Petani Sejahtera, Petani yang Berjejaring

Sejak dulu kala, Indonesia memiliki tanah subur dan sumber alam yang berlimpah. Dulu pun profesi petani menyebar di seluruh wilayah Indonesia. Sayangnya, profesi sebagai petani dianggap tak bisa mengangkat kesejahteraan keluarganya, apalagi di zaman sekarang. Upaya Pemerintah melalui program-programnya , komunitas, kelompok usaha dan lembaga yang telah dibentuk selama ini, belum berhasil, malah tidak efektif dan efisien. Koperasi Unit Desa yang dulu sempat tenar, kini tidak digemari lagi. Penduduk desa pun enggan menengok Bumdes (Badan usaha milik desa). Lucunya lagi, antar Kementerian saling tumpah-tindih dalam fungsi dan menjalankan program-programnya. Tidak ada sinergi yang kerap digembor-gemborkan itu. Gemaskah Anda sebagai masyarakat melihat kenyataan ini?

Salah satunya yang gemas melihat situasi saat ini, Bapak Bambang, Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sulawesi Tenggara. Kegemasannya tersebut, membuat beliau berpikir dan bertanya, “Apa yang harus dilakukan untuk membangkitkan agrobisnis tanpa mengesampingkan program Pemerintah?” Produksi komoditas para petani masih minim dan banyak petani/peternak/pengrajin di desa mengembangkan komoditas dengan pola campuran (multiple cropping). Bisa dikatakan, penduduk desa di daerah, hampir semuanya memiliki sawah. Contohnya pada petani kakao di Sulawesi Tenggara, mereka tidak saja memproduksi kakao, tapi juga bekerja di sawah. Tidak jarang dari mereka berganti komoditas bagaikan mengikuti tren pasar, meski harga komoditas yang dijalankan sebelumnya tidak turun.

pertumbuhan produksi minim

14 Desember 2015, Hotel Aston Priority, TB Simatupang, Jakarta, Bapak Bambang membeberkan hadirnya #LembagaEkonomiMasyarakatSejahtera dan penyebab dari situasi saat ini – mengapa pendapatan ekonomi petani masih di bawah standar. Ada beberapa hal permasalahan dalam dunia petani di desa-desa Indonesia, seperti:

  • Hulu
  • Budidaya
  • Pasca Panen dan Pengolahan
  • Pemasaran
  • Lembaga Penunjang

Kelima ini mengerucut pada daya saing produk yang di dalamnya terdapat perihal produktivitas, kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Selama ini, belum ada jaringan petani antar desa, kabupaten, kecamatan, dan propinsi. Lembaga-lembaga petani yang telah hadir di desa-desa masih belum berjalan baik. Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera memiliki konsep mengabungkan petani yang fokus ke satu komoditas dengan mengikuti subsidi silang antar desa. Melalui komoditas dominan, para petani bisa membentuk jaringan, misalnya: petani fokus kakao berjejaring dengan petani kakao di desa lain, sehingga nilai komoditas jadi bernilai. Untuk mendapatkan pupuk berkualitas baik pun bakal diperoleh dengan harga yang tidak tinggi dan ini memudahkan petani dalam proses produksinya.

12347809_10208237151236178_7235978823268082419_n

Tanpa disadari, selama ini, petani cenderung membuat produksi skala kecil. Jika pesanan pupuk dilakukan secara skala besar, petani bisa hemat membeli pupuk dan komoditinya menjadi kuat di pasaran. Kolektif produk sangat bisa meningkatkan daya saing. Cukup 2 atau 3 orang mengelola lembaga – 1 orang kelola unit bisnis, 1 orang atur pemberdayaan, 1 orang atur pemasaran – komoditi dikumpulkan di tingkat desa. Hingga petani mempunyai jaminan pasar, produk berkualitas, dan margin yang didistribusikan kembali kepada petani. Perlu disadari, tanpa adanya lembaga, ratusan turunan produk tak bisa diproduksi dan kemajuan produktivitas dan kesejahteraan akan lamban. Lembaga Ekonomi Masyarakat (LEM) Sejahtera mendesain secara professional, ada SOP, aturan, dan standar kualitas – petani bisa mendaftar untuk syarat komoditas yang diperdagangkan, standarifikasi, dan pelabelan.

Yang berbeda dari LEM Sejahtera dengan lembaga lainnya, ialah pengelola dan anggotanya atau struktur organisasinya murni berasal dari masyarakat, bukan dari TNI, PNS,  POLRI, dan aparat desa. Masyarakat punya wewenang kelola keuangannya sendiri,juga punya payung usaha dalam bentuk koperasi. Jika mendapatkan dana 500 juta, maka harus turun 500 juta ke para petani. #LEMSejahtera juga tidak berorientasi pada petani saja, tapi juga peternakan, pengrajin, pariwisata, dan lainnya yang merupakan produk dominan di suatu desa.

12342689_10208237148756116_5687074078892982186_n

Yang lebih mengasyikan lagi, seberapa pun dana bantuan dan alat-alat bantuan produksi, diterima dan dikumpulkan. Bantuan kepada para pekerja dengan dominan produk di desanya, bakal mengalir dan mampu membuat petani jadi kuat. Dengan modal yang diberikan, para pekerja tidak perlu khawatir mengenai produktivitas, pemasaran, pemberdayaan, kualitas, dan hal lainnya, karena bantuan tersebut digunakan menunjang itu semua. Pendapatan petani bisa meningkat 2 atau 3 kali lipat karena berjejaring. LEM Sejahtera terbuka bagi siapa saja tanpa memandang punya usaha atau belum, usaha kecil atau besar, punya modal atau tidak.

#LembagaEkonomiMasyarakatSejahtera tentunya mengikuti UU Pemda No.23 yang telah disempurnakan, UU Koperasi No.17, dan UU Desa No.6. Jelas tertera di dalam Undang-undang, dapat dibentuknya lembaga/badan usaha daerah, seperti Bumdes, lembaga kemasyarakatan desa, dan LEM Sejahtera. LEM Sejahtera mengelementasi amanat UU Pemda dalam mewujudkan kesejahteraan. Keberadaan LEM Sejahtera bukan menentang program Pemerintah, justru mengandeng semua pihak untuk diajak kerjasama. LEM Sejahtera berbeda konten dengan Bumdes, tapi diharapkan dapat saling mengisi. Dan LEM Sejahtera telah didukung oleh Ditjen Kementerian Pertanian.

Keberhasilan LEM Sejahtera yang berdiri di tahun 2009, telah memberikan manfaat besar bagi petani di Sulawesi Tenggara – yang dijadikan sebagai daerah percontohan. Indonesia merupakan satu-satunya produksi kakao tanpa fermentasi. Pembeli hanya membeli bijinya saja, kemudian mengolah fermentasinya sendiri. Sekitar 100 desa telah diberikan pelatihan oleh Bank Indonesia dan hasil evaluasi simpanan pokok pun memberikan siginifikan yang meningkat dari tahun ke tahun. Kakao fermentasi sangat bisa dilakukan oleh petani kakao di Sulawesi Tenggara.

Contoh lain dalam segi modal, ialah LEM Sejahtera Andomesinggo, Besulutu, Konawe. Jumlah penduduk desa 150 KK dan 144 KK telah menjadi anggota. Modal berasal dari investasi swadaya sebesar Rp.244.440.865,- kini dengan akumulasi bantuan sebesar Rp.314.695.299,- Total modal saat ini menjadi Rp.654.231.458 dan belum termasuk SHU (sisa hasil usaha) tahun berjalan. Hal tersebut membuat penduduk untuk berinvestasi swadaya yang manfaatnya dijadikan sebagai modal simpan pinjam agar masalah kesulitan modal kerja teratasi dan terhindar dari tengkulak atau rentenir.

Sedangkan di sektor lain mengenai kredit pinjaman, kepercayaan dari Bank Indonesia pun  muncul – dan ini juga bisa terjadi pada desa-desa lain – karena tak dipungkiri, sulit  bagi bank-bank memberikan kredit kepada petani. Kekuatan swadaya lah yang mampu membuat petani menjadi kuat. ART pula dapat dibantu oleh Bank. Program revitalisasi dalam LEM membantu petani diberikan kepercayaan melalui membayar pinjaman yang cepat, lunas, dan jika perlu dalam 1 bulan.

Hal ini diakui oleh Bapak Syamsuddin Said (Kepala Petani Kakao Fermentasi) yang memiliki lahan kakao di tanah kelahirannya.  Beliau pun menjalankan dan mendukung petani kakao dengan fermentasi. “Sumber daya alam menipis, bukan karena sumbernya berkurang, tetapi karena sumber manusianya yang berkurang dan beralih ke komoditas lain. Ini karena Pemda yang kurang komit dan faktor ekonomi.” Beruntung Sulawesi Tenggara memiliki sumber daya alam yang melimpah, bagaimana dengan desa-desa yang mempunyai sumber daya alam terbatas? Dan haruskah kebiasaan tidak fokus terus menyandera  benak mereka yang tanahnya berlimpah sumber alam?

Masyarakat luas dan pihak lain juga perlu meninggalkan ego struktural – harus terbuka, komit dan merangkul semua pihak. Sehingga tak ada lagi yang beralih produksi ke komoditi lain. LEM Sejahtera selaras dengan Nawacita, dan..

“Semua harus disinergikan dan bersatu, pembangunan Indonesia makmur akan terbangun bila masyarakat makmur dan adil. Petani juga perlu memberikan apresiasi kepada Pemerintah,” ucap Bapak Bambang, MM, yang juga pendiri Lembaga Ekonomi Masyarakat Sejahtera

Ya, merangkul semua pihak serta tidak menjauhi Pemerintah melalui jejaring yang dibentuk #LembagaEkonomiMasyarakatSejahtera untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat desa. Tanpa berkurangnya sumber daya manusia yang menjadi harapan agar produktivitas dominan desa hasilkan produk berkualitas dan terpercaya.

Satu lagi, narasumber yang saya wawancara mengenai konsep LEM Sejahtera, Bapak Ida Bagus Giri, pengusaha hotel dan villa di Bali. Beliau hadir karena menurutnya, konsep ini memiliki ide yang senada. Tiap desa punya lokal jenius – penduduk memiliki cara untuk bertahan hidup melalu itu, namun akan lebih baik, bila konsep tersebut dapat dipakai oleh mereka. Sebabnya, konsep LEM Sejahtera ini sangat bisa membuat kehidupan penduduk desa di Bali lebih sejahtera. Bahkan, menurut Bapak Bambang, Pemerintah dalam 5 tahun ke depan, tidak perlu pusing memikirkan subsidi untuk desa-desa dan petaninya.

Opini saya, networking atau jejaring itu penting bagi seluruh lapisan masyarakat. Jejaring bukan hanya milik orang-orang kantor, pengusaha, Pemerintah, tapi juga milik petani, peternak, pengrajin dan profesi-profesi lainnya di muka bumi ini. Malah, orang yang tidak bekerja pun, butuh jejaring.

Sumber gambar: Dreamstime.com

LEM Sejahtera: (0401)-3193075 e-mail: lemsejahterasultra@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

10 Replies to “Petani Sejahtera, Petani yang Berjejaring”

  1. mungkin dengan model berjejaring yang telah dikembangkan bisa membantu masyarakat di desaku yang mana pemudanya malah meninggalkan pertanian 🙁

  2. acaranya inspiratif bu, kapan2 mau ikut ah 🙂
    secara, pertanian, khususnya petani merupakan tulang punggung negeri ini
    jadi, kalo mereka sejahtera, bisa dipastikan masyarakat pun sama

    kapan2 mau belajar lebih lanjut soal LEM Sejahtera

Leave a Reply