Di Balik Tangan Seorang Food Photographer

Blogging and photographing is a work of passion, don’t ever forget that. Stay true with your passion and it will take you somewhere.” Dhita Beechey

Saat ini banyak jenis kuliner yang dipotret dan hasilnya mampu menggugah selera . Selain tampilan yang cantik, ada beberapa proses yang membuat makanan itu menjadi karya indah yang sering membuat orang memujinya. Ialah proses di balik tangan para Food Photographer dan Food Stylist.

Ratusan  kuliner Indonesia maupun kuliner luar negeri, sukses dipromosikan atau diekspos media sosial dan media cetak, melalui para Food Blogger, Foodies, dan Food Photographer. Terkadang ada perbedaan melihat hasil foto antara foodies, food blogger, dan food photographer. Bukan meremehkan foodies atau food blogger, buktinya perjalanan Dhita  diawali dari  food blogger dan kemudian menjadi food photographer. Dhita pun pernah bekerjasama dengan Crown Plaza Group di Shanghai.

Menurut Dhita Beechey, setiap food blogger hampir selalu dipastikan bisa food photography. Kedua profesi yang saling berdampingan. Malah, ada nilai tambah bagi food photographer yang berawal dari food blogger – karena mereka memulai profesinya dengan kecintaan pada makanan. Dan foodies sejati kerap mengerti angle yang bisa dieksploitasi agar foto yang dihasilkan punya faktor “wow”.

Sebelum menjadi food blogger,  Dhita Beechey mempunyai ketertarikan pada kuliner dan  suka memasak. Sebagian besar hasil masakannya difoto dan dimasukkan ke dalam blog. Berjalannya waktu, Dhita mulai mendalami food photography – bagaimana menerjemahkan tekstur, warna, dan rasa ke dalam gambar.

Menerjemahkan tekstur, warna, dan rasa. Hmm, sepertinya masih sedikit yang tahu atau tidak menyadari bahwa memotret makanan bukan hanya sekedar menjepret. Memotret makanan yang baik perlu pengetahuan tentang karakteristik makanan – bagaimana  memasak agar tetap terlihat segar tapi tidak layu – bagaimana mengatur pasta atau mie di dalam mangkok supaya terlihat menarik dan tidak terlalu flat. Mempunyai pengetahuan kuliner memang ada nilai tambah untuk menghasilkan foto yang maksimal. Dan tentu perlu menguasai pengetahuan dasar fotografi.

Memotret kuliner mempunyai 2 kunci utama: pencahayaan yang cukup dan angle. Gunakan cahaya senatural mungkin dan reflektor untuk mengangkat shadow yang terlalu banyak. Apalagi tren food photography sekarang adalah natural looking food. Kalau bisa, hindari angle yang miring. “Tren angle miring memang sangat populer, tapi itu 30 tahun lalu,” ucap Dhita Beechey tentang pendapat pribadinya.

Dhita Beechey menambahkan bahwa food photographer biasanya dan seharusnya mengerti perihal food styling. Untuk smaller projects, biasanya food photographer merangkap jadi food stylist – harus bisa juggling (menyulap) banyak elemen – lighting, angle, kondisi kesegaran makanan, hero food-nya apakah masih dalam kondisi camera worthy setelah beberapa kali di-shoot, keseluruhan food styling, supporting props (properti pendukung), dan sebagainya.

Untuk project besar, food photographer kawakan seperti Bapak Roy Genggam, mempunyai tim food stylist sendiri yang jumlahnya lebih dari 1 orang. 1 orang menangani bahan mentah dan properti pendukung, 1 orangnya menangani props styling dan main food stylist yang bertanggung jawab soal tampilan makanan di depan kamera.

Agar hasil foto makanan menjadi bagus, food photography  dibagi dua bidang yang lebih spesifik, yaitu food styling dan props styling. Food styling menitik-beratkan pada makanannya, lanskap/panorama/dekor dan tekstur pada makanannya itu sendiri. Biasanya lebih cocok buat molecular food atau jenis makanan yang ingredients-nya berukuran mini, tidak perlu menggunakan banyak properti. Satunya lagi props styling, penggunaan piring, mangkuk, sendok, serbet, dan kadang bunga atau tumbuhan segar. Supaya  menyampaikan pesan “in progress” – baking in progress – foto cookies di atas cooling rack dengan oven mitt (sarung tangan) atau kitchen towel tergeletak di sampingnya.

Bagi Dhita merangkap kerja sebagai fotografer, food stylist, dan props stylist merupakan hal tidak mudah. Agar hasil foto maksimal memang harus ada pembagian kerja biar lebih fokus. Meski begitu, Dhita Beechey menikmati profesi keduanya yang sama serunya.  Tantangan menjadi food photographer pun diceritakannya.

Sampai hari ini, masih banyak cafe/resto/hotel yang menganggap bahwa food photographer adalah orang-orang yang mengambil snapshot foto makanan apa adanya ketika makanan dihidangkan. Padahal pekerjaan food photographer itu kompleks, harus ada perencanaan dan konsep – mau seperti apa mood dan pencahayaannya, props yang digunakan dan penyesuaian tema foto, menu planning berikut guide untuk cara memasak atau persiapannya.

Sebelum makanan sampai di depan food photographer harus melalui food stylist terlebih dahulu yang melakukan “food make over” agar makanan terlihat cantik dan mouth watering (bikin ngiler) dari angle tersebut.

Tantangan terbesar adalah menghadapi Chef yang sulit diajak kerjasama dan tidak mengerti pentingnya styling untuk menghasilkan foto berbeda dengan styling (penataan/penyajian) makanan untuk klien. Hal ini bisa membuat jadwal foto kocar-kacir dan banyak waktu terbuang untuk re-style makanan atau mengirim kembali makanan ke dapur – dimasak ulang – misalnya steam fish terlalu matang atau steak dimasak dengan tingkat kematangan yang salah dan terlihat kering.

DhitaBeechey(1)

Melompat ke soal minat dan insting pada fotografi, Dhita setuju bahwa setiap orang harus punya minat yang bakal ditekuninya.  Bakat juga punya peranan,  namun dengan sering berlatih, mata akan terbiasa menangkap cahaya dan angle bagus untuk dipotret.

Setiap bidang cabang fotografi perlu keahlian dan peralatan yang berbeda. Sebaiknya, tidak menganggap setiap photographer bisa terjun di segala bidang fotografi hanya karena memiliki kamera. Contohnya, interior photographer diminta untuk foto makanan, ini bisa saja, tapi mungkin hasilnya tidak maksimal, kemungkinan dikarenakan kurang memiliki atensi terhadap detil yang dimiliki food photographer yang terbiasa melihat detil makanan dengan sangat spesifik.

Atau sebaliknya, food photographer diminta mengerjakan sports photography. Hal ini bisa saja, tapi mungkin dia akan menghadapi masalah di komposisi karena terbiasa tight cropping dan banyak ketinggalan momen penting, karena ketidakbiasaan mereka menangkap ‘gambar’ secara cepat. Dhita menyarankan bila ingin menyewa fotografer, sebaiknya yang sesuai bidang keahliannya.

Selain memotret makanan, Dhita juga menyukai still life fotografi sebabnya dia bisa melihat karakter fotografernya, seniman di balik kamera tersebut. Baginya, human object kurang menarik, kecuali foto candid.

Seperti biasanya di akhir wawancara saya meminta “pesan” untuk orang-orang yang baru  menjalankan profesinya atau anak muda. Dan seperti biasa pula, satu kata sakti itu berada dalam kalimat setiap orang yang saya wawancarai: “Passion”.

Blogging and photographing is a work of PASSION, don’t ever forget that. Stay true with your passion and it will take you somewhere.

Tulisan ini dipublish di Koran Tempo Edisi 14-15 November 2015

Bersama Food Stylist ternama Puji Purnama dan Chef Antoine Audran, Dhita Beechey serta Ira Rodrigues telah menggelar Food Styling Wokrshop pertama di Bali.

“Let’s learn from the expert.”

*Sumber Foto: Dokumentasi Dhita Beechey

*Sumber Tulisan: Hasil Wawancara dengan  Dhita Beechey

20 Replies to “Di Balik Tangan Seorang Food Photographer”

    1. Iya Mas…meski masih ada yg beropini tidak perlu. ..padahal ini profesi keren, apalagi food stylist masih jarang di Indonesia

    1. Iya bener, tahu-tahu cantik aja hasil fotonya…knp mereka ngak bikin workshop di jkt ya atau buat food blogger

  1. “Tantangan terbesar adalah menghadapi Chef yang sulit diajak kerjasama dan tidak mengerti pentingnya styling untuk menghasilkan foto berbeda dengan styling (penataan/penyajian) makanan untuk klien. ”

    hi hi hi
    waktu hadir di acara kompasiana dulu, saya pernah disemprot chef/koki gara2 foto2 di dapur mereka
    padahal, sama manajer n pemilik hotel, kami bebas motret
    kalo ingat itu jadi ketawa sendiri 🙂

    1. Hahahhaa…kalau aku pas di dapur mana cicipin makanan atau ngerecokin staf2 yang di dapur…Tapi melihat yg profesi yg benar-benar dijalankan secara profesional, salut akuhhh

  2. wah saya keebtulan suka makan & wisata kulineran, dan kebetulan saja fotografer amatir pula, mungkin menjajaki dan belajar food photography bisa juga ya.

    seperti profesi lain, food photographer memang perlu kemampuan dan feel khusus terkait makana tsb ya, apa lagi perlu food stylist pula.. anyway terima kasih sudah berbgai infonya ya mba

Leave a Reply