Pesta Seni Jakarta Biennale yang Panas

Pagelaran Seni Jakarta Biennale telah  dibuka pada tanggal 14 November 2015, Gudang Sarinah, Pancoran Timur II No.4, Jakarta. Sekitar 3000-an pengunjung memadati acara yang dibuka dari pukul 4 sore dan ditutup pukul 10 malam. Acara dibuka oleh Ade Darmawan, selaku Direktur Jakarta Biennale, Charles Esche (Kurator) dan 6 kurator muda lainnya, Ibu Ira Puspadewi CEO Sarinah Persero, Bapak Irawan Karseno, Kepala Dewan Kesenian Jakarta, dan perwakilan dari Gubernur DKI Jakarta. Sambutan diucapkan menggunakan Bahasa Inggris, melihat sebagian seniman dan pengunjung berasal dari luar Indonesia.

Tidak dipungkiri, antusias tim Jakarta Biennale, kurator, para seniman peserta acara, tidak hanya millik mereka, tapi para pengunjung, pegiat seni, penikmat seni, rela bergumul dengan kemacetan Jakarta dan cuaca panas untuk menghadiri acara pembukaan Jakarta Biennale 2015 “Maju Kena Mundur Kena: Bertindak Sekarang”. Acara pameran dan pertunjukan seni kontemporer Jakarta Biennale bisa dikatakan sebuah pesta yang disambut suka cita oleh orang-orang lingkup seni dan masyarakat. Mereka bagaikan telah lama menahan haus “berpesta” dan kegiatan Jakarta Biennale kali ini menjadi “air” sebagai penghilang dahaga. Sebuah pesta besar yang melibatkan 70 artis Indonesia dan luar negeri dengan menampilkan karya seni terkait 2 isu: Sejarah, Air, dan Gender.

sambuatn pembukaan-JB2015-sarinovita

Ekshibisi dan Pertunjukan seni para seniman  yang memeriahkan pembukaan Jakarta Biennale 2015 memang kental kritik, renungan, pesan moral, sindiran secara halus maupun ‘lantang’. Penampilan dan karya seni dalam perhelatan ini begitu ekspresif menyuarakan kepedulian dan kritik mereka. Karena di sinilah seni kontemporer bermain bebas menawarkan teknik dan medium yang berbeda-beda, juga pilihan presentasi karya yang tak terikat batas ruang dan waktu. Seni kontemporer memang mempunyai hubungan erat dengan peristiwa yang pernah terjadi atau masih terjadi yang meninggalkan gejolak dan ingatan. Isu-isu atau kehidupan sehari-hari biasanya menjadi tema atau topik yang dijadikan ruang ekspresi.

Di atas panggung musik, Fuady Keulayu, seniman asal Aceh, menuturkan hikayat kisah pilu konflik Aceh secara humoris dan satir yang menarik perhatian penonton termasuk saya. Suasana di luar Gudang pun semakin “panas” terbawa ke masa lalu dengan terkekeh bersama, lalu kembali ke masa kini tanpa perlu utopia masa depan.

Fuady Keulayu-JB2015-sari NovitaMenjelang senja, belasan penonton membentuk suatu monumen dan seorang wanita bersama bra merahnya membaca,
Pelacur-pelacur Kota Jakarta,

Dari kelas tinggi dan kelas rendah

Diganyang

Telah haru-biru

Performans ini barangkali berhubungan dengan perempuan yang kerap kasar disebut “pelacur” dan menjadi rahasia umum berada di pelukan-pelukan pejabat pemerintahan. Topik yang panas sepanas ruangan gedung yang telah muncul sejak penonton menyerbu gedung utama.

Pelacur kota-JB2015-Sarinovita

Pukul 20.00, Jonas Sestakresna, mengajak pengunjung untuk menyaksikan “Human Is Alien” (pertunjukan multimedia) yang memainkan teknologi media visual yang ditembak ke dinding dan tersorot di kain putih badan instalasi bambu dan lantai. Bersama 3 penari kontemporer, musisi pop elektrik dan musisi etnik musik, seolah-olah bercerita tentang   perjalanan yang telah mendarat di bumi yang asing. Musik yang mereka mainkan sempat membuat 2 anak kecil menari tanpa memedulikan penonton lain. Anak-anak kecil tersebut menari, meloncat, dan mengerakkan tangan dan kaki sesuka hatinya.

 

Julia-Humanisalien-jb2015-sarinovitaHumanIsAlien-JB2015-sarinovita

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Acara ini diakhiri oleh pertunjukan musik dari White Shoes and The Couples Company yang berkolaborasi dengan Sentimoods. Dan malam pun gudang Sarinah masih ramai berpesta, meski panas tidak juga sirna, namun penonton tidak terusik.

 

Sebagian besar pengunjung berkomentar senang terhadap kegiatan seni seperti ini. Kegiatan seni yang besar dan seperti Jakarta Biennale ini belum dikenal oleh masyarakat luas. Wajar bila mereka turut antusias pada program acara seni seperti ini. Mungkin Pemerintah atau pihak-pihak terkait harus lebih sering membuat acara seni yang menarik dan menyediakan fasilitas pendukung supaya kreativitas mereka semakin  berkembang. Beberapa pengunjung merasa tidak begitu menikmati ekshibisi karena panasnya ruangan. Ada juga yang mengatakan, pameran seni tersebut tidak didukung lighting yang bagus. Ada pula yang memberikan komentar kebalikkannya.

“Kali pertama lihat pameran seni yang berbeda seperti ini. Kita tidak perlu pakai baju formal untuk datang. Pencahayaan dan penataan ruang dibiarkan apa adanya, justru ini yang bikin beda dan ada kebebasan di sini.”

Pesta yang bukan dengan gaun dan jas mewah, gelas-gelas sampanye, pencahayaan tertata, dan pendingin ruangan. Inilah perayaan seni kontemporer yang pasti mengundang opini berbeda, karya-karya dan penyajiannya pun berbeda. Bukankah perbedaan itu indah?

Ungkapan dari pengunjung lain yang notabene masyarakat luas, yang menarik untuk didengarkan berasal dari Jodhi Yudono, jurnalis dan musisi. Menurut pandangannya, perhelatan Jakarta Biennale ini merupakan peristiwa budaya yang patut diapresiasi. Karena  bagian dari upaya sekelompok orang untuk memprovokasi masyarakat agar tidak hanya bergumul dengan perhitungan angka, perhitungan keuntungan dan materi.

“Acara ini sebagai pengingat kepada manusia lainnya, bahwa ada dunia lain yang boleh disebut dunia spiritual, dunia kesenian, dunia terapi, dan sebagainya, yang patut juga dinikmati bukan sekedar ‘makanan’ yang sifatnya benda,” ucapnya. Mas Jodhi juga tidak ketinggalan memberikan apresiasi kepada Jakarta Biennale yang telah menjadi yayasan. Mas Jodhi pun mengatakan bahwa belum tentu setiap kota atau daerah  mampu membuat acara seperti ini. Apalagi harus mengundang artis dari luar  dan menghimpun karya-karya yang luar biasa ini untuk di sebuah tempat , itu memerlukan biaya besar.

Semua Pemerintah daerah harus punya upaya mendorong masyarakatnya untuk mengerti seni dan kebudayaan.” -Jodhi Yudono.

Mengerti seni dan budaya, rasanya bukan mengerti saja, tapi juga bisa menikmatinya. Seluruh lapisan masyarakat hendaknya menggelar  dan mendukung kegiatan seni seperti ini yang bisa membuat rakyat kaya  akan seni dan budaya.Bicara soal Pemerintah, jika ada jalan menuju Roma melalui pesawat terbang, buat apa naik bis ke Roma yang kita sudah tahu membutuhkan waktu yang lama.

Dan Pegelaran seni Jakarta Biennale terus berlangsung sampai 17 Januari 2016.

 

Seluruh gambar dokumentasi pribadi SN

Dimas-JB2015-sarinovita    JB2015-4-sarinovita HumanisAlien by sari Novita

Foto Jakarta-Jb2015-sarinovita Indonesia terjual-sarinovita

JB 2015-2-sarinovita JB2015-3-sarinovita

JB2015-lukisan panjang-sarinovita  Peter Robinson-JB2015-sarinovita

Jb2015-5-sarinovita Maryanto-JB2015-sarinovita

video-JB2015-sarinovita  tolak reklamasi bali-sarinovita

visual art HumanIsAlien-sari novita

 

2 Replies to “Pesta Seni Jakarta Biennale yang Panas”

Leave a Reply