Pernahkah Mendengar Program “Nusantara Sehat”

Pernahkah mendengar “Nusantara Sehat“?

Terus terang, saya baru tahu setelah mendapat undangan dari Kementerian Kesehatan, 13 October 2015, di Hotel Artotel, Jakarta. Saya juga baru tahu salah satu narasumber, Diah Saminarsih adalah seorang psikolog dan pendiri CISDI (Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives), sekaligus pendiri program Pencerah Nusantara. Ternyata, program Nusantara Sehat mengadopsi model dari Program Pencerah Nusantara (PN) – saya tidak tahu persis apakah program PN ini masih berjalan atau tidak – pastinya Kemenkes sedang giat menjalankan program Nusantara Sehat.

Narasumber lain, Maman Suherman, sang notulensi terkenal di salah satu program acara televisi swasta. Maman mengutarakan alasan mengundang para blogger – menurutnya blogger mempunyai kekuatan besar di era sosial media sebagai influencer, penggerak, dan dapat menyebarkan informasi kepada masyarakat pengguna internet. “Blogger itu termasuk dalam 5 pilar media sekaligus bisa memberikan edukasi kesehatan dan memudahkan partispasi program,” tambahnya.  Maman Suherman  pernah mempunyai pengalaman bersama Kemenkes menjelajahi daerah-daerah pelosok. Tidak heran Pusat Komunikasi Kementrian Kesehatan turut menampilkannya dalam acara perkenalan program Nusantara Sehat.

 

Program Nusantara Sehat

Nusantara Sehat -by Sari Novita

Adalah program penguatan pelayanan kesehatan primer yang mencakup: Fisik (pembenahan infrastruktur), Sarana (pembenahan fasilitas), dan Sumber Daya Manusia (penguatan tenaga kesehatan selain dokter). Program yang dirancang untuk mendukung program JKN dan Kartu Indonesia Sehat. Bertujuan memperkuat akses pelayanan kesehatan (puskesmas) di daerah pelosok atau perbatasan – fokus pada kegiatan kuratif. promotif, dan preventif kesehatan masyarakat dari daerah yang paling membutuhkan (Membangun dari Pinggiran).

Setiap tujuan daerah program Nusantara Sehat memiliki 1 tim yang terdiri dari 8 orang: dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga gizi, tenaga kesehatan lingkungan, ahli teknologi laboratorium medik, tenaga kefarmasian, dan tenaga kesehatan masyarakat. Dalam mensosialisasikan program ini, Kemenkes turut mengajak para dukun, bidan, kementrian lain, Bupati,  Pemda dan lapisan masyarakat untuk bekerjasama. Tidak tanggung-tanggung, Kemenkes mengundang para Bupati ke Jakarta dengan menggelar presentasi, edukasi kesehatan, dan sosialisasi. Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan, Ibu Murti Utami, Kemenkes sengaja mengundang Bupati dan lainnya dengan mendatangkan langsung ke Jakarta, karena tidak mau menunggu lama mereka bertindak (dan belum tentu mempunyai inisiatif memperbaiki pelayanan kesehatan).

Selain sosialisasi terhadap Bupati, Bidan, dan Pemda, Kemenkes telah melakukan sosialisasi melalui universitas-universitas, public figure (artis/pemain band) dan blogger. Untuk komunikasikan gaya hidup sehat dan bersih ke masyarakat agar tindakan pencegahan tercipta dan perubahan positif. Termasuk mengedukasi gaya hidup sehat dan bersih yang bisa dari hal kecil, misalnya ajak membiasakan diri cuci tangan  sebelum makan.

Penyebaran informasi ini termasuk mengajak masyarakat usia di bawah 30 tahun untuk mendaftarkan diri menjadi peserta/anggota tim dari program Nusantara Sehat. Siapa pun bisa mendaftarkan diri melalui online Nusantara Sehat . Jika saat ini ramai ajakan “bela negara”, membantu masyarakat pelosok dalam hal kesehatan itu lebih penting, karena bila rakyat sakit, mana bisa bela negara?

Proses Menjadi Tim Kesehatan/Relawan Nusantara Sehat dan Tantangannya

Relawan Nusantara Sehat merupakan murni pengabdian, karena ditawarkan menjadi PNS pun tidak,” ujar Ibu Murti Utami. 

Apa yang diucapkan Ibu Murti Utami memang benar. Peserta/relawan program adalah orang-orang yang bersedia mengabdikan dirinya terjun langsung ke masyarakat memberikan pelayanan kesehatan dan mempunyai semangat tinggi membantu orang lain. Peserta/relawan setelah menyelesaikan program, tidak  ditawarkan menjadi PNS. Tapi digaji melebihi UMR dan jelas dijamin kesehatannya dan dibekali pengetahuan perlindungan diri. Dikontrak selama 2 tahun dan bisa mengajukan cuti bila telah 5 – 6 bulan menjalankan tugasnya.

Proses menjadi peserta/relawan diawali dengan mengisi form keterangan/data diri dan esai. Dari form esai yang diisi , dapat terlihat karakter dan kesungguhan calon peserta. Selanjutnya, wawancara tatap muka, tes psikologi, dan tes dalam FGD (focus group decision) yang bakal menilai pribadi peserta dari dinamika kelompok. Semua proses ini dilakukan untuk melihat kualitas komitmen peserta, apakah mereka benar-benar berkomitmen?

Nusantara Sehat Flyer

Selain pembekalan pengetahuan kesehatan medis, mereka juga diberikan informasi mengenai situasi dan kondisi lapangan dan non medis (kepempinan, manejerial, dan komunikasi). Dan seperti masyarakat tahu, Indonesia masih punya “PR” besar dalam hal infrastruktur, sebelum terjun, para relawan ini diberitahukan akan melalui perjalanan yang tidak mudah. Salah satu contohnya dari pengalaman peserta/relawan bernama  Putri yang ditempatkan di Puskesmas Long Pahangai, Mahakam Hulu, Kalmantan Timur. Putri harus menempuh perjalanan dari Samarinda dan harus ke Kutai Barat selama 9 jam perjalanan darat, lalu naik speed boat ke Mahakan Hulu yang memakan waktu 6 jam. Lalu harus naik speed boat lagi selama 6 jam untuk sampai ke Long Pahangai.

Putri dan tim dalam menjalankan kegiatannya (ke puskesmas) harus melalui perjalanan sungai, malah ada suatu daerah dengan jalan sungai yang hanya bisa dilalui ketika musim kemarau. Putri pun disarankan tidak  jalan sendiri saat berada di sana (di darat). Mandi pun harus turun ke sungai. Wah suatu perjuangan luar biasa yang perlu diapresiasi. Meski mendapatkan kendala/tantangan, Putri mempunyai kenangan lucu yang menyadarkan betapa edukasi perlu diinformasikan kembali kepada masyarakat. Saat penyuluhan, seorang warga bertanya mengapa ia setiap hari minum pil KB tapi masih kebobolan. Ternyata, pil KB tersebut sebelumnya ditumbuk oleh Ibu itu, dan diminum dengan mencampurnya ke dalam sup. Hoho..

Melalui foto-foto yang disebarkan Putri melalui akun sosial medianya, terlihat bersama masyarakat dengan pakaian tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa Putri juga mendapatkan pengalaman seni dan budaya. Dan tugas peserta/relawan juga harus bisa menyesuaikan kearifan lokal terhadap tugasnya.

Mengenai pengalaman dan tantangan seperti yang saya tulis di atas, Maman Suherman bertutur,

Apa yang kamu lakukan untuk orang lain adalah suatu kebahagiaan. Tantangan justru menjadi sebuah momen yang tak terlupakan.

Bila ingin mendengar pengalaman Putri dan opininya mengenai Nusantara Sehat, silahkan klik Wawancara Tim Nusantara Sehat.

Target Nusantara Sehat di tahun 2015 ialah  wilayah  di 44 kabupaten, 120 puskesmas  dan melibatkan 960 tenaga kesehatan. Tim pertama (gelombang pertama) berjumlah 144 orang dan telah tersebar di 20 daerah. Gelombang kedua sudah 12.000 calon peserta yang mendaftarkan diri. 140 orang telah lolos seleksi dan akan dikirimkan ke daerah-daerah pelosok. Sisanya masih tahap penyeleksian.

Semoga program ini terus berjalan, walau nantinya bakal berganti-ganti menteri atau presiden. Apa pun yang dilakukan Pemerintah untuk perubahan positif, masyarakat pasti mau membantu, meski tidak semua orang peduli. Dengan jumlah orang yang sedikit, mereka telah membantu sesama warga Indonesia, dan orang lain akan melihat, kemudian mengikuti jejak para relawan.

Bagi saya, program Nusantara Sehat bisa saja tidak meliputi soal kesehatan. Para peserta bisa menjadi sumber informasi di bidang teknologi, infrastruktur, ekonomi, pendidikan, pariwisata, dan lain-lain. Atau jika memungkinkan Pemerintah bisa memasukkan tenaga teknologi/infrastruktur/pendidikan/ekonomi/pariwisata ke dalam program Nusantara Sehat ini. Toh sehat itu bukan masalah tubuh yang sehat saja, tapi juga jalan yang sehat, pendidikan yang sehat, ekonomi yang sehat, pikiran yang sehat, dan sehat-sehat lainnya. Daripada nantinya muncul tenaga relawan khusus penelitian sumber daya alam, khusus perekonomian, khusus pendidikan, khusus kekerasan pada anak dan rumah tangga, dan tim relawan khusus lain di setiap daerah. Saya juga sadar hal ini membutuhkan kerjasama setiap departemen Pemerintahan dan proses yang tidak sebentar. Ah, siapa lah saya yang tidak mengerti soal Pemerintahan.

Bagi warga yang usianya di atas 30 tahun dan ingin menjadi peserta/relawan Nusantara Sehat, daftarkan saja, siapa tahu ada pengecualian dan sesuai standar. Bagi para dokter umum muda, ayolah daftarkan diri. Nah 1 lagi pertanyaan saya, mengapa dokter umum yang baru lulus tidak ditempatkan saja ke dalam program ini atau Pemerintah atau pihak universitas sudah tidak lagi mempunyai wewenang terkait ini? Bagi warga di bawah usia 30 tahun, jika punya jiwa membantu, segeralah mendaftar untuk gelombang selanjutnya.

 

Sumber Foto : Site Nusantara Sehat dan flyer Nusantara Sehat

Website   : Nusantara Sehat

Facebook :  Nusantara Sehat

Twitter     : Nusantara Sehat

 

 

Leave a Reply