Film “True Story” dan Sisi Lain Jurnalisme

Satu ungkapan untuk film berjudul “True Story” : Film kisah nyata tentang seorang jurnalis yang dikemas sangat bagus. Very recommended movie!

Film True Story, bergender mystery thriller,  disutradarai oleh Rupert Goold yang dirilis bulan April 2015 di Amerika dan ditayangkan di Sundance Film Festival. Judul “True Story” memang berdasarkan kisah nyata dari seorang jurnalis New York Times, Michael Finkel. “Based on true evidence” tertera di layar sebelum film dimulai. Film ini  mengangkat tema misteri pembunuhan, jurnalisme dan satu kesalahan yang dapat menghancurkan karir seorang jurnalis berkompeten dan sukses. Tokoh Michael Finkel diperankan oleh Jonah Hill, sedangkan James Franco memerankan tokoh Christian Longo, dan keduanya bermain secara natural dan sangat menikmati tokoh yang diperankannya. Di Film ini pun tidak heran bila penonton menemukan pakem penulisan jurnalistik yang memang perlu diperhatikan bagi orang-orang yang serius menjalankan profesinya sebagai jurnalis maupun penulis non fiksi.

true story

Plot

Michael Finkel adalah salah satu jurnalis andalan New York Times yang kualitas pekerjaannya tidak perlu diragukan lagi. Artikel terakhirnya yang dimuat sekaligus dipasang menjadi cover depan majalah New York Times, tentang perlindungan anak di perkebunan kakao Afrika, ternyata diragukan kebenarannya. Michael Finkel dianggap “mengarang” cerita dan tidak memberikan foto narasumber yang asli. Editor New York Times mempertanyakan beberapa kali kepada Mike Finkel, apakah benar Youssouf Male (anak yang mengalami pemukulan di perkebunan kakao) yang ada di foto tersebut. Namun, Mike menyangkal tuduhan itu. Ia juga membela diri bahwa ia bisa saja lupa dan meyakinkan mereka telah melakukan wawancara terhadap Yousssouf Male. Tapi apa yang dikatakan Michael Finkel bertentangan dengan situasi di lapangan. Tanpa Mike duga, ia dipecat saat itu juga oleh pimpinan redaksi New York Times. Kemudian Mike kembali ke rumahnya di Montana.

Di Cancun, Mesiko,  seorang pria yang mempunyai istri dan 3 anak perempuan yang masih kecil-kecil, mengaku bernama Michael Finkel dan  berprofesi sebagai jurnalis New York Times. Pria itu bernama Christian Longo dan ditangkap karena dituduh membunuh istri dan ketiga anaknya. Pengakuan identitas itu diketahui oleh seorang reporter dari The Oregonian yang langsung mengabarkan Mike Finkel perihal tersebut. Mike terkejut dan penasaran mengapa Christian Longo mengaku sebagai dirinya. Lalu, Mike memutuskan mengunjungi Christian Longo di penjara.

Saat awal pertemuan, Christian Longo melihat cermin dirinya di Michael Finkel dan mengetahui segala kehidupan Mike Finkel. Christian tahu tipe istri Mike, kepribadian, dan pemikiran Mike – seolah-olah Christian yang menjalani kehidupan Mike. Kerutan dahi Mike terus bertanya, “Why me?” Mike Finkel merupakan sosok penulis yang sangat dikagumi oleh Christian. Tidak hanya artikel-artikel dan penulisannya yang menginspirasi, kehidupan Mike Finkel juga diikutinya. Mike pun tersadar bahwa ia dan Chris  mempunyai dua dunia berbeda, profesi berbeda, fisik berbeda, namun mempunyai satu kesamaan yang belum ia ketahui pasti. Pertanyaan lain di kepala Mike adalah alasan Christian membunuh keluarganya, padahal Chris memiliki hubungan harmonis terhadap keluarganya, hanya problema  ekonomi yang menjadi masalah dan membuatnya timbul rasa bersalah dan tidak berdaya.

Pertemuan pertama dilanjutkan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Awalnya Mike hanya ingin menulis artikel kisah tentang Christian, tapi lambat laun ia sadar bahwa cerita Chris (kumpula surat yang diberi judul Wrong Turns) lebih tepat dijadikan  buku. Chris pun menyetujui Mike untuk menuliskan ceritanya dan bersedia menceritakan kejadian yang sebenar-benarnya – perasaan-perasaanya, ingatan-ingatannya, masalah kehidupannya, dan tuduhan pembunuhan . Dari dialog mereka, Mike menilai kemungkinan Chris tidak membunuh keluarganya. Untuk meyakinkan Chris tidak bersalah, Mike butuh pengakuan jujur dari diri Chris. Bagi Mike, berhadapan dengan Chris berarti ia bisa menghadapi dan memahami dirinya terlebih setelah peristiwa pemecatannya. Dan Chris tahu Mike telah melakukan kebohongan terhadap artikelnya itu. Menurut Chris mencari jawaban tentang kebenaran itu berasal dari diri sendiri.

Di sini terlihat Chris memiliki 2 sisi kepribadian yang bisa berganti-ganti, bahkan menyerupai Mike dengan “kebohongan”nya dan sisi jurnalismenya itu. Sebelum sidang, Mike menyarankan Chris agar berbicara jujur tentang pembunuhan yang dilakukannya itu. Di Sidang kedua, Chris mengaku hanya membunuh Istri dan satu orang anaknya, dan dua anak lainnya, sebelumnya  telah dibunuh istrinya. Padahal sebelum sidang, Chris mengaku tidak membunuh keluarganya. Bagaimana mungkin ia membunuh keluarga yang dicintainya. Meski Chris berpendapat sebelumnya lebih baik mengaku telah membunuh semua keluarganya agar semuanya cepat berakhir.

Pengakuan Chris yang berbeda-beda membuat Mike terkejut dan mendapatkan ancaman penolakan dari penerbit buku terkenal, Harper Collins, padahal tulisannya hampir selesai. Penerbit hanya ingin cerita yang sebenarnya, bukan cerita fiksi yang berbaur kisah nyata tak akurat dan karangan. Mike kesal karena telah berbulan-bulan mengunjungi Chris untuk mengikuti kisah perjalanannya untuk dituliskan ke dalam buku. Dan telah banyak pula surat-surat Chris yang dikirimkan ke Mike mengenai keluarga dan kehidupan pribadinya – Mike hanya boleh bertemu Chris selama 30 menit untuk mengunjungi Chris di penjara. Surat dan  gambar merupakan cara bagi Mike mengumpulkan data dan kehidupan pribadi Chris. Bagi Mike cerita Chris tentang ketidakmampuannya membeli mainan untuk anak-anaknya merupakan sisi cerita yang bisa diangkat: membunuh karena tidak mampu menyenangkan istri dan anak-anaknya.

Di sidang terakhir, Chris ditemukan bersalah atas semua tuduhan dan dijatuhi hukuman mati. Sebelum dibawa, Chris mengedipkan mata kepada Mike. Mike kaget dan sadar bahwa selama ini, Chris telah berbohong dan memanfaatkannya untuk membuat kesaksiannya bisa lebih dipercaya selama persidangan. Kedipan mata Chris merupakan kebiasaan para jurnalis yang juga dilakukan Mike untuk memberikan pesan atau ucapan terima kasih kepada orang yang istimewa karena telah memberikan informasi.

Saat dipindahkan ke penjara lain dan menunggu hukuman mati, Chris kembali ditemui Mike. Chris menyeritakan cerita sebenarnya kepada Mike tentang kejadian malam pembunuhan. Chris mengatakan bahwa ia melihat istrinya mencekik salah satu anaknya. Ketika perbuatan istrinya dihentikan Chris, sang istri terjatuh dan kehilangan memorinya. Namun, Mike tidak percaya lagi cerita bohong Chris dan akan memperingatkan hakim di sidang selanjutnya (naik banding) bahwa Chris telah memanipulasi cerita pembunuhan tersebut.

Sisi Film True Story dan Jurus Menulis

Pada akhirnya, Mike Finkel memutuskan membuat buku tentang kejadian-kejadian yang dialaminya selama menganggur, penolakan dari berbagai media dan mewawancarai Chritian Longo. Tidak ketinggalan pula, penolakan-penolakan dari berbagai jaringan media yang dimiliki Mike Finkel – setelah dirinya dipecat. Dan memberi judul “True Story” pada bukunya dengan alasan bahwa semua peristiwa itulah cerita yang sebenarnya. Kejadian-kejadian penuh manipulasi dan perihal kebohongan yang dilakukan dirinya dan Christian Longo.

Bagi saya sebagai penikmat film, True Story merupakan film yang membawa pesan dan pelajaran bermakna. Yang pertama adalah soal kebohongan. Kedua manipulasi. Ketiga tentang “pakem” penulisan jurnalisme. Data akurat merupakan hal utama yang dibutuhkan membangun sebuah tulisan artikel. Michael Finkel seharusnya mewawancarai nara sumber Youssouf Male, tetapi ia mewawancarai orang lain yang dianggapnya memiliki cerita yang sama dengan narasumber. Foto yang diberikan ke redaksi pun bukan foto narasumber. Hal ini menunjukan integritas seorang penulis Michael Finkel yang dipertanyakan oleh Pimpinan Redaksi dan Editor New York Times.

Banyak peristiwa memungkinan orang  berprofesi sebagai jurnalis yang selalu berhadapan dengan “deadline” terbukanya kesempatan untuk melakukan manipulasi, meski hal ini tidak bisa disama-ratakan. Manipulasi yang kecil maupun besar. Pembaca terhadap peristiwa/kejadian realita percaya pada media karena yakin media tidak akan menuliskan “karangan” kepada publik. Jika berita/tulisan tersebut terbukti tidak bisa diakui keaslian dan keakuratannya, wajar saja bila pembaca dan masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap suatu media tersebut sekaligus penulisnya. Apabila media sudah tidak bisa dipercaya, mana lagi yang harus dipercaya oleh masyarakat? Haruskan masyarakat datang berbondong-bondong ke TKP dan meminta ulang kejadian kepada pelaku?

Kejujuran dan manipulasi tidak ditujukkan bagi profesi jurnalis saja. Profesi apa pun,  siapa pun Anda dan di mana pun, hidup di antara kejujuran dan kebohongan. Dengan kebiasaan atau situasi mendesak. mampu membuat orang berbohong yang dilanjutkan kemampuan merangkai cerita atau memanipulasi. Manipulasi bisa “tertangkap” ataupun tidak oleh orang lain. Jika orang sudah menyadari adanya manipulasi itu, maka habislah Anda, kita, saya, kami, dia, dan mereka. Karir yang dibangun bertahun-tahun dan menghasilkan kesuksesan bisa hancur dalam hitungan detik

Di film True Story ada beberapa dialog terkait penulisan jurnalisme yang bagi saya merupakan jurus dan hal terpenting yang harus dilakukan oleh jurnalis maupun penulis. Beberapa dialog yang dilakukan Mike Finkel dan Christian Longo  erat kaitannya dengan pengakuan pembunuhan dan proses penulisan buku. Awalnya, Chris sempat bingung untuk memulai ceritanya darimana. Mike menyarankan, “Just Think One Word.”  Satu kata yang tercetus langsung dari pikiran. Satu kata yang bisa melebarkan dan mengembangkan cerita. Jurus satu kata ini memang digunakan untuk mengatasi kesulitan memulai tulisan. Saya pun pernah mencoba kiat ini. Dalam Film True Story, tercetus langsung di kepala saya kata “Kejujuran” dan “Tips Menulis”. Kedua hal penting buat saya. Saya pun langsung mem-pause film dan mencatat di note saya setiap scene terkait penulisan.

Chris menulis kalimat di suratnya, “Aku tidak pernah berkata itu bukan pekerjaan yang tidak kuinginkan,” Mike langsung mengatakan itu adalah double negative (negatif ganda dalam 1 kalimat). Mike menjelaskan bahwa dalam penulisan  jurnalisme yang baik, tidak ada  double negative. Sebaiknya kalimat tersebut berbunyi, “Itu pekerjaan yang aku inginkan.” Jurus ini pun mempunyai hubungan terhadap jawaban perihal pengakuan dalam film ini, “Iya” atau “tidak”. Dari jawaban tersebut memberi penegasan apakah seseorang itu mengakui kesalahannya atau tidak mengakuinya. Di film  ini jmemberi penegasan bahwa sebenarnya pekerjaan tersebut yang Chris inginkan. Dan bagi saya di dalam kehidupan, orang perlu tegas terhadap apa yang disukai atau tidak disukainya, apa yang diakuinya atau yang tidak diakuinya. Hanya “Iya” atau “Tidak” tanpa membungkus absurd  dalam suatu kalimat pengakuan. “Dua negatif tidak menjadikannya positif”. Hmm, tidak hanya dalam penulisan, tapi juga luas maknanya di segala bidang.

Berikutnya, Mike bertanya, mengapa Chris pergi ke Meksiko di hari pertama setelah pembunuhan? Menurut Chris, terkadang kamu harus menerima melihat satu arah dalam melindungi sesuatu yang penting. Mendengar itu Mike menentangnya, karena baginya, ia harus melihat ke segala arah. Begitu pula dalam penulisan, tidak sekedar melihat/mencari satu arah, satu sudut pandang lain dan satu sumber, dan melainkan melihat ke berbagai segi arah. Mungkin apa yang diucapkan Chris benar terhadap suatu hal, tapi lain halnya dalam penulisan, apalagi penulisan secara jurnalistik. Bagi saya tidak hanya jurnalis, semua orang pun perlu memandang dan berpikiran secara luas. Berpikiran ke segala arah. Ke mana saja.

Koneksi dialog Chris yang mengatakan ia akan mengakui semuanya agar semua cepat berakhir (seperti yang telah saya tuliskan di atas) membuat Mike mengungkapkan kebenaran yang tidak pernah diucapkan pada siapapun termasuk istrinya. Mike mengaku bahwa saat proses penulisan artikel yang telah membuatnya dirinya dipecat, ia tidak melakukan apa yang semestinya dilakukan. Mike tidak mencampurkan catatannya dan tidak mengabungkan karakter dengan bukti. Mike  ingin apa yang dipikirkannya tentang topik cerita itu, menarik bagi pembaca. Ia  terlalu memikirkan dan berusaha untuk menyampaikan kisah yang bagus, sehingga melupakan atau kehilangan kesadaran kewajibannya terhadap kebenaran.

Mike pun menganjurkan Chris untuk jujur di saat sidang nanti dan dalam wawancara penulisan. Walaupun harus menutupi kesalahan seseorang dengan cara berbohong, ini akan “menghabiskan” energi dan menghancurkan diri sendiri. True Story mengambarkan kisah dua orang yang mempunyai masalah terhadap kejujuran. Dipertemukan, yang satu berkaca terhadap cermin sendiri, yang satunya lagi mengikuti apa yang dilakukan oleh orang di hadapannya itu. Bahkan, Chris menerapkan double negative yang diperolehnya dari Mike, ketika hakim bertanya, ia menjawab satu kalimat berganda negatif. Kebohongan-kebohongan yang berakhir dengan kebenaran. Kebenaran bahwa apa yang diucapkan mereka adalah kebohongan dan tindakan manipulasi.

Suatu film yang mengangkat tema sederhana: kejujuran. Yang kerap berhubungan dengan profesi dan pelaku pembunuhan. Sebuah film yang disajikan cukup apik!

Bagi saya kejujuran penting, jujur kepada diri sendiri, itu lebih baik daripada mengakui kejujuran tentang orang lain, namun diri masih berperang identitas antara kejujuran dan kebohongan. Di dalam pekerjaan pun otomatis akan berpegang teguh pada kejujuran, bila jujur itu telah tertanam. Termasuk dalam hal menulis, entah jurnalis, penulis pemula, blogger, ataupun sekedar menulis status dan diary, masikah kejujuran dipertimbangkan?

Lalu bagaimana pemberian judul agar membuat pembaca tertarik? Sepertinya saya harus berpikir lebih keras lagi tentang pemberian judul seperti di tulisan ini dan di tulisan-tulisan selanjutnya, agar memiliki daya tarik, dan juga bisa dipegang keakuratannya. Ini bercermin pada diri atau pada cermin luar atau kedua-duanya?

 

Sumber gambar: diambil dari impawards.com

 

 

 

 

 

 

 

5 Replies to “Film “True Story” dan Sisi Lain Jurnalisme”

Leave a Reply