“Selamat Pagi, Beib”

Selamat pagi Beib. Aku ingin selalu mengucapkan selamat pagi ini untukmu kapan saja.  Bisa di siang hari, sore, malam atau bila kita tidak sedang bertemu sekalipun. Pagi, kamu tahu Beib? Aku selalu suka dengan pagi. Di pagi hari semua warna, makhluk hidup, alam, bahkan benda mati, semua mengeluarkan sinar keaslian sendiri. Dan aku ingin menyapamu dengan memberikan lahir dan batinku apa adanya. Walau aku tahu, aku tidak sempurna – tak seperti yang kau inginkan, tapi beginilah aku. Terserah Beib, kamu mau terima atau tidak. Tentu, aku mengharapkan My Beib mampu merasakan aura, rasa, tubuh dan prilaku yang aku persembahkan.

 

Beib, kecuplah keningku setelah aku menuturkan ‘Selamat pagi’ kepadamu. Jika aku tidak ada di hadapanmu, bayangkanlah udara itu adalah keningku, Beib. Dan bagaimana bila kau telat bangun pagi dan baru merangkak di siang hari? Lihatlah ke langit biru, Beib. Ia masih memancarkan biru, bukan? Biru, warna kesukaanmu, Beib. Tidak usah jauh berpikir untuk ke pantai-hembuskan angin sepoi-mencium aroma ombak-dan mendekap rona biru laut. Singkirkan dulu, terik matahari yang menganggumu, Beib.  Beib, geledahlah  langit untuk mencari keningku. Pasti Beib temukan, karena kau selalu mengantung biru di sakumu, Beib.

Apabila kau terjebak waktu di pagi dan siang, maka terima saja rayuan senja di bumi. Telusuri secara melompat di tiap gradasi senja. Aku akan ada di sana menantimu dan mungkin bukan kening saja yang ku berikan, tapi juga kedua mata ini. Kedua mata yang selalu memandang keseluruhan pagi bersama biru dan juga saat kau merintih akan biru. Jendela mata milikku sudi menerima segala bentuk birumu, Beib, apapun itu ia bergejolak. Bibirmu akan membawa nuansa kian roman, karena aku sudah kuasa melukiskan-bagaimana sentuhan bibirmu nanti terdampar di kening dan kedua mataku, Beib. Beib, kau masih mendengarkan aku? Pasang terus telepatimu, ya Beib!

Nah, Apa kabar dengan siempunya malam, Beib? Sebegitu larutkah kau kecup aku hingga rembulan terang meninggi? Ada apa dengan pagi, siang dan senja, Beib? Kau mungkin tidak pernah naik kereta, namun naiklah sesekali. Lihat gerak lintasannya. Cepat, Beib! Begitu juga hidup. Hidup selalu bergerak cepat. Jika kereta punya tempat asal dan tujuan lokasi, ia hanya akan berlari dari asal sampai tempat tujuan saja, kemudian ia berhenti. Tidak dengan hidup, ia akan terus menerobos lokasi, bahkan waktu, tanpa mengenal cuaca atau badai sekalipun. Kecepatan pergerakan hidup jauh lebih cepat dibandingkan kereta. Dan malam selalu terasa cepat bagi orang yang terlelap.

Masih paragraph mengenai malam, Beib. Dongakkan kepalamu ke atas langit, pilih satu bintang yang bertebaran di sana. Di satu bintang, aku duduk manis menunggu dekap erat hangat darimu, Beib. Untuk malam, aku beri pengecualian. Beib, boleh mengecup kening, kedua mata, hidung, kedua pipi dan bibir. Bahkan buat bibir, Beib boleh mencium tiga kali atau berkali-kali. Tapi aku tidak mau kau bosan mengecup aku, Beib! Seandainya Beib rindu padaku, berjalanlah menuju teras rumah dan kecuplah angin malam. Anggap ia adalah seluruh bentuk wajahku dan bebaskan hatimu untuk menubruk segala bentuk di parasku. Bila bibirmu sudah mendarat di keningku, hiruplah aku bagai wewangian segar di pagi hari. Karena aku mencintai pagi, Beib! Hilangkan kehadiran malam biar segelap apapun, tetapi munculkan kedatangan pagi di ufuk malam. Malam yang akan bekerja sama dengan pagi, mengurai segala ingatan, kerinduan, cinta dan kasih sayang ini.

Beib, pagi itu ialah suatu langkah awal untuk kaki melangkah meraungi hari ini dan juga hari-hari esok selanjutnya. Pagi selalu datang penuh senyuman gemilang, juga menyenangkan. Seperti rupamu yang menyenangkan, Beib. Pagi terisi segala rencana-rencana. Aku punya rencana di pagi ini; menulis kata batin di hati. Apakah kamu punya rencana di pagi ini? Masalah akan terwujud atau tidak, serahkan saja pada alam semesta, sebab ia akan menjulurkan tangan-tangannya, mengiring langkahmu.  Aku tahu apa mimpi-mimpimu, Beib. Aku juga tahu harapan-harapanmu. Ayo, bisikan di pagi hari seraya tak lupa menabrak wajahku di gulungan udara atau angin sang pagi.

Beib, jika ketepatan telepatimu masih berfungsi, carilah aku di pagi hari. Biar siang, senja atau malam, anggap saja semua itu adalah pagi, Beib.

Dedicated to: Para Beib sedunia..dan my Best friends: AN

Cerpen ini pernah dimuat di Kompas.com 2011

Leave a Reply