Debat Cawapres Hatta yang Cemerlang

Debat Hatta Rajasa

Hampir seluruh rakyat Indonesia tertuju menyaksikan Debat Cawapres minggu malam kemarin, 29 Juni 2014. Debat antara Jusuf Kalla dan Hatta Rajasa, bertema SDM dan IPTEK, bisa dikatakan sukses dan seru. Pertanyaan-pertanyaan tajam yang dilontarkan sang moderator, Ibu Prof. Wikorita Karnawati, sempat membuat kedua Cawapres menyinggung kinerja masa lalu mereka. Kedua Cawpres pun menjawab alasan-alasan mereka.

Dari 5 sesi debat yang ditampilkan – bukan maksud membanding-bandingkan – Hatta Rajasa tampil lebih menonjol dan menawan. Setiap pertanyaan dari moderator maupun Jusuf Kalla, dijawab secara lugas, lengkap, tenang, ringkas, dan padat oleh Hatta Rajasa. Sosial media pun tidak kalah ramai ‘unjuk gigi’ saat acara debat ini berlangsung. Mereka langsung menuliskan apa yang diucapkan Hatta di timeline mereka. Sebetulnya, wajar apa yang dilakukan oleh mereka itu, hanya saja minggu malam kemarin, timeline Twitter begitu cepat berjalan. Banyak kemunculan istilah-istilah dan penjelasan yang cepat saat Hatta menjelaskan program dan visi-misinya. Mungkin, hal inilah penyebab timeline begitu ramai dan berjalan cepat.  Bagi saya, Hatta sangat cerdas menjawab, menerangkan program, dan menyatakan statement terakhir dengan cukup jelas, ringkas, dan padat berbobot.

Pembahasan di sesi pertama mengenai visi misi,  Hatta Rajasa mengatakan, bahwa kualitas SDM harus ditingkatkan agar bisa menghadapi tantangan-tantangan di masa depan. Menurut Hatta, kualitas SDM sangat tergantung pada pendidikan dan kesehatan. Ia yakin, Indonesia bisa maju jika SDM dan penguasaan IPTEK menjadi pilar utama pembangunan bangsa. Tidak ketinggalan, Hatta mengucapkan “Kata kunci” yaitu bagaimana membuat seluruh rakyat Indonesia menikmati pendidikan secara inklusif, adil, dan merata.

Di bidang kesehatan, Prabowo-Hatta memastikan seluruh rakyat mendapatkan akses BPJS dan akses pelayanan kesehatan dapat mudah dijangkau dan bisa dinikmati rakyat. Selanjutnya, Hatta menyinggung soal pengembangan inovasi, kesehatan, dan pendidikan yang juga harus bisa dirasakan oleh rakyat.

Mekanismenya, memperluas akses dan jangkauan pendidikan sampai ke daerah terpencil dan daerah tidak mampu. Itulah alasan mengapa Program Wajib Belajar 12 tahun dijalankan. Kemudian, Menyediakan fasilitas komputer di tiap sekolah umum, sekolah kejuruan, sekolah agama, dan pesantren. Menyediakan balai-balai pelatihan di setiap daerah. Meningkatkan kesejahteraan dan kualitas para pendidik (guru) dengan mengalokasikan dana APBN sebesar Rp.20 trilyun selama 2015-2019.

Sesi kedua, Hatta mengingatkan UUD pasal 31 kepada masyarakat tentang negara wajib melaksankan pengembangan sumber daya alam yang telah diatur dalam pasal ini. Sesi kedua ini, Hatta sering mnyebutkan istilah inklusif saat membicarakan program pendidikan. Inklusif bukan ekslusif. Inklusif dan keadilan. Maksudnya, memberikan pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali. Sehingga, rakyat yang tidak mampu dan berada di daerah yang sulit terjangkau, bisa merasakan program pendidikan wajib belajar 12 tahun.

Program ini dipersiapakan dalam setiap 5 tahun ke depan dengan meningkatkan 2 kali lipat biaya operasional. Pngembangan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas, keterjangkaukan. Caranya menambah guru, kualitas dan kesejahtreaannya.

Sebuah kalimat dari Hatta – yang menurut saya merupakan alur dari kata ‘ kunci’, adalah ” IPTEK akan maju seiring dengan pengembangan SDM dan kualitas bangsa Indonesia. Kalimat ini tidak salah, malah logikanya sangat benar.

Selanjutnya, pertanyaan dari sang moderator, ” mengapa SDM berkualitas malah bekerja di luar negeri?” Pertanyaan ini dijawab Hatta dengan raut wajah berseri-seri. Terlihat Hatta tahu betul permasalahan yang terjadi. Tidak bisa dipungkiri, Hatta Rajasa memang pernah hidup di luar negeri. Tentu beliau mengetahui alasan mengapa orang-orang Indonesia yang mengambil pendidikan dan bekerja di luar negeri tidak ingin kembali ke Indonesia. Menurut pengamatan Hatta, strategi pembangunan Indonesia masih kurang baik. Contoh; jika menjual bahan mentah ke luar negeri, bisa membuat engineer Indonesia bekerja di luar negeri. Contoh lagi: banyak rakyat India bekerja di luar negeri, tapi hal ini bertujuan untuk kembali ke tanah air, membangun negerinya. Alasan lainnya adalah kemacetan, transportasi dan infrastruktur yang tidak memadai juga merupakan alasan mereka enggan kembali ke Indonesia. Nah, contoh seperti India itu yang harus diterapkan dan dilakukan oleh Prabowo-Hatta nantinya. Hmm, bekerja dan mengambil ilmu di luar negeri untuk kembali ke tanah air, membangun Indonesia”. Ah, indah sekali jika hal ini benar-benar terjadi pada Indonesia.

Saat pertanyaan dari Jusuf Kalla mengenai prestasi Hatta ketika menjadi Menristek, Hatta pun menjawab apa adanya. Hatta mengatakan,”Pertama di bidang pangan begitu banyak temuan-temuan  genetic modified, padi  terutama yang diaplikasikan oleh LIPI dan PBB yang bermanfaat dan juga Perguruan Tinggi IPB. Kami pun mengfokuskan di bidang transportasi dan itu bermanfaat sampai sekarang dan tetap dijalankan. Kedua di bidang energi, saya mengagas tidak boleh lagi membangun pembangkit dalam 15 meter watt tanpa mengunakan kolabarasi nasional kita. Dan itu kita bangun 2 kali 7 megawatt di Kalimantan Timur sampai sekarang. Saya sayangkan jika kita membangun 10.000 megawatt yang seratus persen China dan sama sekali tidak membangun kemampuan dalam negeri kita. Nah, menurut saya, saya bangga dengan itu, Pak JK. Terima Kasih.”

Pertanyaan dari Jusuf Kalla, dijawab  Hatta dengan yakin dan tanpa keraguan. Hatta pun bangga atas prestasinya itu. Kemudian, pertanyaan selanjutnya diajukan oleh JK mengenai swasembada pangan.  Sebetulnya Indonesia sudah ber-swasembada pangan, impor hanya diperuntukan bagi warga negara asing, kecuali apabila terjadi iklim ekstrim. Seperti Anda ketahui, negara Indonesia seringkali terjadi iklim ekstrim yang mengganggu produksi, maka dilakukan impor hanya bersifat insidential. Menurut pandangan Hatta, agenda riset-riset ke depan adalah membangun, mengembangkan, melakukan riset yang berkaitan dengan kesinambungan pangan Indonesia.

Berikutnya, Soal insklusif diungkapkan kembali oleh Hatta. Insklusf dan berkesinambungan itu merupakan hak mendasar warga negara Indonesia, sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 31 UUD 45, Ayat 1 yang berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” Setiap warga wajib mendapatkan pendidikan dasar dan Pemerintah wajib membiayai. Inilah yang dimaksud dengan Inklusif dan berkeadlilan; tidak membedakan. Dan Indonesia telah mempunyai konstitusi pendidikan yang dibiayai. “Jika perlu kita naik terus sampai ke Perguruan Tinggi,” ucap Hatta Rajasa. Rasanya ini bukan hal muluk dan Prabowo-Hatta ke depannya terus mengusahakan tujuan ini.

Di pengujung debat, Hatta lagi-lagi menuturkan visi-misi Prabowo-Hatta dengan suara berisi penuh gemilang.

Rakyat Indonesia yang saya cintai di manapun berada, para Ibu-ibu, para pedagang asongan, para nelayan, para buruh, para dokter, para perawat, para teknisi, dan semua yang ada di tanah air. Mari sejenak kita bayangkan, mimpi kita adalah agar masa depan anak-anak kita lebih baik, lebih cerah dan Ibu-ibu tidak mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya. Oleh sebab itu, kita harus bekerja keras membangun bangsa ini, sungguh menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Mari sejenak kita bayangkan, seanadainya sumber daya alam kita habis, pertanyaan kritis kita, apakah negera kita akan kolaps, apakah kita akan divided, apakah negera kita akan tersisih? Jawabannya adalah Tidak, karena Prabowo-Hatta mengedepankan konsep pembangunan meletakkan sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai Pilar Utama membangun bangsa yang kita cintai ini. Energi kita bisa habis, tapi kecerdasan anak-anak dan Ibu-ibu yang kita didik akan melahirkan generasi-generasi tangguh yang akan menjawab tantangan pada jamannya. Insya Allah Indonesia akan menjadi negara yang maju, sejahtera, disegani, macan di Asia, dan disegani di dunia.”

Sambutan meriah gempita diberikan oleh penonton yang menyaksikan debat secara langsung, sepertinya tidak berbeda pula dengan masyarakat Indonesia yang lain. Nah, rakyat Indonesia, bagaimana menurut Anda jawaban-jawaban dan last statement dari Hatta Rajasa? Sungguh Cemerlang, bukan? Kaji isi apa yang diutarakan Hatta, dan tanggal 9 Juli nanti, masa depan Indonesia berada di tangan Anda semua.

Leave a Reply