Temukan Pengalaman Baru Di Jakarta Biennale 2015

Jakarta Biennale akan mengelar acara pameran seni bertajuk “Maju Kena Mundur Kena: Bertindak Sekarang” di pertengahan November 2015.  Acara ini diadakan setiap 2 tahun sekali mengikuti arti Biennale (acara  2 tahunan) dan berasal dari bahasa Itali. Kosakata “Biennale” sendiri dipakai kali pertama di Venice tahun 1970-an. Kemudian diikuti oleh negara-negara lain termasuk Indonesia. Bahkan tidak hanya Jakarta Biennale, tapi muncul pula Makassar Biennale, Bali Biennale dan Jogja Biennale. Jakarta Biennale telah ada di Indonesia di tahun 1974 yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Di tahun 2014, Jakarta Biennale berdiri sendiri dan menjadi Yayasan Jakarta Biennale.

Perhelatan berskala internasional Jakarta Biennale  dibuka pada tanggal 14 November 2015  di Gedung Sarinah, mengangkat 3 isu yang masih muncul di masyarakat kota dan kampung. Kemudian akan terus berlanjut mulai dari tanggal 15 November sampai 17 Januari 2016. Ketiga isu yang terdiri dari: sejarah, permasalahan air, dan gender, dapat dilihat dari karya-karya dan penampilan pertunjukan seni yang digelar dengan ‘membangunkan’ Gedung Sarinah pada 2 blok gedung yang masing-masing luasnya 3000m2.

5 Hari menuju Jakarta Biennale 2015
Space Tisna Sanjaya – 5 Hari menuju Jakarta Biennale 2015

Selain street art dengan mural-nya yang meramaikan tembok-tembok luar gudang, hadir juga karya fotografi, musik, video, street visual, proyek seni rupa, free street market, seni untuk keluarga, bincang seniman, tur Biennale, akademi, dan simposium. Dan pada pembukaan tanggal 14 November 2015, pukul 04.00 sore, performans para seniman bakal membawa para pengunjung ke dimensi berbeda. Performans seni ini tidak muncul setiap hari. Karena seperti seniman Jonas Sestakresna yang memboyong  10 orang timnya (media visual, tari, musik elektrik dan musik etnik) langsung dari Bali hanya muncul pada acara pembukaan saja.

Karya Jonas Sestakresna, Peter Robinson (New Zealand), dan Tisna Sanjaya (Bandung) merupakan 3 titik yang berada di pusat (di tengah)   gedung utama – dihadirkan sebagai performans yang terhubung 3 konsep: bermain, merenung dan santai, dan sembayang atau berdoa. Ketiga konsep yang menurut kurator Charles Esche merupakan hal dasar dalam hidup.

Bermain, Peter Robinson membuat material  untuk mengajak anak-anak dan pengunjung agar dapat menyusun pola yang telah dibuatnya. Di sini anak-anak maupun pengunjung lain bisa berekspresi dan mendapatkan pengalaman yang berbeda dari kehidupan sehari-hari.

Merenung dan santai, Jonas Sestakresna membangun instalasi bambu yang diberi nama “Tar-tar”. Dari instalasi tersebut, pengunjung dapat naik dan melihat seluruh ruangan termasuk karya-karya seniman di atas panggung bambu yang dibuatnya. Wujud instalasi ini memang sangat natural yang memungkinkan pengunjung untuk berdiri atau duduk santai sambil merenung. Ditambah saat acara pembukaan, Anda bakal takjub melihat instalasi ini terbang di hadapan Anda.

"Tar-tar" oleh Jonas Sestakresna & tim
“Tar-tar” oleh Jonas Sestakresna & tim

Sembayang atau berdoa, Tisna Sanjaya menampilkan 33 karya seni rupanya bersama performans ritual doa-doa atas isu-isu yang terjadi di tengah masyarakat. Terdapat pula limbah plastik dan biji-bijian, entah digunakan untuk apa saat penampilannya nanti. Sepertinya pertunjukan ritual ini bukan ritual biasa dan bisa memberikan artian tersendiri yang dapat dirasakan para pengunjung. Dan bisa jadi akan dilakukan 33 kali dengan gaya dan ritual yang berbeda.

Berjalan ke sisi lain dari pertunjukan utama, pengunjung akan menemukan tema berbeda – air, lingkungan hidup, gender, politik, dan termasuk sejarah.

Terkait sejarah, acara ini mengajak masyarakat untuk tidak memanjakan diri pada masa lalu, yaitu sejarah. Yang masih banyak bicara nostalgia. Sejarah yang bukan pelajaran sekolah. Sejarah yang tidak formal. Sejarah kota, agama, desain grafis, kenangan, sejarah kampung, komunitas dan lainnya. Apa yang terjadi di masa lalu mungkin menarik untuk dilihat hari ini. Bukan untuk dikenang, tapi apa yang bisa kita lakukan terhadap sejarah tersebut untuk masa kini.

Air. Air terkoneksi pada banyak hal di kota dan masyarakat juga kehidupan. Tidak sedikit permasalahan air yang belum selesai. Masalah banjir, air bersih, penyalahgunaan air, pemakaian air berlebihan, dan dampak-dampaknya pada kali dan kota-kota besar. Air adalah kebutuhan dasar manusia. Charles Esche menggambarkannya sebagai sebuah potret air – yang tidak berbeda dengan sebuah potret seseorang manusia.

Gender. Tidak hanya bicara kelamin, tetapi lebih luas. Tentang perempuan yang mempunyai tugas ganda, yaitu bekerja dan mengurus anak serta keluarga. Tentang seksualitas, LGBT, Gay, dan lakon mereka yang masih belum diterima di masyarakat. Padahal mereka punya hak sebagai manusia. Masyarakat masih menjalankan polanya sendiri yang terus menggiring pandangan negatif. Sesuatu hal yang perlu diubah.

Melalui karya seni, diharapkan ketiga isu besar tersebut dapat memicu timbulnya perspektif baru kepada masyarakat dalam kehidupannya.

Charles Esche by Sari Novita

Charles Esche sangat semangat menanti karya-karya cantik yang sebentar lagi menyemarakkan ruang Gudang Sarinah. Dan selama 2 atau 3 hari menuju pembukaaan acara Jakarta Biennale tahun ini, para seniman sedang mengerjakan proyek-proyek seni mereka secara langsung di Gudang Sarinah, bukan di rumah, workshop, atau tempat pribadi mereka. Charles, sang kurator ini juga mengatakan pengunjung bisa berinterakasi dengan karya-karya seni sekaligus dengan senimannya.

“Jadilah masyarakat yang penasaran. Dengan datang, rileks, bermain, bereksprimen, dan menikmati pengalaman yang berbeda dari aktivitas kehidupan sehari-hari.” – Charles Esche.

Saya berani memastikan bahwa pengunjung akan mendapatkan banyak hal menarik, karena sebelumnya saya telah melihat karya-karya seni para seniman yang memeriahkan acara ini dengan begitu mengesankan. Kemarin, saya dibuat terpana oleh proyek-proyek seni yang sebelumnya tidak pernah saya lihat. Ada yang sudah pernah dilihat dan ada yang belum dilihat, dan Anda harus menyelusurinya sama seperti saya.

Saya yakin pengunjung bakal menemukan dan mendapatkan pengetahuan sekaligus pengalaman baru. Bugarkan Tubuh dan Pasang Mata Anda untuk merasakan dan terpesona oleh pengalaman yang akan mengisi perjalanan dan kemeriahan hidup.

Acara pertunjukan seni Jakarta Biennale melibatkan 70 seniman asal Indonesia dan luar negeri.

Lokasi Jakarta Biennale 2015: Gudang Sarinah, Jl. Pancoran Timur II No.4, Jakarta Selatan

Video JB2015 oleh QUB TV

Untuk melihat daftar seniman, kurator, jadwal & program Website Jakarta Biennale

Image Poster : Copyright Jakarta Biennale 2015

Poster Milik Jakarta Biennale 2015

JB2015-maket-sarinovita

JB2015-2-sarinovita

 

JB2015-by Sarnov

JB20153-3-sarinovita

mural ayus-sarinovita

Leave a Reply