Wanita Indonesia Perlu Tahu Aset yang Dimilikinya (2)

Tulisan ini menyambung postingan sebelumnya Klik di sini  mengenai pemberdayaan perempuan Indonesia. Kegiatan yang dilakukan KPPPA kemarin, 23 Oktober 2015, menampilkan 3 pembicara: Martha Simanjuntak, Puspita Zorawer, dan Ani Berta. Ketiga wanita tersebut adalah wanita yang telah mandiri dan mempunyai prestasi di bidangnya. Tema kali pertemuan KPPPA kali ini memang menyangkut kemandirian wanita.

Diawali Martha Simanjuntak yang berbicara pengalamannya dalam berbisnis. Bisa dikatakan  sekarang ini hampir semuanya mengenal  soal internet. Menjalankan bisnis pun sangat bisa melalui internet dan sudah banyak contohnya. Internet adalah cara termudah dan tanpa perlu ke luar rumah. Martha mengajak peserta untuk menyebarkan bahwa wanita Indonesia perlu menjadi kreatif untuk menompang ekonomi keluarganya.

Terkait bisnis, Martha menekankan bahwa bisnis itu bicara soal numbers (angka). Numbers, Story behind the numbers, dan people behind the story.  3 hal yang harus diingat bila menjalankan bisnis. Angka, tentu termasuk modal, keuntungan, dan waktu. Apa saja yang berada di balik angka. Proses, dari niat, belajar, dan keberanian berwiraswasta. Akan bagus bila bisa mengajak teman-teman wanitanya atau lingkungan sekitar untuk terlibat di dalam usahanya. Orang-orang yang terlibat atau diri sendiri merupakan kisah di balik menjalankan bisnis. Yang tadinya masih ada keraguan, bertambah kepercayaan diri, dan malah dapat melebarkan sayapnya.

Setelah itu, giliran Puspita Zorawer, seorang psikologis pengembangan diri berdiri di hadapan peserta. Beliau mengatakan bahwa wanita harus bisa mengatur waktu dan hidupnya. Baik itu mengatur waktu terhadap pekerjaan dan keluarga. Sebabnya, tidak sedikit wanita sekarang mengalami problema antara pekerjaan dan keluarga. Keluarga tetap nomor satu, namun yang lainnya harus dijalankan secara seimbang. Hal lainnya menyangkut potensi diri, Ia mengutarakan bahwa sebagai wanita perlu tahu aset diri. Potensi di dalam diri apa yang bisa dikembangkan. Jika perlu merenungnya.

Ditambah: Tujuan-target-prioritas. 3 hal yang sebaiknya ditanamkan bagi wanita Indonesia. Puspita Zorawer menyarankan untuk menuliskan target dan kemudian mengevaluasinya.

4 kunci potensi wanita yang harus dibangun, yaitu:

  1. Bisa karena biasa. Sebagian besar wanita Indonesia masih bingung terhadap potensi dirinya dan tidak tahu akan melakukan apa untuk menghasilkan uang. Atau tidak biasa berbicara di depan orang banyak. Semua itu bisa dilakukan melalui proses. Jika sudah terbiasa, pasti akan mudah menjalankan langkah selanjutnya. Potensi diri pun, perlu dibiasakan untuk dilatih, agar potensi itu menjadi keahlian yang bisa diandalkan. Begitu pula terhadap kebiasaan hidup sehat dan mengatur waktu. Disiplin bakal ringan dilakukan, jika sudah terbiasa. “Everything happen from the habit,” lanjutnya.
  2. Diri kita adalah aset. Aset merupakan kekuatan diri untuk menjadi lebih baik dan meraih impian. Manusia itu aset. Juga tubuh manusia. Wanita sebaiknya menggunakan aset diri tersebut. Teknologi memang telah banyak mendukung kehidupan manusia di era sekarang ini. Namun, aset adalah pendukung utama. Aset ialah potensi. Potensi yang perlu dikembangkan, dijaga, dan digunakan sebaik mungkin.
  3. Harus tahu profit atau manfaat untuk apa menjalan suatu kegiatan. Fokus dengan tujuan
  4. Multiperan yang baik. Seperti disebutkan di atas, wanita harus pandai mengatur hidup dan waktunya. Mengatur segalanya.

Wanita Indonesia wajib percaya diri. Mulai dari hal kecil, misal mengubah penampilan, menyantap hidangan sehat, olah raga, dan sebagainya.  “Think big, start from something small that we have,” ujarnya. Bila kepercayaan diri sudah tumbuh, Puspita Zorawer yakin, wanita bisa membuat perubahan pada diri sendiri dan perubahan untuk lingkungannya, bahkan bisa lebih luas. Sebagai wanita sebaiknya belajar adaptasi menghadapi perubahan. Perubahan itu perlu, malah kerap tidak bisa dihindari. Apabila wanita sudah sukses, jangan lupa untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Dan ini berarti wanita perlu berbicara di depan umum atau forum besar.

Kita harus menjadi agen perubahan untuk komunitas atau lingkungan sendiri,” ucapan Puspita Zorawer yang cukup menyentil.

Perihal perubahan, 1 lagi narasumber yang menurut saya telah melakukan perubahan terhadap komunitasnya tanpa disadarinya. Dialah Ani Berta. Tentang kemandirian, tidak perlu dipertanyakan lagi. Setelah tidak lagi menjadi staf keuangan di kantornya, Ani Berta menjalankan profesi sebagai Blogger dengan serius. Menjadi blogger telah mengantarkannya keliling Indonesia dan berpenghasilan di atas pekerja kantoran. Dilihat dari penglihatan saya, Ani banyak menularkan perilaku positif kepada teman-teman wanita blogger di komunitasnya. Keberhasilan dan attitude Ani Berta menjadi role model bagi para blogger wanita dan pria.

Dalam pertemuan ini, Ani Berta mengajarkan bagaimana cara ngeblog dan menulis kepada para peserta. Ani menuturkan bahwa ngeblog telah menghidupi keluarganya sebagai wanita yang single parent.

Sayang sekali waktu yang diberikan KPPPA terbatas, padahal masih banyak ilmu yang ingin dibagi oleh Ani Berta. Namun, ketiga pembicara yang semuanya wanita telah mengusik pikiran saya kembali. Untuk lebih fokus, percaya diri, mengeksplor potensi, dan berbagi.

Terima Kasih saya ucapkan kepada ketiga wanita yang telah menginspirasi.

Leave a Reply