“Cengo” Ditanya Apa Itu Seni Rupa

Masa sih kita cengo saat ditanya apa itu seni rupa? Bukankah pengertian seni rupa itu luas dan tak terbatas, otomotis orang bisa menjawabnya? Orang boleh mengatakan apa pun tentang pengertian  seni, namun apakah sebenarnya kita mengenal dasar-dasar dari seni rupa (bagian dari seni) itu sendiri. Bagi seniman dan orang-orang terkait, tentu hal ini merupakan ‘mainan’ sehari-hari. Tapi belum tentu bagi orang lain.

Definisi Seni Rupa (Wikipedia): cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan melalui rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep titik, garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.

Definis Seni: katakan apa pun yang ada di kepala kita

Suatu niat yang  baik dan perlu diapresiasi, setelah saya mendatangi Jakarta Biennale booth, pada event HaiDay, 10-11 October 2015, Parkir Timur Senayan. Ade Darmawan, Direktur Eksekutif Jakarta Biennale, menjelaskan tujuan kegiatan Jakarta Biennale di acara ini untuk mengedukasi masyarakat tentang seni.  Papan-papan besar dan kosong dipasang agar masyarakat (pengunjung) bisa terlibat dan merasakan  seni dengan mengambar serta menulis apa saja yang ada di pikiran mereka.

Papan yang sediakan u pengunjung berekpresi
Papan yang sediakan u pengunjung berekpresi

Sejarah seni rupa di Indonesia pun diinformasikan melalui papan-papan berdiri yang dibuat secara menarik, singkat, dan jelas. Termasuk sejarah berdirinya Jakarta Biennale. Yang menariknya lagi, pengunjung dapat menyaksikan proses membuat sablon Tote Bag dan kaos. Pengunjung juga bisa membuat gambarnya sendiri. Aktivitas lain yang tak kalah menarik, pengunjung dapat belajar “Menulis Indah” dan menonton “Live Mural dan Komik”. Tak ketinggalan Ruang Rupa (RuRu) Radio yang secara online mengoperasikan radionya. Di malam harinya, pembawa acara radio bernyanyi live menghibur pengunjung.

Tote Bag & Kaos - by Sari Novita

Ade Darmawan tak lupa menunjukkan papan yang berisi diagram “Medium Seni Rupa”. Dia menjelaskan bahwa seni rupa itu berdasarkan 3 medium (media): 2 dimensi, 3 dimensi, dan berbasis ruang dan waktu. Ketiga medium seni rupa yang sebenarnya merupakan pengetahuan umum.

Ade Darmawan, Direktur Eksekutif Jakarta Biennale-by Sari Novita
Ade Darmawan, Direktur Eksekutif Jakarta Biennale

“Tapi masih banyak orang yang nggak tahu mengenai medium seni rupa,” ujarnya. Seni rupa 2 dimensi ialah karya yang memiliki 2 batas sisi, yaitu panjang dan lebar – tidak mempunyai ruang atau bisa dikatakan tidak berbentuk dan hanya bisa dilihat/dipandang dari arah depan. Contohnya: lukisan, seni grafis, tekstil, gambar (drawing), batik, ilustrasi.

Karya Maryanto, Yogyakarta. Karya 2 Dimensi
Karya Maryanto, Yogyakarta. Karya 2 Dimensi

Seni rupa 3 dimensi adalah karya yang mempunyai panjang, lebar, dan tinggi – karya yang menempati ruang (bersifat nyata) dan memiliki volume – bisa dilihat/dipandang dari segala arah. Contohnya: seni instalasi, patung, keramik, seni arsitektur, taman, seni kriya, dan lainnya.

Seni rupa berbasis ruang dan waktu merupakan karya seni yang fokus pada ruang, konseptual,  dan fisik dari suatu kegiatan yang ciptakan atau berdasarkan realitas – mengandung unsur eksplorasi dan eksprimen. Karya seni secara visual dan mempunyai ukuran waktu – memiliki hubungan kuat dengan media dan memperluas bidang seni rupa.  Contoh: Film, media art, public art, performance art, interactive art, video art, environmental art.

Macam seni rupa pun terbagi lagi berdasarkan fungsinya. Yaitu seni rupa murni dan seni rupa terapan. Seni rupa murni ialah karya yang diciptakan untuk mengungkapkan ide dan hanya mengutamakan nilai keindahan, dan bebas. Suatu karya yang berfungsi hanya sebagai hiasan atau pajangan. Contohnya, kaligrafi, lukisan, patung, relief, mozaik, dan lainnya. Sedangkan seni rupa terapan merupakan karya yang dibuat untuk tujuan praktis dan bisa digunakan untuk kebutuhan orang sehari-harinya. Misal, poster, keramik, arsitek rumah, batik, dan lainnya.

Apa yang diutarakan Ade Darmawan, memang pengetahuan umum mengenai seni rupa. Namun, seperti masyarakat tahu, seni rupa merupakan bagian dari seni – dan macam-macam seni bisa dikelompokkan lebih banyak lagi. Hampir bisa dipastikan semua orang menikmati seni setiap harinya, misalnya mendengarkan musik dan musik termasuk golongan seni. Tapi seni tidak hanya berbau musik saja. Manusia tidak hanya sekedar menikmati, tetapi juga dapat menyalurkan imajinasi, perasaan, ekspresi, berita, trending topic, bahkan politik, melalui berkreasi seni rupa, seni tari, seni teater, seni musik, dan sebagainya.

Jakarta Biennale akan mengelar event “Maju Kena, Mundur Kena: Bertindak Sekarang” pada tanggal 14 November sampai 17 Januari 2016 di Gudang Sarinah, Pancoran, dengan program acara yang tak Cuma memamerkan seni rupa. Pada tanggal 11 November 2015, di kali Condet, Pasar Minggu, Jakarta Biennale akan menghadirkan Human is Alien di tengah kali yang dulu sering mendapatkan banjir dan sampah berserakan.  Kelompok Human is Alien bakal mengangkat tema lingkungan hidup melalui seni media visual, tari kontemporer, musik tradisional, dan musik modern ke ranah publik. Event Jakarta Biennale ini tidak hanya memunculkan seniman Indonesia, tapi juga seniman dari luar negeri. Dan kuratornya dipimpin oleh kurator asing profesional, Charles  Esche.

Jakarta Biennale 2015-by Sari Novita

Apakah kita masih cengo bila ditanya apa itu seni rupa atau seni? Bagaimana jika lebih dahulu memahami seni dengan menonton pentas seni atau acara seperti yang dibuat Jakarta Biennale? Menurut saya, pagelaran bermuatan seni mampu memancing keinginan manusia untuk berkarya seni melalui media yang dipilihnya masing-masing. Adanya keinginan membawa orang untuk melakukan hal yang sama, yaitu berkarya seni. Malah melalui fokus, konsisten, dan kesempatan, orang dapat menjadikan seni sebagai karir/profesinya –yang notabene bisa menghasilkan uang.

Sebetulnya, apa sih tujuan dari menghidupkan atau meramaikan atau membangkitkan jiwa seni kembali di bumi Indonesia? Indonesia mempunyai seni dan budaya yang jumlahnya banyak, rakyat pun sudah tahu tentang ini.  Namun banyak kesenian dan budaya yang hampir punah, malah tidak dikenal oleh masyarakat luas. Anies Baswedan mempunyai program untuk anak-anak dan remaja, “Belajar Bersama Maestro” – tinggal bersama maestro selama 1 minggu. Figur terkenal yang memuatkan kehidupannya antara ilmu kedokteran dan musik – keduanya berjalan lancar – ia bernama dr. Tompi. Sujiwo Tedjo, seniman terkenal yang kerap dipanggil di forum-forum politik. Setiap harinya, lahir penulis/pengarang/blogger baru dengan bakat dan talenta unik juga luar biasa. Setiap menitnya, seniman fotografi, seniman komik, dan seniman toddler, memposting karya mereka di media sosial. Art therapy dimasukan ke dalam program rehabilitasi narkoba, pasca trauma dan kesehatan mental. Jakarta Beinnale hendak meninjau masa kini, tanpa harus terjebak dalam nostalgia masa lampau dan mimpi-mimpi utopia masa depan melalui perhelatannya.

Paragraf di atas merupakan sedikit fakta yang terkoneksi dengan pertanyaan saya. Sebetulnya, apa sih tujuan dari menghidupkan atau meramaikan seni kembali di bumi Indonesia? Saya kembalikan pembaca untuk menjawabnya. Kalau saya akan menjawab dengan kalimat lelucon “untuk menghindari  cengo”.

 

sumber foto: Pribadi

Foto-foto kegiatan Jakarta Biennale lainnya  saat Haiday  :

Informasi Event Jakarta Biennale 2015

 

 

2 Replies to ““Cengo” Ditanya Apa Itu Seni Rupa”

  1. tapi di instagram sekarang banyak yang artsy-artsy tuh. harusnya gak pada cengo yak pas ditanya seni rupa itu apa 😀 tapi definisi seni emang luas banget sih. di keluarga saya banyak yang jadi seniman. kalo gak pelukis, pasti pemusik.

Leave a Reply