Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah

“Bangsa Indonesia dibangun dari imajinasi.” – Anies Baswedan

Museum Nasional Indonesia bersama Museum Basoeki Abdullah, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengelar pameran “Rayuan 100 tahun Basoeki Abdullah”, 21 Septembar – 30 September 2015, di Museum Nasional. Pameran ini juga didukung instansi pemerintahan, seniman, pecinta dan kolektor seni, serta stakeholder seni rupa di Indonesia. Selain menampilkan karya lukisan Basoeki Abdullah, pameran ini diikuti perupa: Budi Pradono Architect, Mata Art Space, Komunitas 12 Pas, Komunitas WPAP, Teguh Ostenrik, Farhan Siki, Agus Novianto, Jerry Thung, Yani Sastranegara, Paul Hendro, Sudigdo, dan perupa Pasar Baru. Dengan 2 kurator, Bambang Arsini W dan Mikke Susanto.

Rayuan 100 tahun Basoeki Abdullah-by Sari Novita

 

Pembukaan pameran “Rayuan 100 tahun Basoeki Abdullah” dihadiri oleh Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Guruh Soekarno Putra, Wardiman Djojonegoro (Mendikbud 1993-1998), Setiawan Djodi, Keluarga Basoeki Abdullah, para perupa, Wawan Timlo, Penari Institut Seni Solo, dan tamu undangan. Pameran yang memperingati 100 tahun kelahiran Basoeki Abdullah, membujuk masyarakat untuk datang dengan judul pameran “rayuan”. Basoeki Abdullah memang juga dikenal dekat dengan kaum wanita di masanya – banyak wanita yang dilukisnya – serta keindahan alam, keluarga istana, keluarga pejabat negara asing, pahlawan, dan lainnya. Beliau juga dikenal suka melukis keindahan tubuh wanita – di setiap lukisannya, bentuk tubuh wanita dibuatnya lebih indah dan sempurna. Garis, warna, dan gaya natural lukisannya bagaikan merayu penikmat yang memandangi lukisannya.

Lukisan Berjudul "Anak Nakal" oleh Basoeki Abdullah
Lukisan Berjudul “Anak Nakal” oleh Basoeki Abdullah

Konsep Pameran “Rayuan 100 tahun Basoeki Abdullah” bukan sekedar untuk kenikmatan semata. Lebih dari itu, mengajak masyarakat untuk melakukan rayuan melalui spirit edukasi, religi, maupun sosial. Menurut Mikke Susanto (kurator), lukisan tidak saja berupa benda artistik, tetapi juga sebagai objek pratik intelektual, diagnosa situasi, dan kritalisasi ideologi. Sedangkan Bambang Arsini (kurator), baginya pameran ini bukan hanya untuk pecinta seni, tapi juga  bisa merayu generasi muda agar mengenal karya Basoeki Abdullah. Bambang juga mengatakan, “Basoeki bukan pribadi yang ringkas,” hal ini terlihat dari perjalanan karyanya di dalam pameran yang membagi 7 bab: Basoeki dengan dirinya, Basoeki dengan budaya Jawa, Basoeki dengan Indonesia, Basoeki dengan 3 negara Asia Tenggara, Basoeki dengan Eropa, Basoeki dengan Eropa, Basoeki dengan keperempuanan.

Agus Dermawan, Penulis Buku Basoeki Abdullah
Agus Dermawan T, Penulis Buku Basoeki Abdullah

Pembukaan pameran Rayuan 100 tahun Basoeki Abdullah tanggal 21 September kemarin, juga meluncurkan buku tentang sang maestro yang berjudul “Basoeki Abdullah- Sang Hanoman Keloyongan” – ditulis oleh Agus Dermawan T. Buku lainnya yang masih terkait Basoeki Abdullah juga diluncurkan – berjudul “Lukisan Pemandangan Alam – Keluarga Abdullah” – disusun oleh Agus Aris Munandar dan kawan-kawan.

Sambutan Anies Baswedan pada pameran “Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah” yang keluar dari bibirnya memberikan makna yang perlu diperhatikan oleh orangtua masa kini. Anies Baswedan bercerita, sejak muda Basoeki Abdullah telah melahirkan karya. Sekolah di Den Haag, negeri Belanda. Karyanya yang terkenal saat itu “Mahatma Gandhi” dan “Yesus”. Dan beliau hadir memberikan teknik exposure di jamannya.

Orangtua di Indonesia kerap tidak mampu membaca bakat di dalam diri anak-anaknya. Beruntung Basoeki Abdullah terlahir dari keluarga seni yang mengerti dan mendukung dirinya dalam berseni. Anies juga memberi contoh pelukis berbakat dan berhasil, Kusnadi Zaeni yang menjadi murid dan tinggal di rumah Basoeki Abdullah. Karena hal itu, Anies Baswedan mempunyai program “Belajar Bersama Maestro” untuk tinggal bersama para maestro selama seminggu. Selain belajar teknik berkarya, anak-anak pun dapat mempelajari inspirasi dari maestro. “Inspirasi itu tidak bisa diubah-ubah,” ucapnya. Ia pun mengajak para tamu untuk membayangkan saat usia 100 tahun, apa yang akan dipampang oleh anak-cucu dan apa pesan yang bisa diambil.

Bagi Anies Baswedan, pameran ini merupakan biografi dan perjalanan karya, sebagai refleksi perjalanan Indonesia. Ia menambahkan bahwa gambar/foto pahlawan Pattimura dan Imam Bonjol adalah hasil dari rekontruksi wajah. Sebelumnya tidak ada masyarakat yang bisa mengambarkan persis rupa kedua pahlawan tersebut. Namun Basoeki Abdullah mengimajinasikannya -tentu bukan asal berimajinasi.

Saat pembukaan pameran ini, rata-rata tamu yang hadir adalah orang-orang pelaku seni, kolektor, pecinta dan penikmat seni. Ide yang bagus, museum Nasional mengadakan kegiatan acara seperti ini. Beberapa perusahaan swasta, yayasan yang bergerak di bidang seni dan budaya, komunitas seni, dan pelaku seni, sekarang ini, beramai-ramai mempromosikan seni kepada masyarakat Indonesia. Promosi kegiatan seni sama saja dengan mensosialisasikan kesenian. Wajar saja, Museum Nasional kini lebih aktif menjalankan bermacam kegiatan terkait seni. Memang jika museum ingin menarik jumlah pengunjung, diperlukan membuat acara-acara yang mampu memikat dan menarik perhatian masyarakat, khususnya generasi muda.

Generasi muda adalah kaum penggerak. Mereka bisa menularkan hal positif kepada anak-anak dan orang dewasa. Mereka pun dapat membawa sejarah untuk masa depan negeri ini.  Generasi muda maupun masyarakat luas harus punya imajinasi untuk meraih angan-angannya.Ditambah, sekarang jamannya sosial media yang terbukti sukses dapat melakukan promosi. Menyangkut seni, kita tidak hanya bicara promosi. Namun saat ini seni memang perlu ditularkan kepada masyarakat. Sebabnya, seni adalah ekspresi dan proses perjalanan – yang datang bukan dari individu saja – tapi juga sosial, budaya, politik, ekonomi, agama, kuliner, bahkan sebuah negara.

Dengan seni (dalam bentuk seni apa pun) manusia bisa menyembuhkan dirinya. Lewat karya, manusia bereskpresi dan berproses. Proses yang dilalui secara terus-menerus dapat memudahkan kesembuhannya dan kestabilan serta kedewasaan yang kian meningkat. Semakin meningkat dan meningkat, sehingga karya tidak lagi bicara soal “penyakit”nya, namun bicara mengenai keindahan yang membawa nilai,  kesan dan pesan.

Saya dan Lukisan Basoeki Abdullah

Pelukis Basoeki Abdullah lebih memilih melukis di bawah cahaya matahari dibanding cahaya lampu. Kebiasaannya ini membuat saya merenung dan memerhatikan beberapa lukisan yang digelar di pameran  ini.  Lukisan Basoeki Abdullah seolah-olah membawa saya berkelana dan masuk ke dalam lukisannya. Saya seperti berada pada cerita yang dilukiskannya. Walau tidak sedikit beliau melukis keluarga istana dan keluarga pejabat negara asing. Saya bagaikan alamiah berkenalan, menyentuh, dan berbicara dengan para keluarga istana dan keluarga presiden dari negara lain .

Begitu pula terhadap lukisan perempuan yang telanjang. Saya bagai sedang mengintip para perempuan itu dan secara diam-diam menikmati keindahan tubuh mereka. Saya bukan orang yang senang dengan hal porno. Tapi saya bicara soal lain. Menurut saya, lukisan sang maestro ini seperti meledak-meledak. Tersirat kegairahan dan garis tegas dari lekuk bentuk para figure dan lukisan alam serta lukisan ekspresinya. Mengalir dengan apa adanya. Meski saya dapat melihat bagian tubuh wanita yang dibuat lebih bagus atau sempurna oleh Basoeki Abdullah.

 

Beliau menganggap lukisannya adalah lukisan naturalis. Tapi tidak sedikit juga dari lukisannya tersirat surelis. “Ledakan” lukisannya menarik orang yang memandangnya dan mengatakan ada makna terselubung. Objek-objek di dalam lukisannya seperti mantra yang berkisah realita. Kerap lukisan tersebut bertutur bahwa inilah saya dan inilah yang terjadi. Warna-warni yang tumpah dalam lukisannya pun menjelaskan kepada saya bahwa inilah hidup yang penuh warna-warni.

Basoeki Abdullah memicu saya untuk lebih dalam mempelajari seni rupa, bukan sebagai seniman, namun orang biasa yang menikmati seni sebagai proses sejarah bagi diri saya sendiri. Saya pun dipacu untuk lebih berkarakter dan memiliki ciri khas.

Terima kasih Basoeki Abdullah. “Art is a Journey”, Yup that’s right.

Sumber Foto: Dokumentasi SN, kecuali Foto Lukisan “Nglakoni Urip”  Karya Jerry Thung, diambil dari akun FB Jerry Thung.

Tulisan ini juga di-publish di Tempo.indonesiana.co

Kurator Bambang Asrini & Mikke Susanto
Kurator Bambang Asrini & Mikke Susanto
Lukisan "Nglakoni Urip" Karya Jerry Thung
Lukisan “Nglakoni Urip” Karya Jerry Thung
Instalasi yang dibangun oleh Komunitas 12 Pas. Turut hadir meramaikan Pameran Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah
Instalasi yang dibangun oleh Komunitas 12 Pas. Turut hadir meramaikan Pameran Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah
Ruang Pameran Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah
Ruang Pameran Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah
Sebuah karya yang berada di ruang tertutup-hanya untuk 17th ke atas
Sebuah karya yang berada di ruang tertutup-hanya untuk 17th ke atas
Karya Visual Art turut hadir di pameran Rayuan 100 tahun Basoeki Abdullah
Karya Visual Art turut hadir di pameran Rayuan 100 tahun Basoeki Abdullah
Wawan Timlo dan Lukisan Anies Baswedan yang dilukis secara terbalik
Wawan Timlo dan Lukisan Anies Baswedan yang dilukis secara terbalik

2 Replies to “Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah”

Leave a Reply