sesampainya di sana pun, genangan sampah membuat pemandangan indah jadi tak elok lagi. Seorang teman saya yang ikut bersama, menyarankan agar pengunjung membawa kantong plastik sendiri. Ini sebuah sikap yang perlu contoh, akan lebih baik mengunakan plastik recycle seperti yang telah disebut di atas.

Kemudian Ibu Baroroh menyarankan hemat pemakaian AC dan suhu, contoh microwave di rumah maupun di food cort, gunakan lampu dengan produksi SNI, hemat air di wisata alam meski berlimpah. Dan untuk mall atau gedung, upayakan membuat sirkulasi di tempat parkiran. Satu lagi hal yang kerap meresahkan kita, ialah toilet di tempat umum termasuk di tempat wisata. Banyak wisatawan asing mengeluh mengenai toilet di Indonesia. Fasilitas toilet bisa menjadi salah satu pertimbangan para wisatawan untuk berkunjung atau tidak dan mendapatkan kenyamanan.

Hal ini perlu kerjasama masyarakat, Pemerintah, dan pengelola setempat. Menurut saya, masyarakat dalam menggunakan toilet pun perlu kesadaran dan sikap/perilaku menjaga kebersihan diri sendiri lebih dahulu. Misalnya saja menyiram kotoran sendiri atau membuang air seni di toilet bukan di lantai. Penempatan tissue pun sebaiknya dipisah tersendiri (selain di kamar toilet).

 Selanjutnya sesi kedua yang dibawakan oleh Ibu Naning Adiwara, Chairperson Green Building Council Indonesia. Hal yang ditekankannya tidak berbeda jauh dengan Dr. Riza Suarga:

“How to live in the future. How the youth people raise the quality of life” – Naning Adiwara.

Ibu Naning mengungkapkan bahwa kita harus hidup di antara alam, bukan di atas alam. Dan keseimbangan ekologi akan membuat ekosistem yang sehat. Kedua kalimat yang bagi saya perlu direnungkan bersama. Alam dijadikan teman karib, bagian dari diri, bagian kehidupan. Karena memang itulah nyatanya, tanpa bisa dipungkiri. Beberapa poin untuk mengeratkan kedua kalimat tersebut ke dalam kehidupan kita:

  • Micro Plant : Menanam tanaman yang  tidak perlu banyak disiram  misalnya tanaman liar dan penghalau nyamuk.
  • Save Energy: Hanya 3% air di bumi yang saat ini dapat di-share
  • Kran : Belilah kran timbal karena bisa menghemat air
  • Air rebus : Mengurangi minum dari air rebus. Virus memang mati, namun kimia dalam kandungannya tidak mati
  • Purify Water Sanitary/Filtering : Yang sudah SNI

Itulah rangkuman saya. Sedikit namun bisa bertahap meningkatkan kualitas hidup dengan mencolek kesadaran, membangun sikap, dan menjalankan secara terus-menerus (berkelanjutan). Setidaknya untuk diri sendiri dahulu.

Saya menghirup nafas di ruang alam semesta. Nafas yang saling memompa nyawa bersama lingkungan hidup secara konsisten. Nyawa-nyawa yang bukan saja manusia, tapi juga makhluk hidup dan alam, yang suatu hari nanti harus bernafas lebih segar daripada saya.

Entah dengan Anda?!