Wanita Asing Pencuri Kain Batik

Namaku Catharina Basoeki. Berdarah Indonesia, tapi tidak tahu seperti apa “bentuk” Indonesia. Sebetulnya ketika berusia di bawah 5 tahun, Dad suka membawaku ke Indonesia, setelah itu tidak pernah lagi. Nama belakangku “Basoeki” bukan nama Dad. Karena penggemar Basoeki Abdullah dan lukisan-lukisannya, Dad memberikan nama belakangku dengan nama orang yang dikaguminya. Saking menggilai Basoeki Abdullah, Dad melukis apa yang telah dilukiskan oleh Basoeki. Hanya Basoeki dan lukisannya, yang kutau tentang Indonesia. Dad pun sudah 20 tahun tidak kembali ke Indonesia.

Keputusan Dad untuk menetap di Indonesia adalah keputusan yang sangat mengejutkan bagiku dan Mom. Dia bilang ingin menikmati masa tuanya bersama kami di Indonesia. Dia juga mengatakan capai terus bekerja dan membayar pajak yang tinggi. Dia ingin istirahat. Lalu aku bertanya, “Di sini, Dad tidak bisa istirahat?” Tapi Dad hanya menjawab, “How?” 

“Tidak lama lagi aku akan menikah, Dad,” Tidak mungkin aku tinggal di Indonesia. Tidak mungkin juga meninggalkan pekerjaanku sebagai interior designer. Namaku sudah dikenal dan banyak klien yang menyukai hasil desainku di kota Manhattan ini. Malah, aku sudah memiliki klien di Chicago, San Fransisco, Los Angeles, Denver, San Louis, Florida, Monterey, Santa Barbara, dan Boston. Dan Matt, pasanganku, tidak pernah tahu Indonesia – tidak jauh berbeda denganku. Nama Indonesia pun terasa punah dalam diriku. Tolong, Dad, ajak Mom saja, biarkan aku di sini.

Dad tetap bersikeras terhadap keinginan dan keputusannya itu. Kedua hal yang sangat egois. Sangat!

Mom berkali-kali mengutarakan kepada Dad bahwa tidak bisa begitu saja. Puluhan tahun lahir dan hidup di Amerika. Juga membangun keluarga di Amerika. Hidup di Indonesia sudah pasti akan berbeda dengan kehidupan di Amerika. Banyak yang harus disesuaikan mengikuti budaya, cuaca, cara komunikasi, makanan dan hal-hal lainnya yang tidak bisa dilakukan hanya 1 hari saja.

Perdebatan-perdebatan terus berjalan dan tidak ada yang mau kalah. Terakhir Dad hanya berucap kepadaku, “Kalau Matt mencintai kamu, dia akan menghampiri kamu dan rela melakukan apa saja.”

~*~

Sudah 1 minggu aku bergerilya di kampung Batik Giriloyo, Yogyakarta. Saking senangnya menemukan “harta karun” di sini, aku sering Skype-an, menelepon, dan WhatsApp-an dengan Matt dalam 1 hari.

“Kamu harus segera ke sini. Kamu tidak pernah bisa membayangkan, jika kamu belum ke Yogyakarta.”

“Kita harus menikah di Borobodur. Harus!”

2 kalimat yang ratusan kali kuucapkan kepada Matt. Tidak itu saja, ratusan kali pula, aku memperlihatkan batik, warga kampung, Borobudur, dan pemandangan alam lainnya melalui Skype atau Video Call Facebook.

“Kamu tahu, kan, pekerjaanku tidak bisa diganggu gugat sampai 6 bulan ke depan.”

But,” aku baru mengucapkan 1 kata yang langsung terputus.

But, aku akan mencuri waktu untuk ke Indonesia. Karena aku sangat rindu padamu. 1 minggu cukup?”

“Hanya 1 minggu?” Tanyaku dalam hati.  Menemuiku hanya dalam waktu seminggu?! Sialan! Rasanya aku ingin berteriak. Yesss.. Matt akan menyempatkan waktunya untuk datang ke Indonesia. Memang sialan, sampai aku tidak peduli berapa hari Matt akan datang menemuiku. Yang penting Matt akan datang. Seberapa lamanya, aku tidak peduli. Dan aku yakin sekali mampu mengubah 1 minggu menjadi 2 minggu, bahkan 1 bulan. Berarti, Matt memang benar-benar mencintaiku.

~*~

Aku terlalu fokus membiarkan canting di tangan bergerak mengalir ikuti imajinasiku. Di hadapan Borobudur, di bawah pohon rindang, di antara angin dan cahaya matahari yang tahu diri, aku menggelana.

“Kamu cantik,” aku kaget mendengar ucapan seorang lelaki  yang sepertinya baru saja memotretku.

“Menganggu saja!” geramku dalam hati.

“Mungkin karena tempat ini dan lukisan batik setengah jadi yang bikin kamu jadi cantik.” Aku diam, tidak menghiraukan kalimatnya.

“Maaf saya memotretmu tanpa ijin,” ucapnya lagi. O, jadi benar dia memotretku. So?

Dia mendekatiku. Konsentrasiku sedikit menurun.

“Baru  nge-batik, ya?” Aku jadi memandangi keseluruhan hasil ukiran batik milikku. Kelihatan apa aku masih pemula? Bagiku, batik yang kubuat ini cukup cantik. Mbok Cimuk (yang megajarkanku membatik) pun bilang bahwa pola-pola batik yang kubuat sangat mengesankan. Memang aku pemula, tapi bakat dan darah seni yang mengalir dari tubuhku cukup kuat. Walau Dad hanya meng-copy paste lukisan Basoeki Abdullah. Tapi, kan melukis supaya mirip itu susah. Namun, aku tidak butuh lama untuk belajar membatik. Barangkali, aku keliru. O, what a hell !

“Maksudnya baru nge-batik di tempat seperti ini?”

O, itu maksudnya. Dijawab atau tidak, ya? Ah, biarkan saja. Nanti dia juga pergi.

Dia memerhatikanku yang tetap melukis.

“Hello..” Lagi-lagi aku tak menggubrisnya.

“Jangan-jangan wanita ini tuli,” tuturnya pelan.

“Mbak..” masih pelan.

“Mbak..” volume suaranya mengeras. Tanganku berhenti. Ih, ini orang!!

You don’t need to scream. I can’t answer your question in bahasa but I understand what have you said,” Aku jawab dengan ketus. Ini orang terlalu! Bikin konsentrasi buyarrr.

“Saya sudah menduga. Maaf, ya.” Hmm, jawaban yang terdengar sekali kebohongannya.

Just leave me alone. Please,” seraya berusaha tersenyum dan santai. Maklum, kehadirannya tidak diharapkan dan sangat-sangat menganggu. Aku sudah ingin mendampratnya saat dia bertanya, “Baru ngebatik, ya?” Untung, nggak jadi. Kalau jadi aku malu, kan, salah kaprah.

“O..” Dia berdiri mematung dan hanya mengucapkan 1 huruf. Sekali lagi, aku biarkan dia berdiri. 1 menit. 5 menit. Dia masih terdiam. Kenapa, sih ini orang?! Bikin kesal saja!!

Akhirnya, aku menoleh ke arahnya. Badanya tidak bergerak. Tetap saja menghadapku dengan pandangan lurus.

Tunggu, wajah lelaki ini lumayan juga. Tanpa mengeluarkan 1 huruf , apalagi 1 kata, aku jadi menatapnya lama.

Tunggu cerita selanjutnya, karena saya sudah ngantuk! Siapa wanita pencuri kain batik dan apa alasannya.

Dalam memperingati Hari Batik. Selamat Hari Batik Indonesiaku

Sumber gambar: Dreamstime.com (gambar milik Yunior Wibowo)

 

6 Replies to “Wanita Asing Pencuri Kain Batik”

  1. ya, saya akan tunggu…
    wkwkwkwk

    eh keren nih, seni dipadukan sama cerpen 🙂
    kalo kampung batik di yogya belom pernah ke sana, waktu itu saya cuma mampir di pekalongan

Leave a Reply