Mendekati Matahari

sunset jimbaran

Tri Hita Karana pernah berucap,” Tiga penyebab terjadinya kebahagiaan,” satu kalimat yang memunculkan pertanyaan di kepalaku? Bukankah bahagia itu datang begitu saja tanpa perlu sebab, karena ia hadir atas kehendak Tuhan? lalu, Tri Hita Karana langsung menjawab pertanyaanku, “Apakah kamu sudah menjalankan ketiga hubungan yang ada di dalam kandunganku?” Yaitu: hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan Tuhan. ketiganya itu harus seimbang. Mendengar itu, aku termangu.

Pertama

Aku gampar wajah-wajah di tembok itu. Hingga dinding di rumah rontok. Tapi, aneh, mereka masih dapat berbicara. Melalui puing-puing dan serpihan cat tembok.

Kedua

Angin tersebut pindah dari kota abu-abu ke kota putih bersih. Di tempat baru, ia tidak bergerak. Demam selama 2 minggu. Tak bisa makan. Lemas. Panas. Tak dapat menemukan Roma. Yang bisa dilakukan, hanya duduk di teras atas setiap pagi, sore, dan malam. Memandangi awan dan langit melukis bumi. Selain itu, yang dilakukan membuang sampah plastik. Setiap harinya. “Aku tidak peduli kampanye mereka!”

Ketiga

 Buku-buku baru berjajar rapi. Dibungkus cantik. Dan siap dibaca sesuai jadwal. Tanpa tanda aba-aba, kumpulan buku itu jatuh beruntun dari meja belajar dan tidak bisa dikembalikan ke tempat semula. Tak lama, Tuhan hadir, “Bukan buku-buku itu yang Aku mau untuk kau baca”. Ah, lagi-lagi air mengalir tak ikuti bentuk.

Random

1>

Kamu bukan yang pertama, mungkin akan jadi terakhir.

“Tapi kamu tidak pernah yakin terhadapku,” ucapnya.

Dia memang benar, kawan!

2>

Kedalaman laut memang tidak bisa diukur. Tapi penari cilik itu merasa senang-senang saja. Toh, dirinya masih bisa menyaksikan tarian laut. “Aku tak perlu menari. Tak apa sekali-kali menari. Tapi aku ingin laut yang sering menari.”

“Ketidakpastian tariannya merupakan keindahan bagiku. Dekat maupun jauh adalah perihal kebiasaan membaca. Ukuran buat apa dihitung, bila kehadiran laut saja sudah membuatku bahagia.”

3>

Teh jahe gembira melihat wanita berkaca mata itu datang kembali ke ruang belajar. Wanita itu meliriknya secara diam-diam, “Rasanya aku perlu mencobanya.” Lima detik kemudian, Magrib meneleponnya, “Hai, sudah lama kita tak bertemu. Kapan kita bisa jumpa?” Selanjutnya, secara bergilir, Isha, Subuh, Dzuhur, Azhar, menelponnya.

“Ah, aku terlupakan lagi,” ujar Teh jahe.

4>

Aku selalu berdoa agar bisa mendekati matahari.

“Aku panas, ” ucap matahari.

“Tapi kamu kasih hangat setiap pagi,” kataku.

“Aku juga beri kesejukan di sore dan dingin di malam. Aku tak mau kau dekatiku. Aku takut kau kian bertambah cinta-cintamu. Coba kau hitung ada berapa cintamu sekarang?”

“Setiap aku berubah dari pagi ke siang atau ke sore atau ke malam, setiap kali itu juga cinta-cintamu bertambah dan berubah,” lanjutnya.

 5>

Dia berlari-lari. Dari rumahnya menuju Sanur, Kuta, Dalung, Renon, Kerobokan, Canggu, Jimbaran, dan diakhiri Ubud.

“Ngapain kamu di tempat-tempat itu?” tanyaku.

“Mencari-Mu,” jawabmu.

6>

Dendam. dikelilingi api. Aku benci dunia itu. dunia yang harus terus tampak berdiri tegap. Aku dan mereka adalah perasaan-perasaan saja.

7>

Tri Hita Karana. Aku memang anak ketiga dari seorang bapak bernama Hita bukan Hata. Namaku Karana, bukan Kirana. Karana aku dilahirkan oleh sebab. Apakah aku bahagia? Tra la la Tri li li..

2 Replies to “Mendekati Matahari”

Leave a Reply