Untuk Pacarku di Jakarta

Diaku pernah bertanya, “Mengapa orang harus menikah?”

Seseorang menjawab, “Untuk meningkatkan kualitas hidupnya.” Bah, lalu apa yang terjadi terhadap orang-orang yang bercerai? Kualitas hidup mereka menurun?

Selanjutnya, diaku mendapat berbagai jawaban; untuk mempunyai anak yang bisa mendoakan saat kita tak lagi bernyawa, untuk teman di hari tua, untuk menjalankan hak dan kewajiban dari Tuhan, untuk lebih merasa, memahami, simpati, empati, peduli, tanggung jawab dan untuk lainnya yang diaku malas menyebutkannya secara panjang.

Suatu ketika diaku pergi menemui orang-orang yang tidak menginginkan komitmen, atau yang tidak percaya pada komitmen, atau yang mengatakan pernikahan hanya sebagai jaminan bahwa kita punya pasangan dalam jangka waktu tertentu (syukur-syukur dalam jangka waktu panjang), atau yang menganggap pernikahan hanyalah sebuah malapetaka. Dan yang lebih menendang pertanyaan dari sekelompok orang, ” Apakah pernikahan menjamin hidup orang tersebut bakal bahagia?”

Bahagia atau tidak bahagia, itu bukan urusan diaku. Itu urusan yang kan kembali kepada orang-orang yang mencari kebahagiaannya secara brutal ataupun tidak. Bicara soal kebahagiaan lain..

Di awal tahun 2015, diaku harus memenuhi pekerjaan menjelajah Nusantara. Di salah satu bagian Nusantara, diaku berjumpa seorang wanita yang tak bakal diaku deskripsikan wujud, sifat, pekerjaan, dan kebiasaannya. Hanya satu kalimat yang diaku katakan,”Dia tidak bisa memasak.” Diaku juga tidak akan menceritakan hal-hal yang dapat menyibak tabir diaku. Tabir?

Kali pertama diaku melihatnya saat dia telentang di atas batu karang dengan deburan ombak sebagai latar belakang yang sengaja dipilih oleh sang fotografer. Diaku terus memerhatikan sesi pemotretan itu sampai selesai. Ketika gelas-gelas ombak menghampirinya, dia bagai mendapatkan kecupan dari segala panorama di sana. Dan diaku sangat menikmati hal tersebut.

Bukan. Dia sama sekali bukan foto model. Lalu? Jawab saja terserah pikiran dikamu.

Otomatis diaku langsung berkenalan dengannya. Tentu setelah jepret-menjepret itu selesai.

“Bagas.”

“Santika.”

“Mirip nama hotel.”

Dia hanya tersenyum sedikit,”Selamat liburan. Selamat nikmati lanskap indah ini.” Kemudian dia pergi menghampiri tukang jepret itu. Itu saja. Diaku pun protes, “tidak untuk liburan, tapi bekerja.”

Protes dalam pikiran karena bila diaku bersuara, dia pasti bertanya; “O, fotografer,ya?” ; “O, travel blogger?”; “O, guide tamu asing?”; “o, lagi survei tempat,ya?”; dan pertanyaan-pertanyaan yang pasti tidak bisa ditebak olehnya. Mungkin juga dia bisa menebak, tapi habis waktunya karena diaku potong ucapannya dan langsung menjawab,”Chef.”

Mengabadikan melalui video saat mengolah hidangan laut dengan latar belakang pemandangan pantai yang masih perawan. Pasir  pantai yang nyaris berwarna putih sempurna dan berubah warna jadi biru awan ketika musim hujan. Tanaman-tanaman tanpa daun yang membingkai batang-batangnya menjadi bentuk yang cantik, apalagi jika dipotret, hasilnya bakal luar biasa indah. Bunga mawar  merah dan putih yang menjalar di antaranya. Dan udara yang selalu sejuk meski di musim panas.

Latar belakang ini, tak diaku biarkan begitu saja. Keinginan bertahun untuk sampai ke sini dan mengabadikannya. Untungnya lagi, diaku dibayar oleh pihak televisi untuk memasak dengan latar belakang Nusantara yang belum tersentuh oleh orang banyak.

Perkenalan yang sekejap. Namun membuat diaku bernafas lebih luas yang menghantarkan  kebahagiaan berlipat ganda.

~*~

Singkat cerita, diaku berjumpa kembali dengan Santika. Untuk kali kedua. Untuk kali ketiga. Entah ke berapa kali, akhirnya diaku memacarinya. Selanjutnya, muncullah percakapan-percakapan yang semakin banyak dikumpulkan dan tetap tersimpan dalam memori diaku.

“Mengapa tidak kembali ke Jakarta?”

“Belum saatnya.”

“Jadi kamu belum tentu ke Jakarta sepanjang tahun ini?”

Santika diam. Menatap lurus diaku.

“Bagaimana jika aku rindu kamu?” tanya diaku lagi sambil membalas tatapan lurus juga.

“Kamu yang ke Bali.”

“Meskipun aku di Aceh?”

“Aku yang akan ke Aceh. Pokoknya tidak Jakarta!”

Ada apa dengan Jakarta? Diaku jadi mengira-ngira.  Satu-satunya jawaban di pikiran diaku yang pasti semua orang akan mengiranya juga: Jakarta telah bikin dirinya patah. Tapi, ternyata bukan itu jawabannya.

Bali telah berhasil menenungnya hingga dia mati rasa pada Jakarta. Ubud menjadi alasan sebagai tempat dirinya membuat perhiasan perak. Itu baru salah satu kegiatan yang digemarinya. Denpasar, Kuta, Sanur, Seminyak, Kerobokan, dan Canggu, adalah wilayah-wilayah gaduh yang justru malah membuatnya semakin memiliki Bali. Bagi diaku daearah-daerah tersebut sudah tidak mengasyikan lagi.

“Medan para pendatang bertempur menghadapi identitas dan kehidupan barunya,” begitu alasannya. Yang membuat hampir setiap hari dia kunjungi. Untuk mencoret-coret garis karikatur kisah orang-orang itu. Karya karikatur yang menurut diaku biasa-biasa saja. Malah, masuk ke dalam ukuran jelek. Maaf, sayang.

Santika memang punya bakat pada kerajinan perak. Dia ingin mewujudkan mimpinya sejak kecil. Santika sempat rajin membuat perak ketika SD, kemudian terhenti selama 20 tahun, lalu kembali menemukan kesenangannya di Bali. Ok, hal ini diaku bisa memaklumi. Tapi..Karikatur membuat diaku  berpikir lebih keras mencari alasannya.

Jika ingin mengabadikan kisah orang-orang tersebut, bisa dipotret atau mem-videokannya. Atau sekalian saja bikin tulisan. Namun kenyataan bicara lain, Santika tidak punya kemampuan di situ dan tidak ada keinginan untuk mempelajarinya seperti halnya karikatur.

Itu dua alasan mengapa Santika melupakan Jakarta dan  ‘habis-habisan’ hidup di Bali. Bahkan, dia mau merambah ke wilayah timur lainnya. Terus cinta diaku semakin berat di ongkos pesawat. Karena diaku bisa saja di hari ini berada di Palu, tiga hari kemudian menapak Kalimantan, seminggu berikutnya entah di mana lagi. Sedangkan dia berada di Bali atau di Nusantara bagian timur lainnya.

Suatu di pagi dengan langit cerah di Pantai Jimbaran, diaku bertanya,”Kita akan tinggal di mana kalau menikah nanti?”

Santika menjawab,”Menikah?”

~*~

31 Desember 2015, Santika menginjakkan kakinya di Jakarta setelah 5 tahun pergi darinya. Kejutan!

“Aku rindu kamu,” ucapnya di saat aku berada di Bangli bersama seorang wanita.

Seorang wanita yang menuliskan cerita diaku ini kepada dikamu. Seorang wanita yang tidak menyukai pria penuh tato, tapi menggagumi diaku. Aneh, bukan? Seorang wanita yang juga tidak bisa memasak, sama halnya dengan Santika. Seseorang wanita yang terang-terangan memanfaatkan keahlian diaku memasak secara lugas. Seorang wanita yang diaku tanya,

“Mengapa orang harus menikah?”

“Untuk kebebasannya,” singkat jawaban seorang wanita itu .

Untuk kebebasan. Alamak, diaku suka jawabannya. Pasti dikamu berpikir maksud dari kebebasannya itu. Sesuka hati dikamu saja menjawab. Asalkan dikamu mencari artinya secara bijak dan cerdas.

Untuk pacarku di Jakarta. “Mengapa  baru sekarang, Santika?” diaku terselip penyesalan.

Penyesalan yang kemudian menjauh saat kedua kaki diaku berada di Bangli, Bali. Dan detik ini, diaku merasakan langit Bali lebih cerah dan lebih bahagia daripada tahun-tahun sebelumnya.

Untuk pacarku di Jakarta, ini mungkin ‘saatnya kembali ke Jakarta’. Tapi bukan saatnya diaku lagi menerima kejutan darimu.

Mengapa orang harus menikah? Stop, jangan kau tulis lagi kalimat itu, sayang. O, seorang wanita ini selalu saja suka menggoda Awak.

~*~

Selamat menempuh tahun 2016

Sumber image: Dreamstime.com (free image), difoto oleh Kateryna Levchenko

9 Replies to “Untuk Pacarku di Jakarta”

Leave a Reply