Perempuan dalam Belenggu Budaya

Budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat.” –  E.B. Taylor.

Perempuan. Sedarah.  Sebukit. Semusim. Berada di alam Ngadha yang sejuk dan dikelilingi laut biru. Diberkahi kekayaan kopi, cengkeh, kopra, jagung, minyak sawit, umbi, jahe, kemiri dan besi (kastela). Namun, terikat dalam budaya “menanti”. Menanti yang bukan harapan. Menanti karena kekayaan alam berlimpah telah membuat zona kenyamanan terpatri dalam pola pikir, bahkan jiwanya. Bicara soal kenyamanan, siapa yang tidak sulit meninggalkan kosakata nyaman yang telah berjalan lama di kehidupannya?

Memerhatikan negeri Flores, tepatnya di Ngadha, Bajawa, hanya pemandangan alam yang bisa dinikmati dan melekat di kepala. Tidak tampak panganan khas yang berasal dari sumber alamnya, kecuali kopi. Kopi Flores memang terkenal cita rasanya dan tidak ada yang bisa memungkirinya. Tapi hasil alam lainnya tidak dimanfaatkan secara baik. Misal saja, kastela atau disebut besi oleh orang Flores, biasanya mereka hanya menyantap kastela dengan direbus/dikukus, tapi belum pernah dibuat menjadi keripik kastela atau kue bolu. Masih banyak bahan alami yang mereka miliki, tapi tidak diolah secara baik. Soal cita rasa makanan pun,  mereka tidak pandai meraciknya, sehingga terasa hambar. Satu lagi, nyaris tidak pernah melihat makanan khas di daerah Bajawa, entah itu di pasar, warung, dan restoran.

Perempuan Bajawa

            Apakah  ini terkait budaya? Lalu, apa yang dilakukan perempuan lainnya di Bajawa yang mempunyai wawasan, pola pikir, dan budaya berbeda dibanding mereka? Apakah hanya budaya yang dipersalahkan mengenai hal tersebut? Semua pertanyaan ini berasal dari yang terlihat di acara Bazar Pangan Kreatif, 8 Maret 2015, Soa – Ngadha, Flores.

            Terdapat perbedaan getar suara, lekuk wajah, binar mata, yang terlingkup wawasan, inisiatif, kreatifitas, dorongan semangat, budaya, dan harapan, antara para perempuan dari setiap  4 desa peserta bazar pangan. Salah satu perempuan dari desa Meliwaru memajang bahan makanan alami yang dimasak kreatif; serabi jahe, kue kacang hitam (Hobho), kue pisang kismis (Muku Kero), kue labu kuning, dan serabi jagung. Bentuk semua hidangan tersebut cukup menarik dan membuat orang ingin mencicipi. Bentuk potongan pizza dan bola, bisa membuat anak-anak yang sulit makan menjadi mudah. Rasanya pun enak.

            Setelah menjawab beberapa pertanyaan, seorang wakil dari Desa Meliwaru – bekerja di kantor daerah, menginjak pendidikan sampai Universitas, mengaku makanan tersebut adalah hasil murni idenya sendiri. Dengan kegiatan bazar ini, bisa jadi diteruskan, bisa juga tidak, karena keterbatasan waktu mereka lebih menyita di kantor. Paling tidak, penganan mereka disajikan untuk keluarga sendiri.

            Lain lagi halnya dengan para perempuan pembuat keripik kastela dan kue bolu kastela. Sebelum kegiatan bazar diadakan, mereka sama sekali tidak pernah terlintas menciptakan keripik atau memodifikasi menu makanan dan bergizi. Resep pun berasal dari Komunitas Kreatif Bajawa yang anggotanya terdiri dari 4 perempuan dan sebagai salah satu penerima hibah dari Yayasan Kelola bekerjasama PNPM. Selama 1 hari mereka dilatih oleh Komunitas Kreatif Bajawa, untuk mengaplikasikan resep.

            Pekerjaan mereka pun sehari-hari bertani dan berkebun. Mereka mengaku kegiatan sehari-hari di ladang dan kebun tidak cukup memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sebelumnya mereka menjalankan saja kehidupan seperti itu dan tidak berbuat apa-apa, pasrah. Keberadaan 4 perempuan yang bernaung di bawah Komunitas Kreatif Bajawa telah membuka pandangan dan wawasan mereka, bahwa pengolahan makanan harus kreatif dan bisa menambah pendapatan. Mereka pun berharap agar hasil keripik buatan mereka enak dan bisa dijual ke masyarakat. Bahan-bahannya alami dari perkebunan sendiri, sehingga lebih mudah dijangkau dan dilakukan oleh ibu-ibu.

            2 contoh di atas mengambarkan adanya kesenjangan ekonomi, pendidikan dan pola pikir termasuk budaya yang terpahat di mereka.  Ibu Metty – salah satu anggota Komunitas Kreatif Bajawa, bercerita bahwa, wilayah Ngadha ke utara masih menganut budaya Patrilinear dan Bajawa ke selatan Matrilinear. Jadi, perempuan di Ngadha tidak bisa membuat keputusan sendiri – segala keputusan berada di tangan sang suami. Wajar saja, pikiran mereka terpatri. Mungkin, hal-hal baru yang datang ke mereka tidak mudah cepat diterima. Pikiran untuk mengembangkan sesuatu pun terbatas. Mereka hanya menerima yang telah ada, tidak berani berbuat sesuatu karena takut dimarahi atau tak menghargai suami, sehingga imajinasi menjadi beku. Mereka tidak biasa berinisiatif, mengeluarkan ide-ide, dan mengemukakan opini. Sedangkan Matrilinear sebaliknya.

            Kesulitan Komunitas Kreatif Bajawa yang juga termasuk Komunitas Piu Wiu (saling dukung) adalah komunikasi. Kesabaran juga dibutuhkan untuk membimbing dan memberikan dorongan. Satu cara yang membuat semua lebih mudah ialah sama-sama berasal dari satu tanah, Bajawa, Ngadha. Pendekatan cepat dan terbilang efektif, dibanding menurunkan orang asing untuk mengenalkan kepada mereka sesuatu yang baru.

            Ibu Rini sebagai kordinator Komunitas Kreatif Bajawa, tidak akan melepas/meninggalkan mereka sampai benar-benar mandiri. Apalagi, sekarang sedang digalakkan peternakan unggas. Ibu Rini ingin semua anggota dampingan (perempuan di Bajawa) mempunyai unggas sendiri, setidaknya 10 ekor. Itu harapan Ibu Rini dan juga perempuan-perempuan di wilayah Ngadha yang berada dalam kelompok dampingan Komunitas Kreatif Bajawa.

            Budaya sering menghambat suatu perkembangan pola pikir seorang, sekelompok, bahkan satu bangsa. Namun jika budaya bisa ditipiskan, mengapa tidak dilakukan demi tujuan yang lebih baik. Toh, sebagai perempuan yang lebih cerdas,  mengerti budaya yang bagaimana harus ditinggalkan. Dan dia pun bisa menularkan kepada sesamanya yang jauh tertinggal.

            Menjelang kegiatan bazar selesai, para peserta merasa senang dan memiliki harapan untuk dirinya dan keluarganya. Wajah-wajah itu amat menyembur cahaya kebahagiaan dan tampak secercah kelegaan. Apa yang dilakukan Ibu Rini dan ketiga temannya patut dicontoh oleh perempuan-perempuan lain. Lalu apakah masih menyalahkan budaya? Rasanya itu sebuah proses yang tak bisa dihindarkan.

Leave a Reply